Featured Video

Selamat Datang Di Kaligrafiqu.com Kaligrafi Gallery

Pengrajin Kaligrafi unik jarum dan Benang Satu-satunya Di indonesia.

Pusat Kerajinan Kaligrafi Unik

Jaminan Kualitas dan Harga Terbaik Kami tawarkan untuk anda.

Murni kerajinan Tangan

Seluruh proses pembuatan kaligrafi kami dikerjakan dengan murni kerajinan tangan (pure hand made) agar nilai seni dan kualitas produk kami terjamin yang terbaik.

menerima pesanan segala macam bentuk dan model Kaligrafi Sesuai Keinginan Anda

anda punya model dan keinginan hiasan kaligrafi sesuai keinginan??? kami siap merealisasikannya.

Berbelanja dan Bershadaqoh bersama kami

setiap 10% hasil penjualan kami sumbangkan untuk pembangunan Masjid dan kaum Dhuafa.

Tampilkan postingan dengan label Kisah Muallaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Muallaf. Tampilkan semua postingan

Yulio Muslim da Costa, Mantan Asisten Pastor Kini Hafal 30 Juz Al-Qur’an

J'art Kaligrafi Gallery Pengrajin kaligrafi kaligrafi unik,kaligrafi jarum,kaligrafi islam

