Featured Video

Selamat Datang Di Kaligrafiqu.com Kaligrafi Gallery

Pengrajin Kaligrafi unik jarum dan Benang Satu-satunya Di indonesia.

Pusat Kerajinan Kaligrafi Unik

Jaminan Kualitas dan Harga Terbaik Kami tawarkan untuk anda.

Murni kerajinan Tangan

Seluruh proses pembuatan kaligrafi kami dikerjakan dengan murni kerajinan tangan (pure hand made) agar nilai seni dan kualitas produk kami terjamin yang terbaik.

menerima pesanan segala macam bentuk dan model Kaligrafi Sesuai Keinginan Anda

anda punya model dan keinginan hiasan kaligrafi sesuai keinginan??? kami siap merealisasikannya.

Berbelanja dan Bershadaqoh bersama kami

setiap 10% hasil penjualan kami sumbangkan untuk pembangunan Masjid dan kaum Dhuafa.

Tampilkan postingan dengan label kisah sahabat nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah sahabat nabi. Tampilkan semua postingan

Kisah Dan Biografi Sahabat Rosulullah SAW : USTMAN BIN AFFAN

J'art Kaligrafi Gallery Pengrajin kaligrafi kaligrafi unik,kaligrafi jarum,kaligrafi islam


Pada tahun pertama dari khilafah Usman bin Affan, yaitu tahun 24 Hijriah, negeri Rayyi berhasil ditaklukkan. Sebelumnya, negeri ini pernah ditaklukkan, tetapi kemudian dibatalkan. Pada tahun yang sama, berjangkit wabah demam berdarah yang menimpa banyak orang. Khalifah Usman bin Affan sendiri terkena sehingga beliau tidak dapat menunaikan ibadah haji. Pada tahun ini, Usman bin Affan mengangkat Sa'ad bin Abi Waqqash menjadi gubernur Kufah menggantikan Mughirah bin Syu'bah.
Di tahun 25 Hijriah, Usman bin Affan memecat Sa'ad bin Abi Waqqash dari jabatan gubernur Kufah dan sebagai gantinya diangkatlah Walid bin Uqbah bin Abi Mu'ith (seorang shahabi dan saudara seibu dengan Usman bin Affan). Inilah sebab pertama dituduhnya Usman bin Affan melakukan nepotisme.
Pada tahun 26 Hijriah, Usman bin Affan melakukan perluasan Masjidil Haram dengan membeli sejumlah tempat dari para pemiliknya lalu disatukan dengan masjid. Pada tahun 17 Hijriah, Mu'awiyah melancarkan serangan ke Qubrus (Siprus) dengan membawa pasukannya menyeberangi lautan. Di antara pasukan ini terdapat Ubadah bin Shamit dan istrinya, Ummu Haram binti Milhan al-Ansharish. Dalam perjalanan, Ummu Haram jatuh dari kendaraannya kemudian syahid dan dikuburkan di sana. Nabi saw pernah memberi-tahukan kepada Ummu Haram tentang pasukan ini, seraya berdoa agar Ummu Haram menjadi salah seorang dari anggota pasukan ini. Pada tahun ini, Usman bin Affan menurunkan Amru bin Ash dari jabatan gubernur Mesir dan sebagai gantinya diangkatlah Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh. Dia kemudian menyerbu Afrika dan berhasil menaklukkannya dengan mudah. Di tahun ini pula, Andalusia berhasil ditaklukkan.
Tahun 29 Hijriah, negeri-negeri lain berhasil ditaklukkan. Pada tahun ini, Usman bin Affan memperluas masjid Madinah al- Munawarah dan membangunnya dengan batu-batu berukir. Ia membuat tiangnya dari batu dan atapnya dari kayu (tatal). Panjangnya 160 depa dan luasnya 150 depa.
Negeri-negeri Khurasan ditaklukkan pada tahun ke-30 Hijriah sehingga banyak terkumpul kharaj (infaq penghasilan) dan harta dari berbagai penjuru. Allah memberikan karunia yang melimpah dari semua negeri kepada kaum Muslimin.
Pada tahun 32 Hijriah, Abbas bin Abdul Muththalib, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Mas'ud, dan Abu Darda' wafat. Orang -orang yang pernah menjabat sebagai hakim negeri Syam sampai saat itu ialah Mu'awiyah, Abu Dzarr bin Jundab bin Junadah al-Ghiffari, dan Zaid bin Abdullah. Pada tahun ke-33 Hijriah, Abdullah bin Mas'ud bin Abi Sarh menyerbu Habasyah.
Seperti diketahui, Usman bin Affan mengangkat para kerabatnya dari bani Umaiyyah menduduki berbagai jabatan. Kebijakan ini mengakibatkan dipecatnya sejumlah sahabat dari berbagai jabatan mereka dan digantikan oleh orang yang diutamakan-nya dari kerabatnya. Kebijakan ini mengakibatkan rasa tidak senang banyak orang terhadap Usman bin Affan. Hal inilah yang dijadikan pemicu dan sandaran oleh orang Yahudi yaitu Abdullah bin Saba' dan teman-temannya untuk membangkitkan fitnah.

Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa penduduk Kufah umumnya melakukan pemberontakan dan konspirasi terhadap Sa'id ibnul Ash, pemimpin Kufah. Mereka kemudian mengirim utusan kepada Usman bin Affan guna menggugat kebijakannya dan alasan pemecatan sejumlah orang dari bani Umayyah. Dalam pertemuan ini, utusan tersebut berbicara kepada Usman bin Affan dengan bahasa yang kasar sekali sehingga membuat dadanya sesak. Beliau lalu memanggil semua pimpinan pasukan untuk dimintai pendapatnya.
Akhirnya, berkumpullah di hadapannya, Mu'awiyah bin Abu Sufyan (pemimpin negeri Syam), Amr ibnul Ash (pemimpin negeri Mesir), Abduliah bin Sa'ad bin Abi Sarh (pemimpin negeri Maghrib), Sa'id ibnul Ash (pemimpin negeri Kufah), dan Abdullah bin Amir (pemimpin negeri Bashrah). Kepada mereka, Usman bin Affan meminta pandangan mengenai peristiwa yang terjadi dan perpecahan yang muncul.... Masing-masing dari mereka kemudian mengemukakan pendapat dan pandangannya. Setelah mendengar berbagai pandangan dan mendiskusikannya, akhirnya Usman bin Affan memutuskan untuk tidak melakukan penggantian para gubernur dan pembantunya. Kepada masing-masing mereka, Usman bin Affan memerintahkan agar menjinakkan hati para pemberontak dan pembangkang tersebut dengan memberi harta dan mengirim mereka ke medan peperangan lain dan pos-pos perbatasan.
Setelah peristiwa ini, di Mesir muncul satu kelompok dari anak-anak para sahabat. Mereka menggerakkan massa untuk menentang Usman bin Affan dan menggugat sebagian besar tindakannya. Kelompok ini melakukan tindakan tersebut tentu setelah Abdullah bin Saba' berhasil menyebarkan kerusakan dan fitnah di Mesir. Ia berhasil menghasut sekitar enam ratus orang untuk berangkat ke Madinah dengan berkedok melakukan ibadah umrah, namun sebenarnya mereka bertujuan menyebarkan fitnah dalam masyarakat Madinah. Tatkala mereka hampir memasuki Madinah, Usman bin Affan mengutus Ali bin Abu Thalib untuk menemui mereka dan berbicara kepada mereka. Ali bin Abu Thalib kemudian berangkat menemui mereka di Juhfah. Mereka ini mengagungkan Ali bin Abu Thalib dengan sangat berlebihan, karena Abdullah bin Saba' telah berhasil mempermainkan akal pikiran mereka dengan berbagai khurafat dan penyimpangan. Setelah Ali bin Abu Thalib membantah semua penyimpangan pemikiran yang sesat itu, mereka menyesali diri seraya berkata, "Orang inikah yang kalian jadikan sebagai sebab dan dalih untuk memerangi dan memprotes Khalifah (Usman bin Affan)?" Mereka kemudian kembali dengan membawa kegagalan.
Ketika menghadap Usman bin Affan, Ali bin Abu Thalib melaporkan kepulangan mereka dan mengusulkan agar Usman bin Affan menyampaikan pidato kepada orang banyak, guna meminta maaf atas tindakannya mengutamakan sebagian kerabatnya dan bahwa ia telah bertobat dari tindakan tersebut.
Usulan ini diterima olehnya. dan Usman bin Affan kemudian berpidato di hadapan orang banyak pada hari Jum'at. Dalam pidato ini, di antaranya Usman bin Affan mengatakan, "Ya Allah, aku memohon ampunan kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu. Ya Allah, aku adalah orang yang pertama bertobat dari apa yang telah aku lakukan."
Pernyataan ini diucapkannya sambil menangis sehingga membuat semua orang ikut menangis. Usman bin Affan kemudian menegaskan kembali, bahwa ia akan menghentikan kebijakan yang menyebabkan timbulnya protes tersebut. Ditegaskan-nya bahwa ia akan memecat Marwan dan kerabatnya.
Setelah penegasan tersebut, Marwan bin Hakam menemui Usman bin Affan. Dia menghamburkan kecaman dan protes kemudian berkata, "Andaikan ucapanmu itu engkau ucapkan pada waktu engkau masih sangat kuat, niscaya aku adalah orang yang pertama menerima dan mendukungnya, tetapi engkau mengucapkannya ketika banjir bah telah mencapai puncak gunung. Demi Allah, melakukan suatu kesalahan kemudian meminta ampunan dari-Nya adalah lebih baik daripada tobat karena takut kepada-Nya. Jika suka, engkau dapat melakukan tobat tanpa menyatakan kesalahan kami."
Marwan kemudian memberitahukan kepadanya bahwa di balik pintu ada segerombolan orang. Usman bin Affan menunjuk Marwan untuk berbicara kepada mereka sesukanya. Marwan lalu berbicara kepada mereka dengan suatu pembicaraan yang buruk, sehingga merusak apa yang selama ini diperbaiki oleh Usman bin Affan. Dalam pembicaraannya, Marwan berkata, "Kalian datang untuk merebut kerajaan dari tangan kami. Keluarlah kalian dari sisi kami. Demi Allah, jika kalian membangkang kepada kami, niscaya kalian akan menghadapi kesulitan dan tidak akan menyukai akibatnya."
Setelah mengetahui hal ini, Ali bin Abu Thalib segera datang menemui Usman bin Affan dan dengan nada marah, ia berkata, "Mengapa engkau merelakan Marwan, sementara dia tidak menghendaki kecuali memalingkan engkau dari agama dan pikiranmu! Demi Allah, Marwan adalah orang yang tidak layak dimintai pendapat tentang agama atau dirinya sekalipun. Demi Allah, aku melihat bahwa dia akan menghadirkan kamu kemudian tidak akan mengembalikan kamu lagi. Saya tidak akan kembali setelah ini karena teguran-ku kepadamu."
Setelah Ali bin Abu Thalib keluar, Na'ilah masuk menemui Usman bin Affan (ia telah mendengarkan apa yang diucapkan Ali bin Abu Thalib kepada Usman bin Affan) kemudian berkata, "Aku harus bicara atau diam!" Usman bin Affan menjawab, "Bicara lah!" Na'ilah berkata, "Aku telah mendengar ucapan Ali bin Abu Thalib bahwa dia tidak akan kembali lagi padamu, karena engkau telah menaati Marwan dalam segala apa yang dikehendakinya," Usman bin Affan berkata, "Berilah pendapatmu kepadaku." Na'ilah memberikan pendapatnya,"Bertaqwa lah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Ikutilah sunnah kedua sahabatmu yang terdahulu (Abu Bakar As Siddiq dan Umar Bin Khattab), sebab jika engkau menaati Marwan, niscaya dia akan membunuhmu. Marwan adalah orang yang tidak memiliki harga di sisi Allah, apalagi rasa takut dan cinta. Utuslah seseorang menemui Ali bin Abu Thalib guna meminta pendapatnya, karena dia memiliki kekerabatan denganmu dan dia tidak layak ditentang."
Usman bin Affan kemudian mengutus seseorang kepada Ali bin Abu Thalib, tetapi Dia menolak datang. Ali bin Abu Thalib berkata, "Aku telah memberitahukan kepadanya bahwa aku tidak akan kembali lagi. Sikap ini merupakan permulaan krisis yang menyulut api fitnah dan memberikan peluang kepada para tukang fitnah, untuk memperbanyak kayu bakarnya dan mencapai tujuan-tujuan busuk yang mereka inginkan.
Usman bin Affan menjabat sebagai khalifah selama dua belas tahun. Tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan celah untuk mendendam-nya. Beliau bahkan lebih dicintai oleh orang-orang Quraisy umumnya ketimbang Umar bin Khattab, karena Umar bin Khattab bersikap keras terhadap mereka, sedangkan Usman bin Affan bersikap lemah lembut dan selalu menjalin hubungan dengan mereka.
Akan tetapi, masyarakat mulai berubah sikap terhadapnya, tatkala ia mengutamakan kerabatnya dalam pemerintahan, sebagaimana telah kami sebutkan. Kebijakan ini dilakukan Usman bin Affan atas pertimbangan silaturrahim yang merupakan salah satu perintah Allah. Akan tetapi, kebijakan ini pada akhirnya menjadi sebab pembunuhannya.
Ibnu Asakir meriwayatkan dari az-Zuhri, ia berkata, "Aku pernah berkata kepada Sa'id bin Musayyab, 'Ceritakanlah kepadaku tentang pembunuhan Usman! Bagaimana hal ini sampai terjadi!' Ibnul Musayyab berkata, 'Usman dibunuh secara aniaya. Pembunuhnya adalah kejam dan pengkhianatnya adalah orang yang memerlukan ampunan. Ibnul Musayyab kemudian menceritakan kepada az-Zuhri tentang sebab pembunuhannya dan bagaimana hal itu dilakukan. Kami sebutkan di sini secara singkat.
Para penduduk Mesir datang mengadukan Ibnu Abi Sarh. Setelah pengaduan ini, Usman bin Affan menulis surat kepadanya yang berisikan nasihat dan peringatan terhadapnya. Akan tetapi, Abu Sarh tidak mau menerima peringatan Usman bin Affan, bahkan mengambil tindakan keras terhadap orang yang mengadukannya.
Selanjutnya, para tokoh sahabat, seperti Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, dan Aisyah mengusulkan agar Usman bin Affan memecat Ibnu Abi Sarh dan menggantinya dengan orang lain. Usman bin Affan lalu berkata kepada mereka, "Pilihlah orang yang dapat menggantikannya." Mereka mengusulkan Muhammad bin Abu Bakar. Usman bin Affan kemudian menginstruksikan hal tersebut dan mengangkatnya secara resmi. Surat keputusan ini kemudian dibawa oleh sejumlah sahabat ke Mesir. Baru tiga hari perjalanan dari Madinah, tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang pemuda hitam berkendaraan unta yang berjalan mundur maju.
Para sahabat Rasulullah itu kemudian menghentikannya seraya berkata, "Mengapa kamu ini! Kamu terlihat seperti orang yang lari atau mencari sesuatu!" Ia menjawab, "Saya adalah pembantu Amirul Mukminin yang diutus untuk menemui Gubernur Mesir." Ketika ditanya, "Utusan siapa kamu ini!" Dengan gagap dan ragu-ragu, ia kadang -kadang menjawab, "Saya pembantu Amirul Mukminin," dan kadang- kadang pula ia menjawab,"Saya pembantu Marwan." Mereka kemudian mengeluarkan sebuah surat dari barang bawaannya. Di hadapan dan disaksikan oleh para sahabat dari Anshar dan Muhajirin tersebut, Muhammad bin Abu Bakar membuka surat tersebut yang ternyata berisi, "Jika Muhammad beserta si fulan dan si fulan datang kepadamu, bunuhlah mereka dan batalkan-lah suratnya. Dan tetaplah engkau melakukan tugasmu sampai engkau menerima keputusanku. Aku menahan orang yang akan datang kepadaku mengadukan dirimu."
Akhirnya, para sahabat itu kembali ke Madinah dengan membawa surat tersebut. Mereka kemudian mengumpulkan para tokoh sahabat dan memberitahukan ihwal surat dan kisah utusan tersebut.
Peristiwa ini membuat seluruh penduduk Madinah gempar dan benci terhadap Usman bin Affan. Setelah melihat hal ini, Ali bin Abu Thalib segera memanggil beberapa tokoh sahabat, antara lain Thalhah bin UbaidillahZubair bin AwwamSa'ad bin Abu Waqqash, dan Ammar. Bersama mereka, Ali bin Abu Thalib dengan membawa surat, pembantu, dan unta tersebut, masuk menemui Usman bin Affan. Ali bin Abu Thalib bertanya kepada Usman bin Affan, "Apakah pemuda ini pembantumu?" Usman bin Affan menjawab "Ya." Ali bin Abu Thalib bertanya lagi, "Apakah unta ini untamu?" Usman bin Affan menjawab "Ya." Ali bin Abu Thalib bertanya lagi, "Apakah kamu pernah menulis surat ini?" Usman bin Affan menjawab,"Tidak." Usman bin Affan kemudian bersumpah dengan nama Allah, "Aku tidak pernah menulis surat tersebut, tidak pernah memerintahkan penulisan surat, dan tidak mengetahui ihwal surat tersebut." Ali bin Abu Thalib bertanya lagi, "Apakah stempel ini, stempel-mu?" Usman bin Affan menjawab, "Ya." Ali bin Abu Thalib bertanya lagi "Bagaimana pembantumu ini bisa keluar dengan menunggang untamu dan membawa surat yang distempel, dengan stempel-mu, sedangkan engkau tidak mengetahuinya?" Usman bin Affan kemudian bersumpah dengan nama Allah, "Aku tidak pernah menulis surat ini, tidak pernah memerintahkannya, dan tidak pernah pula mengutus pembantu ini ke Mesir."
Mereka kemudian memeriksa tulisan surat tersebut dan mengetahui bahwa surat itu ditulis oleh Marwan. Mereka lalu meminta kepada Usman bin Affan agar menyerahkan Marwan kepada mereka, tetapi Usman bin Affan tidak bersedia melakukannya, padahal Marwan saat itu berada di dalam rumahnya. Akhirnya, orang-orang keluar dari rumah Usman bin Affan dengan perasaan marah. Mereka mengetahui bahwa Usman bin Affan tidak berdusta dalam bersumpah, tetapi mereka marah karena dia tidak bersedia menyerahkan Marwan kepada mereka.
Setelah itu, tersiarlah berita tersebut di seluruh Kota Madinah, sehingga sebagian masyarakat mengepung rumah Usman bin Affan dan tidak memberikan air kepadanya. Setelah Usman bin Affan dan keluarganya merasakan kepayahan akibat terputusnya air, ia menemui mereka seraya berkata, "Adakah seseorang yang sudi memberi tahu Ali bin Abu Thalib agar memberi air kepada kami ?" Setelah mendengar berita ini, Ali bin Abu Thalib segera mengirim tiga qirbah air. Kiriman air ini pun sampai kepada Usman bin Affan melalui cara yang sulit sekali.
Pada saat itu, Ali bin Abu Thalib mendengar desas-desus tentang adanya orang yang ingin membunuh Usman bin Affan, lalu ia berkata "Yang kita inginkan darinya adalah Marwan, bukan pembunuhan Usman bin Affan." Ali bin Abu Thalib kemudian berkata kepada kedua anaknya, Hasan dan Husain, "Pergilah dengan membawa pedang kalian untuk menjaga pintu rumah Usman. Jangan biarkan seorang pun masuk kepadanya." Hal ini juga dilakukan oleh sejumlah sahabat Rasulullah saw demi menjaga Usman bin Affan. Ketika para pengacau menyerbu pintu rumah Usman bin Affan ingin masuk dan membunuhnya, mereka dihentikan oleh Hasan dan Husain serta sebagian sahabat.
Sejak itu, mereka mengepung rumah Usman bin Affan lebih ketat dan secara sembunyi-sembunyi berhasil masuk dari atap rumah. Mereka berhasil menebaskan pedang sehingga Khalifah Usman bin Affan terbunuh. Ketika mendengar berita ini, Ali bin Abu Thalib datang dengan wajah marah, seraya berkata kepada dua orang anaknya, "Bagaimana Amirul Mukminin bisa dibunuh, sedangkan kalian berdiri menjaga pintu?" Ali bin Abu Thalib  kemudian menampar Hasan dan memukul dada Husain, serta mengecam Muhammad bin Thalhah dan Abdullah bin Zubair. Demikianlah, pembunuhan Usman bin Affan merupakan pintu dari mata rantai fitnah yang terus membentang tanpa akhir.
Pertama, di antara keutamaan dan keistimewaan yang dapat dicatat pada periode pemerintahan Usman bin Affan ialah banyaknya penaklukan dan perluasan. Pada periode ini, seluruh Khurasan berhasil ditaklukkan. Demikian pula Afrika sampai Andalusia. Di samping itu, tercatat pula sejumlah prestasi mulia dan agung yang pernah dilakukan Usman bin Affan, seperti menyatukan orang dalam bacaan dan tulisan al-Qur'an yang tepercaya setelah berkembangnya berbagai bacaan yang di khawatirkan dapat membingungkan orang. Juga seperti prestasinya memperluas Masjid Nabawi di Madinah al-Munawwarah.
Tidaklah merusak kemuliaan Usman bin Affan jika dalam berbagai penaklukannya ia mempergunakan Abdullah bin Sa'id bin Abi Sarh dan orang-orang semisalnya, karena Islam menghapuskan semua dosa sebelumnya. Barangkali Ibnu Sarh dengan amal-amalnya yang mulia ini telah menghapuskan segala yang pernah dia lakukan sebelumnya. Bahkan seperti diketahui, ia tetap di jalan lurus setelah itu dan termasuk orang yang tetap baik agamanya.
Kedua, betapapun keras kritik yang dilontarkan kepada Usman bin Affan karena kebijakannya dalam memilih para gubemur dan pembantunya dari kaum kerabatnya (bani Umayyah), kita harus menyadari bahwa kebijakan tersebut merupakan ijtihad pribadinya. Usman bin Affan bahkan telah mempertahankan pendapat tersebut di hadapan sejumlah besar para sahabat. Bagaimanapun sikap kita terhadap pendapat dan pembelaan tersebut, sewaktu mengkritik, kita tidak boleh melanggar adab dalam melontarkan analisis atau pendapat. Juga kesalahan yang dilakukannya tersebut -jika hal itu kita anggap sebagai suatu kesalahan- jangan sampai melupakan kita pada kedudukannya yang mulia di sisi Rasulullah saw, keutamaannya sebagai generasi pertama dalam Islam, dan sabda Rasulullah saw kepadanya pada Perang Tabuk,"Tidaklah akan membahayakan Usman apa yang dilakukannya setelah hari ini."
Hendaknya kita pun menyadari bahwa pembicaraan dan sanggahan para sahabat, terhadap kebijakannya saat itu, tidak sama dengan kritik dan gugatan yang kita lakukan sekarang terhadap masalah yang sama.
Sanggahan para sahabat terhadapnya, pada saat itu, merupakan pencegahan bagi suatu permasalahan yang ada dan mungkin dapat diubah atau diperbaiki. Segala pembicaraan, di saat itu, sekalipun ber motivasikan kritik dan menyalahkan, merupakan tindakan positif dan bermanfaat. Sementara itu, pembicaraan kita pada hari ini, setelah masalah tersebut menjadi suatu peristiwa sejarah, hanyalah merupakan tindakan kurang ajar terhadap para sahabat yang telah diberikan pujian oleh Rasulullah saw. Beliau melarang kita bersikap tidak sopan kepada mereka, terutama Khilafah Rasyidah.