kisahmuallaf.com – ‘’Man Jadda Wajada.’’ (Barangsiapa bersungguh-sungguh, pastilah ia akan berhasil). Ungkapan seorang bijak yang biasa dihafal kalangan santri itu rupanya benar-benar diamalkan oleh Yulio Muslim da Costa, seorang mualaf asal Tmor Timur. Berkat kesungguhannya, ia mampu menghafal Alquran sebanyak 30 juz.
Sebelum memeluk Islam, ia bernama Yulio da Costa Freitas. Yulio terlahir dari keluarga yang amat sangat sederhana, 33 tahun silam, tepatnya 5 Januari 1977 di dusun Baruwali, Lautem, Timor-Timur. Awalnya, ia adalah seorang penganut agama Katholik yang terbilang aktif dalam aktivitas kegerejaannya.
Selain taat dengan keyakinannya, ia juga dipercaya sebagai pembantu pastor dalam setiap kegiatan rutinitas gereja, terutama dalam setiap acara misa mingguan. Seiring waktu, keimanannya mulai goyah. Setelah tiga tahun membantu pastor di gereja, Yulio mengaku sering mendengar bisikan di antara teman-temannya yang ragu akan kebenaran agama yang dipeluknya.
Terlebih, sanak saudaranya sudah banyak yang memeluk Islam. Hati Yulio pun semakin gundah. Perlahan-lahan keyakinannya terhadap agama Katholik yang dianutnya mulai meluntur. Ia pun mulai melirik agama Islam. Acara siraman rohani agama Islam yang ditayangkan televisi nasional mulai membetot perhatiannya.
Jalan menuju Islam akhirnya terbuka. Suatu hari, Ustaz Zakaria Fernandes, salah satu pamannya yang menjadi dai di Lautem mulai mendekati dan mengajaknya untuk masuk Islam. Yulio pun tertarik dengan ajakan sang paman. Terlebih, dengan masuk Islam, ia memiliki kesempatan untuk bersekolah di pulau Jawa.
Tekadnya untuk memeluk Islam sempat terbentur keluarga. Kedua orangtua dan sebagian keluarganya, menentang niat Yulio untuk pindah agama. Namun, halangan itu tak menyurutkan tekad bulatnya untuk menjadi seorang Muslim. Keseriusannya untuk berpindah akidah akhirnya mendapat restu dari kedua orangtuanya.
Sebelum Yulio mengucapkan dua kalimah syahadat, jumlah pemeluk Islam di kampung halamannya masih bisa dihitung jari. Ia mengaku pernah menyaksikan, perayaan Idul Fitri di kampungnya hanya diikuti tak lebih dari 20 orang. Berjudi, berdansa, meminum sopi (minuman keras), dan memakan daging babi merupakan kebiasaan non-Muslim di kampung halamannya.
Yulio akhirnya hijrah dari tanah kelahiran dan agama yang dulu dianutnya. Ia bersama Ustaz Zakaria berangkat ke kota Dili, ibu kota Timor Leste sekarang. Sebelumnya, mereka sempat singgah di kota Bau Kau. Di kota itulah, Yulio masuk Islam dan mengucap dua kalimah syahadat di depan Ustaz Zakaria.
Peristiwa penting bagi kehidupan Yulio itu terjadi pada 28 Juni 1993, beberapa saat sebelum waktu Maghrib tiba. Sejak itu, ia hanya ingin dipanggil dengan nama Muslim, karena namanya telah berubah dari Yulio da Costa Freitas menjadi Yulio Muslim da Costa.
Setelah menjadi Muslim, ia sempat bertanya kepada sang paman apa yang harus dilakukan di awal keislamannya? Sang paman pun hanya berujar singkat agar Muslim tak terbebani, ‘’Ikuti saja apa pun yang imam lakukan dalam shalat.’’
Sejak saat itu, Muslim selalu mengikuti setiap gerakan yang dilakukan imam, bahkan di saat shalat dan imam selesai dan sang imam berzikir sambil menggerak-gerakkan bibirnya. ‘’Padahal, saat itu saya tak tahu apa yang diikuti itu. Terkadang kalau mengingat kenangan itu, saya selalu menertawakan diri sendiri,’’ tuturnya sembari tersenyum.
Sebelum berangkat ke Pulau Jawa, hampir dua pekan lamanya ia tinggal di Kota Dilli. Muslim mengaku sempat gelisah karena temen-temennya dari Kabupaten Moro mulai berdatangan. Belum ada satupun yang tahu di antara mereka, kalau dirinya telah pindah keyakinan.
Untuk menutupinya, ia berusaha bersikap biasa terhadap mereka. Bahkan karena ajakan temen-temennya, ia sempat tergoda kembali untuk melakukan judi. Satu hari sebelum keberangkatan ke Pulau Jawa pun, ia masih sempat bermain judi di Pasar Bekora, sampai sedikit bekal dari keluarganya pun habis. Akhirnya Muslim pun berbohong, dan mengaku kecopetan.
Kapal Kalimutu membawanya ke Pulau Jawa. Ia lalu tinggal di salah satu Pondok Pesantren Paciran Lamongan Jawa Timur, tempat Ustaz Zakaria pernah menimba ilmu beberapa tahun yang lalu. Di Paciran, Muslim sempat menimba ilmu sambil menunggu jemputan dari Pondok Pesantren Taruna Alquran Yogyakarta pimpinan KH Umar Budihargo.
Setibanya di Pondok Pesantren Taruna Alquran Yogyakarta, Muslim mengisi hari-harinya dengan mempelajari agama Islam. Berbekal semangat tinggi, ia akhirnya mampu membaca tulisan Arab. Hanya dalam hitungan tiga pekan, Muslim sudah menamatkan buku Iqra. Setelah bisa membaca tulisan Arab, sedikit demi sedikit, ia mulai menghafal surat-surat pendek.
Ketekunannya menghafal Alquran berbuah manis. Selama di pesantren itu, ia mampu menghalaf sembilan juz Alquran. Melihat semangat Muslim yang begitu tinggi, KH Umar Budihargo mengirimnya ke salah satu pondok pesantren khusus tahfiz selama enam bulan.
Sekembalinya dari pondok tahfiz, Muslim mengikuti ujian SMP dan dia lulus dengan hasil yang memuaskan. Sering kali dalam shalat-shalat malam, Muslim menangis mensyukuri hidayah Allah. Ia juga kadang sering berdoa meminta kepada Allah agar tetap istiqamah untuk belajar agama Islam lebih mendalam lagi.
Doanya terkabul. Muslim menjadi salah satu santri yang ditunjuk untuk mengikuti tes seleksi melanjutkan studi ke kota Nabi SAW, yaitu Madinah al-Munawarah. Tanpa sengaja, Muslim sempat bertemu dan berbincang-bincang langsung dengan salah satu syekh penguji dari Madinah. Bermodalkan bahasa Arab sebisanya, Muslim memberanikan diri menceritakan sebagian dari kisah hidupnya.
Sang Syekh sangat tertarik dengan cerita kehidupan dan kemualafannya. Ulama dari Madinah itu meminta Muslim untuk membawa ijazah dan ingin mengujinya langsung. Sembari menunggu pengumuman hasil tes penerimaan dari Madihah, KH Umar Budihargo memberi amanah kepada Muslim untuk memegang pondok di Gunung Kidul, Karangmojo, Yogjakarta pada 1997.
Setahun kemudian, pengumuman hasil tes itu keluar. Ia menjadi salah seorang peserta yang terpilih untuk menimba ilmu di kota Madinah. Pada Ramadhan tahun 1999, ia sempat pulang ke Tanah Air. Ia bermaksud untuk mengajak kedua orangtua dan adik-adiknya untuk memeluk Islam.
Saat itu – pascareferendum — keluarganya sedang mengungsi di Kupang, NTT. Muslim pun bertemu dengan keluarganya, dan ia menyampaikan ajakannya itu. Namun, hidayah hanya milik Allah SWT. Saat itu, keluarganya belum merespons dakwahnya untuk memeluk Islam.
Ia akhirnya kembali ke Madinah dengan hati yang sedikit kecewa. Meski begitu, Muslim tak pernah berhenti berdoa agar keluarganya segera dibukakan pintu hatinya untuk menerima Islam. Doanya akhirnya dikabulkan. Pada 2003, keluarganya berkunjung ke Yogyakarta dan pada pertengahan tahu itu pula, kedua orangtua dan empat adiknya bersyahadat dan memeluk Islam.
Yulio Muslim da Costa tak pernah berhenti bersyukur. Hidayah Allah SWT yang menuntunnya menjadi seorang Muslim menjadi berkah bagi kehidupannya. Ia mengaku begitu besar nikmat yang diberikan Sang Khalik kepada dirinya setelah memeluk Islam. Salah satu nikmat yang dirasakannya adalah pemahaman ilmu agama Islam.
Tujuh tahun lamanya Muslim menimba ilmu di kota Rasullullah SAW. Dari 1998 hingga 2005, ia akhirnya menjadi sarjana Syariah. Ilmu itu digunakannya sebagai modal dan bekal dakwah Islam. Bahkan, sampai saat ini ia selalu aktif mengkader anak-anak dari kampungnya untuk disekolahkan di pesantren di daerah Jawa dan sekitarnya dan mengajak orang-orang untuk masuk dalam agama Islam.
Setelah menyelesaikan studinya, Muslim memilih untuk berjuang bersama orang-orang Islam di bumi pertiwi, karena orang-orang Islam Indonesia memiliki semangat juang yang tinggi. Muslim kembali ke Yogyakarta dan dipercaya KH Umar Budihargo untuk memegang Pondok Tahfiz Putra dan Taklim bahasa Arab yang berada di Gunung Sempu, Kasihan, Bantul, DIY.
Lika-liku kehidupannya yang berawal dari nol sampai sekarang telah membuatnya belajar banyak hal. Selama 13 tahun meniti hidup di kota Gudeg, ia selalu dipertemukan Allah SWT dengan kawan-kawan yang berjuang di jalan Allah.
Sampai akhirnya, dengan berniat karena Allah semata, Muslim pun berhijrah dengan mencari suasana baru di kota Bogor, tepatnya Ciawi, beserta keluarga yang selalu mendukung setiap langkah beliau sampai sekarang. Pada 2006, Muslim diberi amanah dan kepercayaan oleh Yayasan Bina Duta Madani untuk memegang Pondok Tahfiz Putra dan Studi Bahasa Arab di Pondok Pesantren Bina Madani Bogor Jawa Barat.
Pesantren ini bertujuan mencetak para hafiz yang mengamalkan dan mendakwahkan ilmunya. Muslim selalu berdoa semoga Allah senantiasa memberikan keistiqamahan dalam agama Islam, dan diberikan sebaik-baik penerus yang bermanfaat. Saat ini, ia telah dikaruniai tiga orang putera, yaitu Yasir Muslim Dacosta, Ayub Muslim Dacosta dan Saad Muslim Dacosta.