Bagi siapa saja yang menginginkan amanah ilmiah dalam mengemukakan peristiwa ini, cukuplah dengan berpegang teguh kepada penjelasan yang dikemukakan oleh para penulis dan ahli sejarah tepercaya, seperti Thabari, Ibnu Katsir, dan Ibnul Atsir.
Ketiga, bersamaan dengan munculnya benih-benih fitnah pada akhir-akhir pemerintahan Usman bin Affan, muncul pula nama Abdullah bin Saba' di pentas sejarah. Peranan Ibnu Saba' sangat menonjol dalam mengobarkan api fitnah ini. Abdullah bin Saba' adalah seorang Yahudi berasal dari Yaman. Ia datang ke Mesir pada masa pemerintahan Usman bin Affan. Ia menghasut orang untuk membangkang pada Usman bin Affan dengan dalih mencintai Ali bin Abu Thalib dan keluarga (ahlul bait) Nabi saw. Di antaranya, ia mengatakan kepada orang-orang, "Tidakkah Muhammad saw lebih baik dari Isa as di sisi Allah? Jika demikian halnya, Muhammad saw lebih berhak kembali kepada manusia daripada Isa as. Akan tetapi, Muhammad saw akan kembali kepada mereka dalam diri anak pamannya, Ali bin Abu Thalib, yang merupakan orang terdekat kepadanya."
Dengan khurafat ini, Abdullah bin Saba' berhasil menipu masyarakat Mesir, padahal sebelumnya ia gagal mendapatkan pengikut di Yaman. Orang-orang yang tertipu oleh perkataannya inilah yang berangkat ke Madinah guna memberontak kepada Usman bin Affan. Akan tetapi, mereka berhasil dihalau oleh Ali bin Abu Thalib, sebagaimana telah Kita ketahui.
Dari sini, kita mengetahui bahwa kelahiran perpecahan umat Islam menjadi dua kubu: Sunni dan Syi'i, dimulai pada periode ini. Perpecahan ini sepenuhnya merupakan buah tangan Abdullah bin Saba'. Belum lagi penyiksaan dan kekejaman yang dialami oleh Ahlul Bait atau Syi'ah di tangan pemerintahan Umawiyah dan lainnya. Yang penting, bagaimanapun kedua peristiwa ini telah masuk ke dalam sejarah, tetapi kita tidak boleh melupakan realitas lainnya.
Keempat, sekali lagi, kita harus mendapatkan kejelasan tentang hakikat hubungan yang berlangsung antara Usman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib selama periode khilafah yang ketiga ini, juga hakikat sikap yang diambil Ali bin Abu Thalib terhadap Usman bin Affan. Seperti telah kita ketahui bahwa Ali bin Abu Thalib segera membaiat Usman bin Affan sebagai khalifah, bahkan menurut kebanyakan ahli sejarah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir, bahwa Ali bin Abu Thalib adalah orang yang pertama membaiat Usman bin Affan. Kemudian kita ketahui bagaimana Ali bin Abu Thalib mengatakan kepada Usman bin Affan, ketika ia mendengar segerombolan orang yang dikerahkan oleh Abdullah bin Saba' ke Madinah untuk menggerakkan orang menentangnya, "Aku bereskan kejahatan mereka!" Ali bin Abu Thalib kemudian berangkat dan menemui mereka di Juhfah sampai berhasil menghalau mereka kembali ke Mesir seraya mengatakan,"Inikah orang yang kalian jadikan sebagai sebab dan dalih untuk memerangi dan memprotes khalifah (Usman bin Affan)?" Kita telah mengetahui bagaimana Ali bin Abu Thalib dengan penuh keikhlasan, kecintaan, dan kemauan yang jujur memberikan nasihat kepadanya. Sebagaimana kita tahu pula Ali bin Abu Thalib membelanya sampai akhir kehidupannya; bagaimana ia memobilisasi kedua putranya, Hasan dan Husain, untuk menjaga Usman bin Affan dari ulah orang-orang yang mengepungnya?
Dengan demikian, Ali bin Abu Thalib merupakan pendukung Usman bin Affan yang terbaik selama khilafahnya, di samping merupakan pembela terbaiknya tatkala menghadapi cobaan berat. Ia bersikap tegas dan keras dalam memberikan nasihat kepadanya di belakang hari, tidak lain dan tidak bukan, hanyalah karena cinta dan ghirah kepadanya.
Hendaklah kita memahami hal ini dengan baik agar kita juga mengetahui bahwa orang besar