David Sanford Scherer, Gema Takbir & Adzan Menuntunku kepada Islam

J'art Kaligrafi Gallery Pengrajin kaligrafi kaligrafi unik,kaligrafi jarum,kaligrafi islam



kisahmuallaf.com – Gema takbir yang menggema di malam Idul Fitri — sekitar 17 tahun silam — telah menggetarkan hati David Sanford Scherer. Kalimah yang mengagungkan Sang Khalik itu membuatnya merinding. Cahaya iman pun menyala dalam hatinya. Seketika itu pula, pria kelahiran Yokohama, Jepang itu memutuskan untuk memeluk Islam.
‘’Langsung saya bilang mau masuk Islam. Alhamdulillah, di malam takbiran itu, saya memeluk Islam,’’ ujar ayah dua anak itu berkisah kepada wartawan Republika, Damanhuri Zuhri.
Tak hanya gema takbir yang membuat David memeluk Islam. Suara azan yang berkumandang setiap lima kali dalam sehari juga telah menjadi pembuka pintu hidayah. Pengusaha makanan di Pulau Dewata itu mengaku selalu merinding setiap kali mendengar takbir di malam hari raya.
’’Makanya, kalau malam takbiran saya nggak di Bali. Karena di sini (Bali, red) kita nggak mendengar suara takbir. Biasanya saya ke Jakarta, mertua saya di Ciputat,’’ papar suami dari Indriani Kuntowati itu.
David hijrah ke Indonesia bersama orangtuanya pada tahun 1980-an. Kedua orangtuanya mencoba berbagai usaha, hingga akhirnya menetap di kawasan Menteng Dalam. Seperti halnya, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, David pun mulai mengenal puasa, shalat, serta takbir dari lingkungan Menteng Dalam.
Ia sungguh amat bersyukur. Betapa tidak. Ia telah menjadi seorang Muslim. Menurut David, umumnya orang Indonesia terlahir dalam keadaan sebagai seorang Muslim. Namun, kata dia, muallaf umumnya lebih cepat memahami, menjiwai, serta 100 persen mengamalkan ajaran Islam.
‘’Itu, karena mereka (muallaf, red) mengetahui bahwa Islam adalah agama terbaik,’’ ungkap mantan pengurus Yayasan Dyatmika Sekar Bawana itu. Menurut David, untuk dapat menjalankan ajaran Islam dengan baik, para orangtua Muslim harus menjadi contoh dan teladan bagi anak-anaknya.
Seringkali, papar David, orangtua menyuruh anak-anaknya mengaji, sementara mereka tak melakukannya. Padahal, kata dia, contoh terbaik itu harus dimulai dari setiap orangtua di rumah. ‘’Apa saja kebaikan, harus dicontohkan orangtua, baru anak mengikutinya dengan baik.Tapi kalau cuma perintah, sedang orang tuanya tidak melakukan, itu akan sulit dilaksanakan dengan baik.’’
Sebagai seorang Muslim, David berupaya menjadi imam bagi istri dan anak-anaknya. David tak pernah henti bersyukur. Semangat menjalankan ajaran Islam yang dilakukannya telah diikuti kedua anaknya. Bahkan, anaknya telah menjadi imam shalat di mushala sekolahnya.
David bersama putranya berhasil memperjuangkan hadirnya mushala di sebuah sekolah nasional plus campuran. ‘’Alhamdulillah, sekarang di sekolah anak saya sudah ada mushala. Itu saya perjuangkan selama satu tahun,’’ tuturnya sumringah.
Pihak sekolah memberi ruangan bekas gudang untuk digunakan sebagai mushala. David pun membersihkan gudang itu dan menyulapnya menjadi tempat untuk beribadah kepada Allah SWT. ‘’Anak saya sekarang sudah menjadi imam di mushala. ‘Alhamdulillah, Allahu akbar,’’ ujar David.
Apa pendapat David tentang umat Islam di Indonesia? Secara jujur, ia mengungkapkan, sebagian besar umat Islam masih memandang seseorang dari materi dan kekuasaan. ‘’Contohnya, saya berseragam dengan memakai baju gamis, orang pikir saya ustadz. Besoknya, saya pakai celana jeans bolong-bolong, saya ucapkan Assalamu’alaikum, mereka nggak mau jawab. Naif sekali.’’