TELADAN HIDUP USTMAN BIN AFFAN

Seandainya masih ada putriku yang lain, pasti kunikahkan dengan Utsman” H.R. Thabrani
Demikian Rasulullah saw. menghibur Utsman saat ditinggal wafat oleh Ummu Kultsum, putri kedua Nabi yang dinikahkan kepada Utsman untuk menggantikan posisi Ruqayyah yang juga putri Nabi yang wafat saat di pangkuan Utsman karena sakit. Inilah yang kemudian Utsman digelari Dzunnurain, “Pemilik Dua Cahaya”, karena telah menikahi dua putri Nabi.
Di manapun orang tua akan selalu berusaha yang terbaik untuk putra-putrinya. Begitupun dengan Rasulullah saw., kalimat tersebut keluar dari mulut Beliau yang mengisyaratkan bahwa pendamping hidup yang terbaik untuk putri-putri Beliau adalah yang bersifat seperti Utsman.
Rasulullah saw. pernah bertanya kepada Ruqayyah: “Bagaimana menurutmu tentang Abu Abdullah (Utsman)?” Ruqayyah menjawab: “Seperti orang baik lainnya.” Rasulullah saw. kemudian bersabda: “Hormatilah ia, karena ia termasuk sahabatku yang ahlaknya paling mirip denganku.” H.R. Ahmad dan Hakim
PENDUDUK LANGIT PUN MALU KEPADANYA
Gambaran ahlak Utsman tercermin dari sabda Rasulullah saw. berikut ini:
Tidakkah aku malu pada orang yang malaikat pun malu kepadanya?” H.R. Muslim no.2401
Begitulah jawaban Nabi kepada Aisyah yang bertanya mengapa Beliau bangkit untuk duduk dan merapihkan pakaiannya saat Utsman datang, sebuah perlakuan istimewa padahal sebelumnya Nabi berbaring dalam menyambut Abu Bakar dan Umar bin Khaththab yang lebih dulu bertamu ke rumah Nabi sebelum Utsman.
Seandainya Utsman mempunyai aib di mata Rasulullah saw., tentunya Rasulullah akan memalingkan muka dari Utsman. Oleh karena itu, ketika Nabi hingga Malaikat merasa malu saat bertemu Utsman, maka perasaan malu tersebut pastilah sebuah penghormatan karena sangatlah tidak mungkin Nabi menikahkan putrinya kepada orang yang punya aib.
Penghormatan Nabi bukan karena faktor usia, karena Utsman 6 tahun lebih muda dari Nabi. Penghormatan tersebut tentunya dinisbatkan pada kemuliaan ahlak yang di atas rata-rata karena yang menilai pun bukan orang biasa melainkan seorang Nabi dan para penduduk langit.
Rasulullah saw. tidak serta merta dengan terburu-buru memberikan rasa hormat kepada Utsman melainkan tentunya membutuhkan rentang waktu yang tidak sebentar dan bukti-bukti kesalehannya dalam kehidupannya.
Seperti apakah rangkaian keindahan ahlak dari Utsman hingga Nabi pun tidak ragu lagi untuk memberikan rasa hormat kepadanya?
ADAKAH YANG MAMPU MEMBAYARKU LEBIH HEBAT LAGI ?
“Kami akan membeli semua barang daganganmu wahai Abu Amr (Utsman), kami akan memberikanmu dua dirham untuk setiap satu dirham yang kau beli”.
“Aku bisa mendapatkan lebih dari itu” kata Utsman
Mereka pun menaikkan harga tawar, dan Utsman pun kembali menegaskan: “Aku masih bisa mendapatkan lebih dari itu”.
Ketika mereka merasa sudah tidak mampu untuk menawar lebih tinggi lagi, Utsman akhirnya berkata:
Allah SWT. memberiku keuntungan sepuluh kali lipat untuk setiap dirham yang kubelanjakan di jalan-Nya. Adakah di antara kalian yang berani memberiku keuntungan lebih dari itu?
Itulah angin segar yang dinanti-nanti oleh penduduk Madinah setelah sekian lama dilanda paceklik, dan tanpa diduga, semua harta dan barang dagangannya hasil berniaga di Syria, disumbangkan seluruhnya oleh Utsman kepada penduduk Madinah yang sangat membutuhkannya.
Bukan saat itu saja Utsman tampil untuk menolong orang-orang yang sedang susah, sumur Rawmah yang dikomersialkan oleh Yahudi setiap kali orang-orang Islam hendak meminum airnya, lalu ia beli dengan harga 35.000 dirham dan saat itu juga ia bebaskan sumur tersebut bagi siapa saja yang membutuhkan air yang ada di sumur tersebut.
Tidak hanya dalam perkara kebutuhan pangan saja Utsman banyak memberikan sumbangsihnya, ia pun pernah berperan besar dalam penghimpunan Jays al-’Usrah (penghimpunan pasukan di saat kondisi yang serba sulit):
Keadaan begitu genting karena pasukan Romawi hendak menyerang pasukan muslim yang saat itu minim persenjataan dan perbekalan. Rasulullah saw. akhirnya tampil berkhutbah yang memberi semangat kepada semua muslim untuk berlomba-lomba berjihad di jalan Allah baik jiwa maupun harta.
Di saat seperti itu, seperti biasanya, Utsman yang paling dulu menyambut seruan Rasulullah: “Wahai Rasulullah, aku akan menyumbang seratus ekor unta berikut pelana dan perlengkapannya”.
Dengan tersenyum Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah membahayakan Utsman apa yang diperbuatnya setelah hari ini”. H.R. Tirmidzi dan Ahmad
HAFIDZ YANG SELALU LAPAR AL-QUR’AN
“Kalau hati kita suci, niscaya kita tidak akan pernah puas dengan firman Tuhan. Aku benci bila sehari saja tidak melihat mushaf”
Itulah kata-kata Utsman yang dikenang selalu oleh Abdurrahman at-Taimi. Kesaksian serupa diungkapkan pula oleh Hassan yang menyebutkan Utsman rajin meng-khatam-kan al-Qur’an dalam satu rakaat. Bahkan ar-Rawi pernah melihat mushaf al-Qur’an milik Utsman banyak yang robek karena terlalu sering dibaca.
Dari rasa kecintaannya yang begitu besar terhadap al-Qur’an inilah kemudian di masa ia menjadi khalifah ketiga kaum muslimin, Utsman menyusun al-Qur’an dalam bentuk Mushaf yang di masa sebelumnya masih berupa tumpukan Shuhuf-shuhuf dan sekaligus menyatukan gaya bahasanya (Qira’at).
AKU BERBAI’AT KEPADA ALI BIN ABI THALIB…
Itulah jawaban Utsman yang membuat tertundanya siapa yang menjadi pengganti Umar bin Khaththab, khalifah yang telah mangkat. Ini bukan berarti Utsman hendak menghambat umat Islam saat itu untuk mencari pengganti Umar, melainkan Utsman memang tidak pernah meminta dan berambisi dengan jabatan Khalifah.
Umar bin Khaththab menjelang kematiannya telah mewasiatkan untuk memilih khalifah pengganti dari 6 (enam) kandidat:
* Utsman bin Affan
* Ali bin Abi Thalib
* Abdurrahman bin Auf
* Sa’ad bin Abi Waqqash
* Zubair bin al-Awwam
* Thalhah bin Ubaidilah
Keenam kandidat kemudian berkumpul dan bermusyawarah selama tiga hari di bawah panitia pemilihan yang terdiri dari Abdullah bin Umar, Abu Thalhah al-Anshari, al-Miqdad, dan Suhaib. Musyawarah pemilihan ini dimulai dengan pembukaan dari Abdurrahman bin Auf yang berkata: “Pilihlah tiga orang di antara kalian.”
Zubair bin al-Awwam berkata: “Aku memilih Ali.”
Thalhah bin Ubaidilah berkata: “Aku memilih Utsman.”
Sa’ad bin Abi Waqqash berkata: “Aku memilih Abdurrahman bin Auf.”
Abdurrahman bin Auf lalu berkata kepada Ali dan Utsman: “Aku memilih salah satu di antara kalian berdua yang sanggup memikul tanggung jawab ini. Jadi, sampaikanlah pendapat kalian mengenai hal ini.”
Ali maupun Utsman terhening tidak memberikan jawaban. Abdurrahman bin Auf pun memahami keduanya: “Apa kalian hendak memikulkan tanggung jawab ini kepadaku? Bukankah yang paling berhak memikulnya adalah yang terbaik di antara kalian?”
Mendengar hal itu, Ali dan Utsman berkata: “Ya benar.”
Abdurrahman bin Auf kemudian memandangi para sahabat yang hadir dan meminta pandangan mereka. Ia kemudian berkata kepada Ali: “Jika kau tidak mau ku-ba’iat, sampaikan pandanganmu.”
Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku memilih Utsman.”
Lalu Abdurrahman bin Auf memandang Utsman bin Affan.
Utsman pun berkata: “Aku memilih Ali bin Abu Thalib.”
Dari keenam kandidat tidak ada satu pun yang mau mengajukan diri untuk di-ba’iat, begitu pun dengan dua kandidat terakhir, Ali dan Utsman. Oleh karena itu musyawarah pun ditunda. Pada hari kedua, Abdurrahman bin Auf berkeliling Madinah menjumpai para sahabat dan memintai pendapat mereka.
Akhirnya di malam hari ketiga, Abdurrahman bin Auf memanggil Zubair bin al-Awwam dan Sa’ad bin Abi Waqqash, mereka bertiga kemudian bermusyawarah. Setelah ketiganya selesai bermusyawarah, Abdurrahman bin Auf kemudian memanggil Ali bin Abi Thalib dan keduanya berbincang hingga tengah malam. Ketika Ali pergi setelah selesai berbincang-bincang, Abdurrahman bin Auf kemudian memanggil Utsman bin Affan dan keduanya berbincang-bincang hingga adzan subuh berkumandang.
Pagi itu, kaum muslimin berkumpul di masjid Nabi. Dihadiri oleh enam kandidat, wakil kaum Muhajirin dan Anshar, serta para pemimpin pasukan. Abdurrahman bin Auf kemudian memandang Ali bin Abi Thalib dan membacakan syahadatain, ia berkata kepada Ali sambil memegang tangannya:
“Engkau punya hubungan dekat dengan Rasulullah, dan sebagaimana diketahui, engkau pun lebih dulu masuk Islam. Demi Allah, jika aku memilihmu (Ali), engkau harus berbuat adil. Dan jika aku memilih Utsman, engkau harus patuh dan taat. Wahai Ali, aku telah berkeliling menghimpun pendapat berbagai kalangan, dan ternyata mereka lebih memilih Utsman. Aku berharap engkau menerima ketetapan ini.”
Setelah berkata kepada Ali, Abdurrahman bin Auf berkata kepada Utsman: “Aku mem-baiat-mu atas nama sunnah Allah dan Rasul-Nya, juga dua khalifah sesudahnya.”
Ali bin Abi Thalib adalah orang kedua yang berkata yang sama kepada Utsman untuk mem-ba’iat-nya sebagai khalifah pengganti Umar. Saat itu juga semua kaum muslimin yang hadir serempak mem-ba’iat Utsman sebagai khalifah kaum muslimin.
QISHAH-LAH AKU UNTUK MEMBAHAGIAKANMU…
Utsman sangat dikenal sebagai penyayang dan pemaaf sebagai pancaran jiwanya yang lembut. Dari kelembutan jiwanya itulah yang yang kemudian Rasulullah saw. menyebut Utsman sebagai sahabat yang sangat pemalu di antara sahabat-sahabat lainnya. Bahkan di jaman jahiliyah, Utsman digelari Abu Layla sebagai penghormatan atas kelembutan dan keramahannya terhadap sesama.
Utsman lebih baik mengorbankan dirinya demi melindungi atau membahagiakan orang lain khususnya kepada para sahabat Nabi. Berikut adalah sepenggal kisah yang menggambarkan sifatnya tersebut:
Kehidupan di antara para sahabat Nabi sangat dipenuhi dengan kasih sayang sekalipun dalam apresiasi yang berbeda-beda. Terkadang di antara mereka tak sungkan untuk langsung menegur, namun teguran itu tidak pernah didasari oleh kebencian ataupun ambisi kekuasaan dan harta, melainkan teguran itu didasari oleh kasih sayang di antara para sahabat yang tidak rela bila saudaranya terpuruk. Inilah landasan amar ma’ruf nahyi munkar di antara para sahabat yang penuh kesantunan dan kasih sayang sesama.
Salah satunya adalah dalam kisah Ammar bin Yasir yang mengkritisi kebijakan Utsman selama menjadi khalifah. Utsman sangat menghormati Ammar bin Yasir karena ia termasuk dalam jajaran sahabat generasi Awwalun (orang-orang pertama memeluk Islam).
Ammar suatu hari pernah dipukul oleh bawahan Utsman di saat ia telah menyampaikan kritisinya kepada Utsman. Melihat kejadian ini, rombongan delegasi yang bersama Ammar, menuntut hak qishash kepada Utsman: “Kami menuntutmu wahai Utsman karena telah memukul Ammar.”
Utsman dengan kasih sayangnya terhadap Ammar, berkata:
“Seorang bawahanku tiba-tiba memukul Ammar karena tidak beranjak pergi, padahal aku tidak menyuruhnya. Demi Allah, aku tidak menyuruhnya, bahkan aku tidak menginginkan hal itu terjadi. Tetapi jikalau engkau memang menuntutku, inilah tubuhku dan biarkan Ammar melakukan qishash-nya atas diriku.”
Utsman sebenarnya terbebas dari kewajiban tuntutan qishash tersebut, tetapi apa yang ada di dalam benaknya adalah ia ingin menghibur hati Ammar yang telah dipukul bawahannya sekaligus ia pun ingin agar Ammar memahami ketidakpahaman yang luas tentang etika agama pada bawahannya tersebut. Sehingga Utsman lebih baik mengorbankan dirinya agar Ammar bisa puas dan bawahannya tidak menanggung tuntutan qishash tersebut.
Namun Ammar enggan untuk melaksanakannya karena memang ia pun menyayangi Utsman sebagaimana Nabi menyayanginya. Abu Hurairah pernah mengungkapkan kesaksiannya di saat Utsman dan keluarganya dikepung dan mendapat embargo suplai air dan makanan, Ammar bin Yasir-lah yang paling gigih dan berani untuk menolong Utsman:
“Subhanallah! Dialah (Utsman) yang membeli sumur ar-Rawmah untuk kalian, tetapi mengapa kalian menghalang-halanginya minum airnya?! Berilah jalan untuk mendapatkan air baginya!”
CUKUPLAH AKU SAJA YANG TERBUNUH…
Jauh-jauh hari Rasulullah saw. telah memperingatkan kaum muslimin saat itu bahwa sepeninggal Beliau akan terjadi gelombang fitnah yang besar terhadap umat muslim dan itu akan terjadi di jaman kekhalifahan Utsman bin Affan. Rasulullah saw. pun memberi isyarat bahwa ujian fitnah yang melanda Utsman akan berakhir dengan kehilangan nyawanya dengan memberi sebuah nasehat kepadanya hingga diulang tiga kali:
Wahai Utsman, jika kelak Allah memberimu kepemimpinan, lalu kaum munafik hendak melepaskan jubah yang dipakaikan Allah kepadamu, maka jangan kau lepaskan!” H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad
Kabar masa depan dari sang Nabi ini justru lebih membuat Utsman semakin tenang saat menghadapi kematiannya kelak dan semakin membuatnya rindu untuk berkumpul lagi dengan Rasulullah saw. dan para sahabat yang telah mendahuluinya menghadap ke hadirat Ilahi.
Hingga suatu saat, Rasulullah saw. menyapanya: “Wahai Utsman, makanlah bersama kami malam ini.” dan Utsman pun terbangun dari mimpinya dan ia pun menyadari mimpinya itu merupakan pertanda telah tiba saatnya bagi Utsman untuk menghadap ke hadirat Allah SWT. Dan benarlah adanya, fitnah besar mengalami puncaknya pasca mimpi Utsman tersebut.
Para pemberontak mengambil momen untuk membunuh Utsman pada hari di mana hampir sebagian besar penduduk Madinah sedang menunaikan ibadah haji.
Di saat terdengar di telinga para sahabat bahwa sekelompok pasukan pemberontak tengah mengepung rumah Utsman, di saat itu juga para sahabat yang setia dengan seruan Nabi, bersegera melindungi rumah Utsman. Di antaranya adalah Abu Hurairah yang datang kepada Utsman seraya berkata: “Ini hari yang baik untuk berperang bersamamu.”
Namun Utsman, sebagaimana sifatnya yang tidak ingin para sahabat Nabi ini mengalami luka atau kematian, meminta Abu Hurairah agar segera pergi dari rumahnya karena Utsman tidak ingin Abu Hurairah ikut menderita.
Begitupun saat Abdullah bin Umar, Hasan dan Husain, Abdulah bin Zubair, serta Marwan yang datang hendak melindunginya, Utsman malah berkata kepada mereka: “Aku meminta kalian pulang, simpanlah senjata kalian, dan diamlah di rumah kalian masing-masing.”
Saat Zaid bin Tsabit datang dan berkata: “Kaum Anshar sudah ada di depan rumah. Mereka menawarkan diri untuk menjadi penolong Allah kembali (Ansharullah).” Tapi lagi-lagi Utsman menolaknya dan meminta mereka untuk segera menjauh dari rumahnya.
Dan yang paling mengesankan adalah ketika Ali bin Abi Thalib mengirim anak-anaknya, Hasan dan Husain, untuk melindungi Utsman, Ali pun berpesan kepada Utsman: “Aku bersama lima ratus orang pasukan berbaju besi. Oleh karena itu, ijinkanlah aku untuk melindungimu dari mereka. Sungguh engkau tidak pernah melakukan sesuatu yang menyebabkan darahmu dihalalkan.” Utsman terharu dengan itikad Ali seraya membalas berkata: “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu. Tetapi aku tidak ingin menumpahkan darah para pemuda-pemudaku.”
Setelah semua sahabat Nabi dimintanya untuk segera keluar dari rumahnya, pada saat itulah para pemberontak melakukan penyerangan terhadap Utsman. Akhirnya kaum muslimin harus kehilangan seorang sosok pemimpin yang sangat pemalu, lembut, santun, dan ramah yang telah mati di pedang para pemberontak.
Apa yang dirindukan Utsman untuk segera berkumpul kembali dengan Rasulullah saw., Abu Bakar dan Umar, akhirnya terwujud. Utsman wafat pada 18 Dzulhijah 35 Hijriah setelah hampir sebulan dirinya dan keluarganya dikepung dan tidak mendapat pasokan makanan dan air.
“Jika mereka membunuhku, mudah-mudahan sepeninggalku tidak ada lagi yang berseteru dan saling membunuh. Aku memohon ampunan kepada Allah jika aku berbuat zalim, dan aku pun memaafkan jika aku dizalimi.”- Kearifan Utsman bin Affan menghadapi fitnah besar yang melandanya -
SUMBER: “Kisah Hidup Utsman bin Affan” – Dr. Musthafa Murad – Guru Besar Universitas al-Azhar Kairo

Kisah Dan Biografi Sahabat Rosulullah SAW : Umar Bin Khatab

J'art Kaligrafi Gallery Pengrajin kaligrafi kaligrafi unik,kaligrafi jarum,kaligrafi islam


"Ya Allah...buatlah Islam ini kuat dengan masuknya salah satu dari kedua orang ini. Amr bin Hisham atau Umar bin Khattab." Salah satu dari doa Rasulullah pada saat Islam masih dalam tahap awal penyebaran dan masih lemah. Doa itu segera dikabulkan oleh Allah. Allah memilih Umar bin Khattab sebagai salah satu pilar kekuatan islam, sedangkan Amr bin Hisham meninggal sebagai Abu Jahal.
Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah saw. Ayahnya bernama Khattab dan ibunya bernama Khatmah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta warna kulitnya coklat kemerah-merahan.
Beliau dibesarkan di dalam lingkungan Bani Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy. Beliau merupakan  khalifah kedua didalam islam setelah Abu Bakar As Siddiq.
Nasabnya adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qarth bin Razah bin 'Adiy bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi pada kakeknya Ka'ab. Antara beliau dengan Nabi selisih 8 kakek. lbu beliau bernama Hantamah binti Hasyim bin al-Mughirah al-Makhzumiyah. Rasulullah memberi beliau "kun-yah" Abu Hafsh (bapak Hafsh) karena Hafshah adalah anaknya yang paling tua; dan memberi "laqab" (julukan) al Faruq.

Umar bin Khattab masuk Islam
Sebelum masuk Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya dengan kaum Muslimin, bertaklid kepada ajaran nenek moyangnya, dan melakukan perbuatan-perbuatan jelek yang umumnya dilakukan kaum jahiliyah, namun tetap bisa menjaga harga diri. Beliau masuk Islam pada bulan Dzulhijah tahun ke-6 kenabian, tiga hari setelah Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam.
Ringkas cerita, pada suatu malam beliau datang ke Masjidil Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan shalat Nabi. Waktu itu Nabi membaca surat al-Haqqah. Umar bin Khattab kagum dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya sendiri- "Demi Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy." Kemudian beliau mendengar Rasulullah membaca ayat 40-41 (yang menyatakan bahwa Al Qur'an bukan syair), lantas beliau berkata, "Kalau begitu berarti dia itu dukun." Kemudian beliau mendengar bacaan Nabi ayat 42, (Yang menyatakan bahwa Al-Qur'an bukan perkataan dukun.) akhirnya beliau berkata, "Telah terbetik lslam di dalam hatiku." Akan tetapi karena kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap agama nenek moyang, maka beliau tetap memusuhi Islam.
Kemudian pada suatu hari, beliau keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud membunuh Nabi. Dalam perjalanan, beliau bertemu dengan Nu`aim bin Abdullah al 'Adawi, seorang laki-laki dari Bani Zuhrah. Lekaki itu berkata kepada Umar bin Khattab, "Mau kemana wahai Umar?" Umar bin Khattab menjawab, "Aku ingin membunuh Muhammad." Lelaki tadi berkata, "Bagaimana kamu akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, kalau kamu membunuh Muhammad?" Maka Umar menjawab, "Tidaklah aku melihatmu melainkan kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu." Tetapi lelaki tadi menimpali, "Maukah aku tunjukkan yang lebih mencengangkanmu, hai Umar? Sesuugguhnya adik perampuanmu dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini."
Kemudian dia bergegas mendatangi adiknya yang sedang belajar Al Qur'an, surat Thaha kepada Khabab bin al Arat. Tatkala mendengar Umar bin Khattab datang, maka Khabab bersembunyi. Umar bin Khattab masuk rumahnya dan menanyakan suara yang didengarnya. Kemudian adik perempuan Umar bin Khattab dan suaminya berkata, "Kami tidak sedang membicarakan apa-apa." Umar bin Khattab menimpali, "Sepertinya kalian telah keluar dari agama nenek moyang kalian." Iparnya menjawab, "wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?"  Mendengar ungkapan tersebut Umar bin Khattab memukulnya hingga terluka dan berdarah, karena tetap saja saudaranya itu mempertahankan agama Islam yang dianutnya, Umar bin Khattab berputus asa dan menyesal melihat darah mengalir pada iparnya.
Umar bin Khattab berkata, 'Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.' Maka adik perempuannya berkata," Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!" lantas Umar bin Khattab mandi dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya. Ketika dia membaca surat Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta ditunjukkan keberadaan Rasulullah.
Tatkala Khabab mendengar perkataan Umar bin Khattab, dia muncul dari persembunyiannya dan berkata, "Aku akan beri kabar gembira kepadamu, wahai Umar! Aku berharap engkau adalah orang yang didoakan Rasulullah pada malam Kamis, 'Ya Allah, muliakan Islam.dengan Umar bin Khatthab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.' Waktu itu, Rasulullah berada di sebuah rumah di daerah Shafa." Umar bin Khattab mengambil pedangnya dan menuju rumah tersebut, kemudian mengetuk pintunya. Ketika ada salah seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang terhunus dari celah pintu rumahnya, dikabarkannya kepada Rasulullah. Lantas mereka berkumpul. Hamzah bin Abdul Muthalib bertanya, "Ada apa kalian?" Mereka menjawab, 'Umar (datang)!" Hamzah bin Abdul Muthalib berkata, "Bukalah pintunya. Kalau dia menginginkan kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan, maka kita akan membunuhnya dengan pedangnya." Kemudian Nabi menemui Umar bin Khattab dan berkata kepadanya. "... Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab." Dan dalam riwayat lain: "Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar."
Seketika itu pula Umar bin Khattab bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah tersebut bertakbir dengan keras. Menurut pengakuannya dia adalah orang yang ke-40 masuk Islam. Abdullah bin Mas'ud berkomentar, "Kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak Umar bin Khattab masuk Islam."