Selain itu, David juga menyayangkan masih banyak umat Islam di Indonesia yang belum mampu memahami dan mengamalkan tuntunan Alquran. ‘’Maaf-maaf kata, berangkat haji dengan uang nggak bersih saja, tak malu,’’ cetusnya.
Ia merasa optimistis, Bali bisa menjadi jendela bagi Islam Indonesia ke dunia. Salah satu contoh, kata David, jamaah shalat subuh Masjid Baitul Makmur di Denpasar seperti shalat Jumat. Bisa jadi, papar dia, itu karena muslim di Bali masih minoritas.
‘’Kalau suatu hari kita jadi mayoritas. Apakah itu akan kendur? Mengapa rumah ibadah di Jawa banyak? Orang berlomba-lomba untuk membuat rumah ibadah, subuh ada jamaahnya tidak? atau hanya takmir masjid saja dua sampai tiga orang?,’’ ucap David.
Menurut dia, bukanlah sesuatu yang mustahil, kelak Bali akan menjadi jendela Islam Indonesia bagi dunia. Asalkan, papar dia, setiap Muslim mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, tanpa menimbulkan ketersinggungan di kalangan orang-orang di sekitarnya.
Lantas, apa kesannya terhadap peristiwa Bom Bali? Ketika peristiwa Bom Bali terjadi, David mengaku merasakan sedih luar biasa. ‘’Empat hari saya di kamar jenazah. Sampai mobil pendingin saya pinjamkan untuk menyimpan jenazah. Orang pada waktu itu bilang, ‘Wah pak, nanti mobilnya bawa sial!’ Wallahu ‘alam saya bilang waktu itu. Yang penting saya ingin menolong.”
Dalam pandangannya, peristiwa Bom Bali merupakan kejadian yang sangat berat. ‘’Kejadian itu benar-benar sangat berat. Tapi berkat gotong royong di Bali, Alhamdulillah lancar. kalau saya pribadi tidak seratus persen berkeyakinan bahwa itu dikerjakan kelompok Islam yang fanatik atau radikal. Tapi itu lebih pada upaya menggoyang ekonomi di sini yang cukup mapan,’’ ungkap David.
Ada kebiasaan menarik yang dilakukan David Scherer dan teman-temannya di Bali. Warga asal Amerika Serikat (AS) yang sejak 17 tahun lalu memeluk Islam itu, saban Jumat mengunjungi sejumlah masjid yang ada di Denpasar secara bergantian. Tak hanya bersilaturahim, ia berbagi dengan para jamaah shalat Jumat dengan membagikan nasi bungkus.
’’Alhamdulillah, sejak satu tahun lalu secara rutin saya dan kawan-kawan mengunjungi dan bersilaturahim ke masjid-masjid di Denpasar. Tak hanya itu, dalam setiap kali kunjungan, saya selalu membawa dan membagikan ratusan nasi bungkus buat jamaah shalat Jumat,’’ papar David.
Apa yang mendorong David dan teman-temannya di Denpasar sangat semangat berbagi makanan usai shalat Jumat? Menurut David, berdasarkan pengalamannya, seusai Jumatan banyak orang yang terburu-buru meninggalkan masjid untuk mendapatkan makan siang.
Alasannya, kata dia, jam istirahatnya baik dari kantor swasta maupun negeri, tidak terlalu panjang. Akibatnya, lanjut David, banyak jamaah salat Jumat yang terburu-buru keluar masjid untuk makan siang, dan tidak sempat lagi bersilaturahim sesama jamaah.
Nah, David dan kawan-kawannya berusaha memotong alasan untuk segera mendapatkan makan siang itu dengan cara mengantarkan nasi ke masjid. ”Sekarang nasinya saya bawa ke masjid. Akhirnya, mereka nggak usah buru-buru lagi meninggalkan masjid. Kita bisa silaturahim sambil menikmati makan siang,” ungkap David penuh bahagia.
Berapa lama David dan kawan-kawan bisa mengelilingi seluruh masjid di Denpasar yang jumlahnya tak kurang dari 200 masjid? ”Kira-kira saya membutuhkan waktu selama empat tahu barun untuk bisa mengunjungi seluruh masjid di Denpasar, itu pun dengan syarat setiap Jumat saya harus terus keliling. Sedangkan untuk bisa mengeliling seluruh masjid di Bali, saya membutuhkan waktu selama delapan tahun.”
Ia merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa atas apa yang ia lakukan bersama-sama temannya itu.