Kepemimpinan Umar bin Khattab
Keislaman beliau telah memberikan andil besar bagi perkembangan dan kejayaan Islam. Beliau adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu memperhatikan urusan kaum muslimin. Pemimpin yang menegakkan ketauhidan dan keimanan, merobohkan kesyirikan dan kekufuran, menghidupkan sunnah dan mematikan bid'ah. Beliau adalah orang yang paling baik dan paling berilmu tentang al-Kitab dan as-Sunnah setelah Abu Bakar As Siddiq.
Kepemimpinan Umar bin Khattab tak seorangpun yang dapat meragukannya. Seorang tokoh besar setelah Rasulullah SAW dan Abu Bakar As Siddiq. Pada masa kepemimpinannya kekuasaan islam bertambah luas. Beliau berhasil menaklukkan Persia, Mesir, Syam, Irak, Burqah, Tripoli bagian barat, Azerbaijan, Jurjan, Basrah, Kufah dan Kairo.
Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun Umar bin Khattab itulah, penaklukan-penaklukan penting dilakukan Islam. Tak lama sesudah Umar bin Khattab memegang tampuk kekuasaan sebagai khalifah, pasukan Islam menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium. Dalam pertempuran Yarmuk (636), pasukan Islam berhasil memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641, pasukan Islam telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639, pasukan Islam menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.
Penyerangan Islam terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia telah mulai bahkan sebelum Umar bin Khattab naik jadi khalifah. Kunci kemenangan Islam terletak pada pertempuran Qadisiya tahun 637, terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Menjelang tahun 641, seseluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Islam. Dan bukan hanya itu, pasukan Islam bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642), mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. Menjelang wafatnya Umar bin Khattab di tahun 644, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti tatkala Umar bin Khattab wafat. Di bagian timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka mendesak terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.
Selain pemberani, Umar bin Khattab juga seorang yang cerdas. Dalam masalah ilmu diriwayatkan oleh Al Hakim dan Thabrani dari Ibnu Mas’ud berkata, ”Seandainya ilmu Umar bin Khattab diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan ilmu seluruh penghuni bumi diletakkan pada tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin Khattab lebih berat dibandingkan ilmu mereka. Mayoritas sahabatpun berpendapat bahwa Umar bin Khattab menguasai 9 dari 10 ilmu. Dengan kecerdasannya beliau menelurkan konsep-konsep baru, seperti menghimpun Al Qur’an dalam bentuk mushaf, menetapkan tahun hijriyah sebagai kalender umat Islam, membentuk kas negara (Baitul Maal), menyatukan orang-orang yang melakukan sholat sunah tarawih dengan satu imam, menciptakan lembaga peradilan, membentuk lembaga perkantoran, membangun balai pengobatan, membangun tempat penginapan, memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan, menetapkan hukuman cambuk bagi peminum "khamr" (minuman keras) sebanyak 80 kali cambuk, mencetak mata uang dirham, audit bagi para pejabat serta pegawai dan juga konsep yang lainnya.
Namun dengan begitu beliau tidaklah menjadi congkak dan tinggi hati. Justru beliau seorang pemimpin yang zuhud lagi wara’. Beliau berusaha untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan rakyatnya. Dalam satu riwayat Qatadah berkata, ”Pada suatu hari Umar bin Khattab memakai jubah yang terbuat dari bulu domba yang sebagiannnya dipenuhi dengan tambalan dari kulit, padahal waktu itu beliau adalah seorang khalifah, sambil memikul jagung ia lantas berjalan mendatangi pasar untuk menjamu orang-orang.” Abdullah, puteranya berkata, ”Umar bin Khattab berkata, ”Seandainya ada anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka umar merasa takut diminta pertanggung jawaban oleh Allah SWT.”
Beliaulah yang lebih dahulu lapar dan yang paling terakhir kenyang, Beliau berjanji tidak akan makan minyak samin dan daging hingga seluruh kaum muslimin kenyang memakannya…
Tidak diragukan lagi, khalifah Umar bin Khattab adalah seorang pemimpin yang arif, bijaksana dan adil dalam mengendalikan roda pemerintahan. Bahkan ia rela keluarganya hidup dalam serba kekurangan demi menjaga kepercayaan masyarakat kepadanya tentang pengelolaan kekayaan negara. Bahkan Umar bin Khattab sering terlambat salat Jum'at hanya menunggu bajunya kering, karena dia hanya mempunyai dua baju.
Kebijaksanaan dan keadilan Umar bin Khattab ini dilandasi oleh kekuatirannya terhadap rasa tanggung jawabnya kepada Allah SWT. Sehingga jauh-jauh hari Umar bin Khattab sudah mempersiapkan penggantinya jika kelak dia wafat. Sebelum wafat, Umar berwasiat agar urusan khilafah dan pimpinan pemerintahan, dimusyawarahkan oleh enam orang yang telah mendapat ridha Nabi SAW. Mereka adalah Utsman bin AffanAli bin Abu ThalibThalhah bin UbaidilahZubair binl AwwamSa'ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf. Umar menolak menetapkan salah seorang dari mereka, dengan berkata, aku tidak mau bertanggung jawab selagi hidup sesudah mati. Kalau AIlah menghendaki kebaikan bagi kalian, maka Allah akan melahirkannya atas kebaikan mereka (keenam orang itu) sebagaimana telah ditimbulkan kebaikan bagi kamu oleh Nabimu.

Wafatnya Umar bin Khattab
Pada hari Rabu bulan Dzulhijah tahun 23 H Umar Bin Kattab wafat, Beliau ditikam ketika sedang melakukan Shalat Subuh oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lu’luah, budak milik al-Mughirah bin Syu’bah diduga ia mendapat perintah dari kalangan Majusi. Umar bin Khattab dimakamkan di samping Nabi saw dan Abu Bakar as Siddiq, beliau wafat dalam usia 63 tahun.

Kisah Dan Biografi Sahabat Rosulullah SAW : Abu Bakar As Shiddiq

Masa kecil dan terbatasnya berita
Sumber-sumber yang sampai kepada kita mengenai masa kecil  Abu Bakr tidak banyak membantu untuk mengenai pribadinya dalam situasi kehidupan saat itu. Cerita sekitar masa anak-anak dan  remajanya tidak juga memuaskan. Apa yang diceritakan tentang kedua  orangtuanya tidak lebih daripada sekedar menyebut nama saja.  Setelah Abu Bakr menjadi tokoh sebagai Muslim yang penting, baru  nama ayahnya disebut-sebut. Ada pengaruh Abu Bakr dalam kehidupan  ayahnya, namun pengaruh ayahnya dalam kehidupan Abu Bakr tidak  ada. Tetapi yang menjadi perhatian kalangan sejarawan waktu itu justru  yang menyangkut kabilahnya serta kedudukannya di  tengah-tengah masyarakat Kuraisy. Tak bedanya mereka itu dalam hal  ini dengan sejarah Arab umumnya. Dengan melihat pertaliannya  kepada  salah satu kabilah,1 (1 Kabilah atau suku merupakan susunan masyarakat Arab yang berasal dari satu  moyang, lebih kecil dari sya'b dan lebih besar dari  'imarah, kemudian berturut-turut  batn, 'imarah dan fakhz.  — Pnj.)  sudah cukup untuk mengetahui watak dan  akhlak mereka. Adakalanya yang demikian ini baik, dan kadang  juga  mereka yang percaya pada prinsip keturunan itu berguna untuk  menentukan kecenderungan mereka, kendati yang lain menganggap  penilaian demikian sudah berlebihan, dan ini yang membuat mereka tidak cermat dalarn meneliti.

Kabilahnya dan kepemimpinannya
Abu Bakr dari kabilah Taim bin Murrah bin Ka'b. Nasabnya  bertemu dengan Nabi pada Adnan. Setiap kabilah yang tinggal di  Mekah punya keistimewaan tersendiri, yakni ada tidaknya  hubungannya  dengan sesuatu jabatan di Ka'bah. Untuk Banu Abd  Manaf tugasnya siqayah dan rifadah, untuk Banu Abdid-Dar, liwa', hijabah dan nadwah, yang sudah berjalan sejak sebelum Hasyim kakek Nabi lahir. Sedang pimpinan tentara di pegang oleh Banu Makhzum, nenek moyang Khalid bin Walid, dan Banu Taim bin Murrah menyusun masalah diat  (tebusan darah) dan segala macam ganti rugi. Pada zaman jahiliah  masalah penebusan darah ini di tangan Abu Bakr tatkala posisinya cukup kuat, dan dia juga yang memegang pimpinan kabilahnya. Oleh  karena itu bila ia harus menanggung sesuatu tebusan dan ia meminta  bantuan Kuraisy, mereka pun percaya dan mau memberikan tebusan  itu, yang tak akan dipenuhi sekiranya orang lain yang memintanya.
Banyak buku yang ditulis orang kemudian menceritakan adanya pujian ketika menyinggung Banu Taim ini  serta kedudukannya di  tengahtengah  kabilah-kabilah  Arab.  Diceritakan  bahwa ketika  Munzir bin Ma'as-Sama' menuntut Imru'ul-Qais bin Hujr al-Kindi, ia  mendapat perlindungan Mu'alla at-Taimi (dari Banu Taim), sehingga  dalam hal ini penyair Imru'ul-Qais berkata:

Imru'ul-Qais bin Hujr
Telah didudukkan oleh Banu  Taim, "Masabihuz-Zalami"

Karena bait tersebut, Banu Taim dijuluki "Masabihuz-Zalami"  (pelita-pelita di waktu gelap).
Tetapi sumber-sumber yang beraneka ragam yang melukiskan  sifatsifat Banu Taim itu tidak berbeda dengan yang biasa dilukiskan  untuk kabilah-kabilah lain. Juga tidak ada suatu ciri khas yang bisa dibedakan dan dapat digunakan oleh penulis sejarah atau menunjukkan  suatu sifat tertentu kepada kabilah mana ia dapat digolongkan.  Sumber-sumber itu melukiskan Banu Taim dengan sifat-sifat terpuji:  pemberani, pemurah, kesatria, suka menolong dan melindungi tetangga  dan sebagainya yang biasa dipunyai oleh kabilah-kabilah Arab yang  hidup dalam iklim jazirah Arab.

Nama dan julukannya
Para penulis biografi Abu Bakr itu tidak terbatas hanya pada kabilahnya saja seperti yang sudah saya sebutkan, tetapi mereka  memulai juga dengan menyebut namanya dan nama kedua  orangtuanya.  Lalu melangkah ke masa anak-anak, masa muda dan  masa  remaja, sampai pada apa yang dikerjakannya. Disebutkan bahwa  namanya Abdullah bin Abi Quhafah, dan Abu Quhafah ini pun nama  sebenarnya Usman bin Amir, dan ibunya, Ummul-Khair, sebenarnya  bernama Salma bint Sakhr bin Amir. Disebutkan juga, bahwa sebelum Islam ia bernama Abdul Ka'bah. Setelah masuk Islam oleh Rasulullah ia dipanggil Abdullah. Ada juga yang mengatakan bahwa tadinya ia bernama Atiq,   karena dari pihak ibunya tak pernah ada anak laki-laki yang hidup. Lalu  ibunya bernazar jika ia melahirkan anak laki-laki akan diberi nama  Abdul Ka'bah  dan akan disedekahkan kepada Ka'bah.  Sesudah Abu   Bakr hidup dan menjadi besar, ia diberi nama Atiq, seolah ia telah  dibebaskan dari maut.
Tetapi sumber-sumber itu lebih jauh menyebutkan bahwa Atiq itu bukan namanya, melainkan suatu julukan karena warna kulitnya yang putih. Sumber yang lain lagi malah menyebutkan, bahwa ketika  Aisyah putrinya ditanyai: mengapa Abu Bakr diberi nama Atiq ia  menjawab: Rasulullah memandang kepadanya lalu katanya: Ini yang  dibebaskan Allah dari neraka; atau karena suatu hari Abu Bakr  datang  bersama sahabat-sahabatnya lalu Rasulullah berkata: Barang  siapa ingin melihat orang yang dibebaskan dari neraka lihatlah ini. Mengenai gelar Abu Bakr yang dibawanya dalam hidup  sehari-hari sumber-sumber itu tidak menyebutkan alasannya, meskipun  penulis-penulis kemudian ada yang menyimpulkan bahwa dijuluki  begitu karena ia orang paling dini (Bakr berarti dini (A). — Pnj.)dalam Islam dibanding dengan yang  lain.

Masa mudanya
Semasa kecil Abu Bakr hidup seperti umumnya anak-anak di  Mekah. Lepas masa anak-anak ke masa usia remaja ia bekerja  sebagai pedagang pakaian. Usahanya ini mendapat sukses. Dalam usia muda itu ia kawin dengan Qutailah bint Abdul Uzza. Dari perkawinan  ini lahir Abdullah dan Asma'. Asma' inilah yang kemudian dijuluki  Zatun-Nitaqain. Sesudah dengan Qutailah ia kawin lagi dengan  Umm  Rauman bint Amir bin Uwaimir. Dari perkawinan ini lahir pula  Abdur-Rahman dan Aisyah. Kemudian di Medinah ia kawin dengan  Habibah bint Kharijah, setelah itu dengan Asma' bint Umais yang  melahirkan Muhammad. Sementara itu usaha dagangnya berkembang  pesat dan dengan sendirinya ia memperoleh laba yang cukup besar.

Perawakan dan perangainya
Keberhasilannya dalam perdagangan itu mungkin saja disebabkan oleh pribadi dan wataknya. Berperawakan kurus, putih, dengan sepasang  bahu  yang  kecil dan  muka lancip dengan  mata yang cekung disertai dahi yang agak menonjol dan urat-urat tangan yang tampak jelas — begitulah dilukiskan oleh putrinya, Aisyah Ummulmukminin. Begitu damai perangainya, sangat lemah lembut dan sikapnya tenang sekali. Tak mudah ia terdorong oleh hawa nafsu. Dibawa oleh  sikapnya yang selalu tenang, pandangannya yang jernih serta pikiran  yang tajam, banyak kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan  masyarakat  yang tidak diikutinya. Aisyah menyebutkan bahwa ia tak pernah  minum minuman keras, di zaman jahiliah atau Islam, meskipun  penduduk Mekah umumnya sudah begitu hanyut ke dalam khamar dan mabuk-mabukan. Ia seorang ahli genealogi — ahli silsilah — bicaranya sedap dan pandai bergaul.
Seperti dilukiskan oleh Ibn Hisyam, penulis kitab Sirah:
"Abu Bakr adalah laki-laki yang akrab di kalangan  masyarakatnya, disukai karena ia serba mudah. Ia dari keluarga  Kuraisy yang paling dekat dan paling banyak mengetahui seluk-beluk  kabilah itu, yang baik dan yang jahat. Ia seorang pedagang dengan  perangai yang sudah cukup terkenal. Karena suatu masalah,  pemuka-pemuka masyarakatnya sering datang menemuinya, mungkin  karena pengetahuannya, karena perdagangannya atau mungkin juga karena cara bergaulnya yang enak."

Kecintaannya pada Mekah dan hubungannya dengan Muhammad
Ia tinggal di Mekah, di kampung yang sama dengan Khadijah  bint Khuwailid, tempat saudagar-saudagar terkemuka yang membawa  perdagangan dalam perjalanan musim dingin dan musim panas ke  Syam1 dan ke Yaman. Karena bertempat tinggal di kampung itu,  itulah  yang membuat hubungannya dengan Muhammad begitu akrab  setelah Muhammad kawin dengan Khadijah dan kemudian tinggal  serumah. Hanya dua tahun beberapa bulan saja Abu Bakr lebih muda  dari Muhammad. Besar sekali kemungkinannya, usia yang tidak  berjauhan itu, persamaan bidang usaha serta ketenangan jiwa dan  perangainya, di samping ketidaksenangannya pada  kebiasaan-kebiasaan   Kuraisy — dalam kepercayaan dan adat — mungkin sekali itulah semua yang berpengaruh dalam persahabatan  Muhammad dengan Abu Bakr. Beberapa sumber berbeda pendapat,  sampai berapa jauh eratnya persahabatan itu sebelum Muhammad  menjadi Rasul. Di antara mereka ada yang menyebutkan bahwa  persahabatan itu sudah begitu akrab sejak sebelum kerasulan, dan  bahwa keakraban itu pula yang membuat Abu Bakr cepat-cepat menerima Islam.
Ada pula yang lain menyebutkan, bahwa akrabnya hubungan itu baru kemudian dan bahwa keakraban pertama itu tidak lebih hanya karena bertetangga dan adanya kecenderungan yang sama. Mereka yang mendukung pendapat ini barangkali karena kecenderungan Muhammad yang suka menyendiri dan selama bertahun-tahun sebelum kerasulannya menjauhi orang banyak. Setelah Allah mengangkatnya sebagai Rasul teringat ia pada Abu Bakr dan kecerdasan otaknya. Lalu diajaknya ia bicara dan diajaknya menganut ajaran tauhid. Tanpa ragu Abu Bakr pun menerima ajakan itu. Sejak itu terjadilah hubungan yang lebih akrab antara kedua orang itu. Kemudian keimanan Abu Bakr makin mendalam dan kepercayaannya kepada Muhammad dan risalahnya pun bertambah kuat. Seperti dikatakan oleh Aisyah: "Yang kuketahui  kedua orangtuaku sudah memeluk agama ini, dan setiap kali lewat di  depan rumah kami, Rasulullah selalu singgah ke tempat kami, pagi  atau  sore."

Menerima dakwah tanpa ragu dan sebabnya
Sejak hari pertama Abu Bakr sudah bersama-sama dengan  Muhammad melakukan dakwah demi agama Allah. Keakraban  masyarakatnya dengan dia, kesenangannya bergaul dan mendengarkan  pembicaraannya, besar pengaruhnya terhadap Muslimin yang  mula-mula  itu dalam masuk Islam itu. Yang mengikuti jejak Abu  Bakr menerima Islam ialah Usman bin Affan, Abdur-Rahman bin  Auf,  Talhah bin Ubaidillah, Sa'd bin Abi Waqqas dan Zubair bin  Awwam. Sesudah mereka yang kemudian  menyusul  masuk  Islam — atas  ajakan  Abu  Bakr — ialah  Abu Ubaidah bin larrah dan  banyak lagi yang lain dari penduduk Mekah.
Adakalanya  orang  akan  merasa  heran  betapa  Abu  Bakr. tidak merasa ragu menerima Islam ketika pertama kali disampaikan  Muhammad kepadanya itu. Dan karena menerimanya tanpa ragu itu  kemudiaYi Rasulullah berkata:



"Tak seorang pun yang pernah kuajak memeluk Islam yang tidak tersendat-sendat dengan begitu berhati-hati dan ragu, kecuali Abu  Bakr bin Abi Quhafah.  la tidak menunggu-nunggu dan tidak ragu  ketika kusampaikan kepadanya."
Sebenarnya tak perlu heran tatkala Muhammad menerangkan kepadanya tentang tauhid dan dia diajaknya lalu menerimanya. Bahkan yang lebih mengherankan lagi bila Muhammad menceritakan kepadanya mengenai gua Hira dan wahyu yang diterimanya, ia  mempercayainya tanpa ragu. Malah keheranan kita bisa hilang, atau  berkurang, bila kita ketahui bahwa Abu Bakr adalah salah seorang  pemikir Mekah yang memandang penyembahan berhala itu suatu  kebodohan dan kepalsuan belaka. Ia sudah mengenai benar  Muhammad — kejujurannya, kelurusan hatinya serta kejernihan  pikirannya. Semua itu tidak memberi peluang dalam hatinya untuk  merasa ragu, apa yang telah diceritakan kepadanya, dilihatnya dan  didengarnya. Apalagi karena apa yang diceritakan Rasulullah  kepadanya itu dilihatnya memang sudah  sesuai dengan pikiran yang  sehat. Pikirannya tidak merasa ragu lagi, ia sudah mempercayainya dan  menerima semua itu.

Keberaniannya menerima Islam dan menyiarkannya
Tetapi apa yang menghilangkan kekaguman kita tidak mengubah penghargaan kita atas keberaniannya tampil ke depan umum dalam  situasi ketika orang masih serba menunggu, ragu dan sangat  berhati-hati. Keberanian Abu Bakr ini patut sekali kita hargai,  mengingat dia pedagang, yang demi perdagangannya diperlukan  perhitungan guna menjaga hubungan baik dengan orang lain serta  menghindari konfrontasi dengan mereka, yang akibatnya berarti  menentang pandangan dan kepercayaan mereka. Ini dikhawatirkan  kelak  akan berpengaruh buruk terhadap hubungan dengan para relasi  itu.
Berapa banyak orang yang memang tidak percaya pada  pandangan itu dan dianggapnya suatu kepalsuan, suatu cakap kosong  yang tak mengandung arti apa-apa, lalu dengan sembunyi-sembunyi  atau berpura-pura berlaku sebaliknya hanya untuk mencari selamat,  mencari keuntungan di balik semua itu, menjaga hubungan dagangnya dengan mereka. Sikap munafik begini kita jumpai bukan di kalangan  awamnya, tapi di kalangan tertentu dan kalangan terpelajarnya juga.  Bahkan akan kita jumpai di kalangan mereka yang menamakan diri  pemimpin dan katanya hendak membela kebenaran. Kedudukan Abu  Bakr yang sejak semula sudah dikatakan oleh Rasulullah itu, patut  sekali ia mendapat penghargaan, patut dikagumi.
Usaha Abu Bakr melakukan dakwah Islam itulah yang patut dikagumi. Barangkali ada juga orang yang berpandangan semacam dia, merasa sudah cukup puas dengan mempercayainya secara diam-diam dan tak perlu berterang-terang di depan umum agar perdagangannya selamat, berjalan lancar. Dan barangkali Muhammad pun merasa  cukup puas dengan sikap demikian itu dan sudah boleh dipuji. Tetapi Abu Bakr dengan menyatakan terang-terangan keislamannya itu, lalu  mengajak orang kepada ajaran Allah dan Rasulullah dan meneruskan  dakwahnya untuk meyakinkan kaum Muslimin yang mula-mula untuk  mempercayai Muhammad dan mengikuti ajaran agamanya,  inilah yang belum pernah  dilakukan  orang;  kecuali  mereka  yang   sudah  begitu  tinggi jiwanya, yang sudah sampai pada tingkat  membela kebenaran demi kebenaran. Orang demikian ini sudah berada  di atas kepentingan hidup pribadinya sehari hari. Kita lihat, dalam  membela agama, dalam berdakwah untuk agama, segala kebesaran  dan kemewahan hidup duniawinya dianggapnya kecil belaka. Demikianlah keadaan Abu Bakr dalam persahabatannya dengan Muhammad, sejak ia memeluk Islam, hingga Rasulullah berpulang ke sisi Allah dan Abu Bakr pun kemudian kembali ke sisi-Nya.