Abd Al-Malik, Kisah Musisi Rapper Prancis yang Bersyahadat di Jalanan

J'art Kaligrafi Gallery Pengrajin kaligrafi kaligrafi unik,kaligrafi jarum,kaligrafi islam


kisahmuallaf.com – Menjadi penjahat yang lihai mencuri mobil dan mengedarkan narkoba, Abd al-Malik bisa saja tak punya masa depan. Beruntung ia memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar, yang menghadiahinya nilai-nilai terbaik di sekolah dan membawanya pada sebuah pencarian spiritual.
Sebagai seorang rapper, di awal keislamannya, Abd al-Malik sempat kalut saat mendengar Islam tak sejalan dengan seni musik yang dipilihnya. Dalam otobiografinya yang berjudul Sufi Rapper (2009), Abd al-Malik mengatakan budaya rap Prancis lahir dalam konteks rasisme dan xenofobia (ketakutan berlebihan pada orang asing) yang meluas.
Ia hidup di sebuah ghetto (lingkungan tempat tinggal para kaum imigran minoritas) di Prancis. “Saat aku masih sekolah, aku sering melihat politisi berkata ‘Kita semua adalah Prancis,’ tapi aku tak pernah melihat seorang pria kulit hitam pun di televisi. Tak ada politisi Prancis yang berkulit hitam,” katanya.
Ia masih ingat betapa ia mengecam kurangnya kesempatan bagi anak-anak imigran, juga iklim kemiskinan dan kejahatan di tempat tinggalnya. Hal itu semakin diperparah diskriminasi yang terjadi dalam berbagai hal, juga pelecehan yang dilakukan para polisi. Karena itu, ketika mulai populer pada 1990-an, musik rap dikritisi sebagai seni yang mengagungkan kekerasan dan mempertinggi ketegangan rasial.
***
Sebelum memeluk Islam, ia bernama Regis. Dilahirkan di Paris pada 14 Maret 1975 dengan nama Régis Fayette-Mikano . Pada 1977, Regis kecil yang berdarah Kongo dibawa orang tuanya kembali ke negara asalnya dan tinggal di Brazzaville (ibukota sekaligus kota terbesar di Republik Kongo). Régis menghabiskan masa kecilnya di sana, sebelum akhirnya ia dan keluarganya kembali ke Prancis dan menetap di distrik ghetto bernama Neuhof (selatan Kota Strasbourg) pada 1981.
Saat Regis memasuki usia remaja, ayahnya pergi meninggalkan rumah. Sejak itu, ibunya harus berjuang seorang diri membesarkan dan mendidik Regis orang anaknya. Dan sejak itu pula, Regis mulai tumbuh menjadi penjahat kecil.
Di lingkungan barunya yang keras, tanpa sosok ayah, Regis belajar memenuhi keterbatasan dan kekurangan yang didapatinya di rumah. Dari kejahatan-kejahatan kecil yang dilakukannya, ia terus tumbuh menjadi penjahat yang berhasil membangun dominasi bersama beberapa temannya.
Ia menjambret dan mencuri mobil, demi untuk menghasilkan uang yang tidak bisa diperolehnya dari rumah. Dalam kondisi itu, Regis menjalani tiga peran kehidupan sekaligus. Ia adalah seorang seorang anak yang berjuang mempertahankan hidup keluarganya, siswa yang berprestasi di sekolah, serta penjahat jalanan yang lihai.
Regis pun memilih musik rap untuk menyalurkan frustasinya, juga bercerita dan menyampaikan kritik sosial atas semua yang dialaminya. Terinspirasi rap Amerika pada tahun 1980-an, Abd al-Malik bergabung dengan saudara dan sekelompok temannya dan menciptakan New African Poets, disingkat NAP.
Di tengah kekritisannya, Régis terpikat pada gerakan Black Power dan mengidolakan Malcolm X sebagai seorang pahlawan Muslim kulit hitam yang telah berani menentang ketidakadilan. Baginya dan sejumlah pemuda imigran di Prancis kala itu, Islam menawarkan sebuah identitas yang menantang.
Pengetahuan tentang Islam diperolehnya dari para dai Islam yang berceramah di jalan-jalan. Pada usianya yang ke-16, Regis memutuskan memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Abd al Malik. Selama beberapa tahun setelahnya, bersama para Muslim tersebut, ia berkeliling Prancis untuk menyeru pria-pria muda agar pergi ke masjid, menumbuhkan dan memanjangkan jenggot, serta berhenti meminum alkohol dan mengkonsumsi narkoba.
Beberapa lama terlibat, Abd al Malik melihat ajaran yang populer di ghetto-ghetto Prancis itu bukan sesuatu yang secara eksplisit keras. Namun, katanya dalam Sufi Rapper, ajaran tersebut secara fanatik mendorong para imigran muda untuk mencerca segala sesuatu yang sekular, modern, dan kebarat-baratan. “Dan itu justru memperdalam rasa keterasingan kami,” ujarnya.
Di situlah ia kembali menemukan gejolak dalam batinnya. Sebagai remaja, Abd al Malik merasakan ketulusan dan semangatnya pada Islam sama besarnya dengan hasratnya pada rap, sebuah seni yang harus ia cerca dan jauhi. “Karena rap adalah musik modern, dan ia kebarat-baratan.”
Abd al Malik terjebak dalam paradoks itu hingga beberapa tahun. “Itu menyakitkan,” katanya. Perasaan sakit itu semakin menjadi karena ia membiayai musiknya dengan melakukan kejahatan dan menjadi pengedar narkoba. “Perbuatan-perbuatan itu sangat tidak agamis.”
Hingga pada akhirnya, suatu hari, Abd al Malik pergi ke seorang pemimpin penjahat lokal dan meminta pinjaman. Setelah itu, sambil memegang sebuah kantong sampah penuh uang, Abd al Malik terduduk dan menangis seorang diri di apartemennya.
***
Kekacauan batin itu mendorongnya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang keimanannya. Dalam pencarian itu, ia memperoleh jawaban dari tasawuf, cabang sufisme Islam yang kontemplatif.
Ia menemui seorang guru spiritual dari Afrika Utara yang mengajarkannya bahwa inti agama adalah cinta dan kesadaran akan sifat rohani setiap manusia. “Maka, Islam adalah agama cinta. Islam adalah berdamai dengan dirimu dan orang lain,” katanya.
Ia sampai pada satu kesimpulan, bahwa memposisikan Islam sebagai agama kelompok minoritas sama dengan menjadi minoritas dalam Islam itu sendiri. “Dan itu bukanlah Islam yang sesungguhnya.”
Pergeseran pola pikir itu memperluas pandangan Abd al Malik tentang musik rap dan perannya melalui seni tersebut. Ia mulai menulis lagu untuk album solonya, dengan mengusung pesan yang menyerukan pemahaman antar ras. Salah satu lagunya, “12 September 2001,” adalah permohonan untuk memisahkan politik dan agama. Sebuah lagu lainnya, “God Bless France,” menggambarkan evolusi pribadinya dari kebencian pada patriotisme.
Dalam otobiografinya, Abd al Malik menuliskan bahwa dalam musiknya, ia hanya berupaya menerjemahkan bahasa hati. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan rap keras dan mulai berkolaborasi dengan berbagai musisi untuk mengembangkan sebuah suara baru yang mencampurkan musik jaz, nyanyian, dan puisi kecaman yang estetis.
Ketika para rapper lain terus menciptakan ‘musik amarah’ dan–beberapa diantaranya–dituduh menghasut kekerasan, Abd al Malik tetap dengan pilihannya. Alih-alih mengkritik sistem Prancis, Abd al Malik mendorong negaranya untuk hidup sesuai dengan cita-cita demokrasi. Melalui musiknya yang telah meraih berbagai penghargaan, ia menunjukkan bahwa Muslim tak harus menjauhi hal-hal modern. “Terlebih jika kita bisa berbuat sesuatu dengan itu.”

Michelle Ashfaq, Jatuh Cinta pada Kesederhanaan Islam

J'art Kaligrafi Gallery Pengrajin kaligrafi kaligrafi unik,kaligrafi jarum,kaligrafi islam


kisahmuallaf.com – Sejak kecil Michelle Ashfaq bercita-cita menjadi seorang biarawati. Saat masih kecil, ia menghadiri sebuah kelas pelajaran agama Katolik. Dari situ, ia mendapatkan pelajaran mengenai kisah-kisah para nabi. Ia sangat tertarik, apalagi dengan kisah Nabi Isa AS.
Seiring waktu, wanita yang dibesarkan di kota kecil bersama sang kakek dan nenek di barat daya Virginia, Amerika Serikat (AS) pernah mengalami kegalauan hidup. Selain dibesarkan sebagai seorang Katolik, ia juga menghadiri gereja Baptis bersama kakek-neneknya. Ia memiliki dua tempat beribadah.
Suatu perubahan terjadi saat Michelle menginjak usia yang ke-17. Ia pergi ke gereja dan tiba-tiba ia tidak diizinkan masuk ke tempat itu. Michelle merasa bingung karena tidak diizinkan untuk masuk dan beribadah. Sementara itu, ia tak mengenal agama lain. Kehidupan beragama yang ia tahu hanyalah pergi ke gereja.
Hingga akhirnya, wanita asal New York itu mengenal Islam dari suaminya. Ia tak pernah membayangkan hidup tanpa sang suami. Hampir setahun ia bingung kemana harus beribadah setelah tidak diizinkan untuk ke gereja, padahal ia merasa sangat menyukai Gereja.
Suaminya adalah orang yang membimbingnya saat ia merasa tak tahu apa-apa soal ibadah. Sang suami dengan sabar mengajarkan Michelle akhlak Islam, bahkan ketika ia belum menjadi mualaf. ”Ia mencontohkan saya banyak hal, kemudian saya mulai membaca buku-buku Islam yang dikirim dari Pakistan oleh mertua,” ujarnya seperti dikutip onislam.net. Sejak itu, ia mulai merasakan apa itu Islam.
Kesederhanaan Islam membuatnya tertarik untuk mulai belajar. Ia bisa membaca sebuah kitab suci dan mengerti isinya. Sangat berbeda ketika ia masih memeluk agamanya yang dulu. Ia mengungkapkan, ketika masih Katolik, ia tak memahami alkitab. ”Saya bahkan tak tahu apa yang saya baca,” ungkapnya.
Saat itu, ia hanya mendengarkan pastor melalui ceramah. Sementara ia harus mencerna apa yang dikatakan pastor, ia memiliki banyak pertanyaan tentang iman dan nilai-nilai ketuhanan. Pertanyaan mendasar yang selalu ada dibenaknya saat masih Katolik adalah ia harus melakukan pengakuan dosa. Ia selalu bertanya untuk apa semua pengakuan itu. Baginya aneh harus mengaku dosa ke seorang pastor. Michelle muda bertanya dalam hati, ”Tidakkah ia bisa melakukan pengakuan dosa langsung kepada Tuhan?”
Pertanyaan lain yang cukup mengusiknya adalah jika umat Nasrani tidak meyakini Yesus sebagai penyelamat, bagaimana dengan nasib umat nabi Ibrahim? Bagaimana dengan orang-orang yang mengikutinya sebelum Yesus datang, padahal Ibrahim adalah nabi yang memiliki banyak pengikut. Namun, gejolak pertanyaan itu tak pernah bisa terjawab. Semua itu membuatnya frustasi.
Kesederhanaan Islam membuatnya cepat memahami Alquran dan masuk Islam. ”Saya bisa mengerti apa yang saya baca,” ujar dia. Dari kitab suci itu, ia bisa mendapatkan semua jawaban atas pertanyaan yang ada.
”Jika Anda memiliki pertanyaan ketika Anda mulai membaca Alquran dan entah bagaimana saat membuka lembaran mushafnya, semua jawabannya sudah ada.” Ia mengungkapkan Islam adalah agama yang mengobati semua penyakit hati.
Bagi Michelle, menemukan Islam adalah sebuah perdamaian yang tak terkira. Baginya, Islam telah membuat perbedaan yang paling luar biasa dalam hidup. Ia bahkan tak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan betapa ia bersyukur bisa mendapat hidayah untuk memeluk agama yang penuh kedamaian ini.
”Hubungan saya dengan Allah SWT tak bisa digambarkan.” Kini, setelah berproses, ia menjadi guru pertama sebuah Akademi Islam di Charlotte, Carolina Utara.
Baginya, belajar tentang Islam adalah seperti belajar bagaimana cara hidup sebagai manusia. ”Apapun pertanyaan yang dimiliki, semua sudah ada dalam Alquran dan hadis nabi. Bagaimana menghadapi masalah sehari-hari yang tidak dapat ditemukan dalam agama lain. Shalat baginya merupakan ibadah yang membuatnya tetap fokus.
”Agar dosa kita diampuni, kita harus melakukan shalat, untuk berpikir tentang orang-orang miskin kita berpuasa,” ujarnya.