Abu Bakr orang pertama yang memperkuat agama
Teringat saya tatkala Hamzah bin Abdul Muttalib dan Umar bin Khattab masuk Islam, betapa besar pengaruh mereka itu dalam memperkuat Islam, dan bagaimana pula Allah memperkuat Islam dengan kedua mereka itu. Keduanya terkenal garang dan berpendirian teguh, kuat, ditakuti oleh lawan. Juga saya ingat, betapa Abu Bakr ketika ia masuk Islam. Tidak ragu kalau saya mengatakan, bahwa dialah orang pertama yang ditempatkan Allah untuk memperkuat agama-Nya.  Orang yang begitu damai jiwanya, tenang, sangat lemah lembut dan  perkasa. Matanya mudah berlinang begitu melihat kesedihan menimpa  orang lain. Ternyata orang ini menyimpan iman yang begitu kuat  terhadap agama baru ini, terhadap Rasul utusan Allah. Ternyata ia tak dapat ditaklukkan.
Adakah suatu kekuatan di dunia ini yang dapat melebihi  kekuatan iman! Adakah suatu kemampuan seperti kemampuan iman  dalam hidup ini! Orang yang mengira, bahwa kekuatan despotisma  dan  kekuasaan punya pengaruh besar di dunia ini, ia sudah  terjerumus  ke dalam jurang kesalahan. Jiwa yang begitu damai, begitu  yakin dengan keimanannya akan kebenaran, yang mengajak orang  berdakwah dengan cara yang bijaksana dan nasihat yang baik, dengan  cara yang lemah lembut, yang bersumber dari akhlak yang mulia dan  perangai yang lembut, bergaul dengan orang-orang lemah,  orang-orang  papa dan kaum duafa, yang dalam penderitaannya sebagai  salah satu sarana dakwahnya — jiwa inilah yang sepantasnya  mencapai sasaran sebagaimana dikehendaki, karena ia mudah diacu dan  keluar sesuai dengan pola yang ada padanya.
Itulah jejak Abu Bakr r.a. pada tahun-tahun pertama dakwah  Islam, dan terus berjalan  sampai pada waktu  ia memangku jabatan  selaku Khalifah, dan berlangsung terus sampai akhir hayatnya.

Melindungi golongan lemah dengan hartanya
Dalam menjalankan dakwah itu tidak hanya berbicara saja  dengan kawan-kawannya dan meyakinkan mereka, dan dalam  menghibur kaum duafa dan orang-orang miskin yang disiksa dan  dianiaya oleh musuhmusuh dakwah, tidak hanya dengan kedamaian  jiwanya, dengan sifatnya yang lemah lembut, tetapi ia menyantuni  mereka dengan hartanya. Digunakannya hartanya itu untuk membela  golongan lemah dan orangorang tak punya, yang telah mendapat  petunjuk Allah ke jalan yang benar, tetapi lalu dianiaya oleh  musuh-musuh kebenaran itu. Sudah cukup diketahui, bahwa ketika ia masuk Islam, hartanya  tak kurang dari empat puluh ribu dirham yang disimpannya dari hasil  perdagangan. Dan selama dalam Islam ia terus berdagang dan  mendapat laba yang cukup besar. Tetapi setelah hijrah ke Medinah  sepuluh tahun kemudian, hartanya itu hanya tinggal lima ribu dirham.  Sedang semua harta yang ada padanya dan yang disimpannya,  kemudian habis untuk kepentingan dakwah, mengajak orang ke jalan  Allah dan demi agama dan Rasul-Nya. Kekayaannya itu digunakan  untuk menebus orang-orang lemah dan budak-budak yang masuk  Islam,  yang oleh majikannya disiksa dengan pelbagai cara, tak lain  hanya karena mereka masuk Islam.
Suatu hari Abu Bakr melihat Bilal yang negro itu oleh tuannya  dicampakkan ke ladang yang sedang membara oleh panas matahari, dengan menindihkan batu di dadanya lalu dibiarkannya agar ia mati  dengan begitu, karena ia masuk Islam. Dalam keadaan semacam itu  tidak lebih Bilal hanya mengulang-ulang kata-kata: Ahad, Ahad.  Ketika  itulah ia dibeli oleh Abu Bakr kemudian dibebaskan! Begitu juga Amir bin Fuhairah oleh Abu Bakr ditebus dan ditugaskan  menggembalakan kambingnya. Tidak sedikit budak-budak itu yang  disiksa, laki-laki dan perempuan, oleh Abu Bakr dibeli lalu  dibebaskan.

Peranan sebagai semenda Nabi
Tetapi Abu Bakr sendiri pun tidak bebas dari gangguan Kuraisy. Sama halnya dengan Muhammad sendiri yang juga tidak lepas dari  gangguan itu dengan kedudukannya yang sudah demikian rupa di  kalangan kaumnya serta perlindungan Banu Hasyim kepadanya.  Setiap Abu Bakr melihat Muhammad diganggu oleh Kuraisy ia  selalu  siap membelanya dan mempertaruhkan nyawanya untuk  melindunginya. Ibn Hisyam menceritakan, bahwa perlakuan yang paling jahat dilakukan Kuraisy terhadap Rasulullah ialah setelah agama dan dewa-dewa mereka dicela. Suatu hari mereka berkumpul di Hijr, dan satu sama lain mereka berkata: "Kalian mengatakan apa yang didengarnya dari kalian dan  apa yang kalian dengar tentang dia. Dia memperlihatkan kepadamu  apa yang tak kamu sukai lalu kamu tinggalkan dia."
Sementara mereka dalam keadaan serupa itu tiba-tiba datang Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam. Sekaligus ia diserbu  bersama-sama oleh mereka dan mengepungnya seraya berkata: Engkau  yang berkata begini dan begini? Maksudnya yang mencela  berhala-berhala dan kepercayaan mereka. Maka Rasulullah   Sallallahu   'alaihi wasallam pun menjawab: Ya, memang aku yang  mengatakan. Salah seorang di antara mereka langsung menarik  bajunya.  Abu Bakr sambil menangis menghalanginya seraya  katanya:   Kamu  mau membunuh orang yang mengatakan hanya  Allah Tuhanku! Mereka kemudian bubar. Itulah yang kita lihat  perbuatan Kuraisy yang luar biasa kepadanya.
Tetapi peristiwa ini belum seberapa dibandingkan dengan  peristiwaperistiwa lain yang benar-benar memperlihatkan keteguhan  iman Abu Bakr kepada Muhammad dan risalahnya itu. Sedikit pun  tak  pernah goyah.  Dan  iman  itu jugalah yang membuat tidak   sedikit  kalangan Orientalis tidak jadi melemparkan tuduhan kepada  Nabi, seperti yang biasa dilakukan oleh mereka yang suka  berlebih-lebihan. Dengan ketenangan dan kedamaian hatinya yang  demikian rupa, keimanan Abu Bakr tidak akan sedemikian tinggi,  kalau ia tidak melihat segala perbuatan Rasulullah yang memang  jauh dari segala yang meragukan, terutama pada waktu Rasulullah   sedang menjadi sasaran penindasan masyarakatnya. Iman yang mengisi  jiwa Abu Bakr ini jugalah yang telah mempertahankan Islam,  sementara yang lain banyak yang meninggalkannya tatkala  Rasulullah  berbicara kepada mereka mengenai peristiwa Isra.

Sikapnya mengenai kisah Isra
Muhammad berbicara kepada penduduk Mekah bahwa Allah telah memperjalankannya malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaksa  dan bahwa ia bersembahyang di sana. Oleh orang-orang musyrik  kisah  itu diperolok, malah ada sebagian yang sudah Islam pun merasa  ragu. Tidak sedikit orang yang berkata ketika itu: Soalnya sudah  jelas.  Perjalanan kafilah Mekah-Syam yang terus-menerus pun  memakan waktu sebulan pergi dan sebulan pulang. Mana mungkin  hanya satu malam saja Muhammad pergi pulang ke Mekah!
Tidak sedikit mereka yang sudah Islam kemudian berbalik  murtad, dan tidak sedikit pula yang masih merasa sangsi. Mereka pergi  menemui Abu Bakr, karena mereka mengetahui keimanannya dan  persahabatannya dengan Muhammad. Mereka menceritakan apa yang  telah dikatakannya kepada mereka itu mengenai Isra. Terkejut  mendengar apa yang mereka katakan itu Abu Bakr berkata:
"Kalian berdusta."
"Sungguh," kata mereka. "Dia di mesjid sedang berbicara dengan orang banyak."
"Dan kalaupun itu yang dikatakannya," kata Abu Bakr lagi,  "tentu ia mengatakan yang sebenarnya. Dia mengatakan kepadaku,  bahwa ada berita dari Tuhan, dari langit ke bumi, pada waktu malam  atau siang, aku percaya. Ini lebih lagi dari yang kamu herankan."
Abu Bakr lalu pergi ke mesjid dan mendengarkan Nabi yang  sedang melukiskan keadaan Baitulmukadas. Abu Bakr sudah pernah  mengunjungi kota itu.
Selesai Nabi melukiskan keadaan mesjidnya, Abu Bakr berkata: "Rasulullah, saya percaya."
Sejak itu Muhammad memanggil Abu Bakr dengan "as-Siddlq". (Siddiq, orang yang selalu membenarkan, percaya, yang menerapkan kata dengan perbuatan, yang kemudian menjadi gelar Abu Bakr (al-Mu'jam al-Wasit); orang yang  mencintai kebenaran, yakni Nabi Ibrahim dan Nabi Idris (Qur'an, 19. 41, 56). — Pnj.)
Pernahkah suatu kali orang bertanya dalam hati: Sekiranya Abu Bakr juga sangsi seperti yang lain mengenai apa yang diceritakan Rasulullah tentang Isra itu, maka apa pula kiranya yang akan terjadi dengan agama yang baru tumbuh ini, akibat kesangsian itu?  Dapatkah orang memperkirakan berapa banyak jumlah orang yang akan jadi murtad, dan goyahnya keyakinan dalam hati kaum Muslimin yang  lain? Pernahkah kita ingat, betapa jawaban Abu Bakr ini  memperkuat  keyakinan orang banyak, dan betapa pula ketika itu ia telah  memperkuat kedudukan Islam?
Kalau dalam hati orang sudah bertanya-tanya, sudah memperkirakan dan sudah pula ingat, niscaya ia tak akan ragu lagi memberikan penilaian, bahwa iman yang sungguh-sungguh adalah kekuatan yang paling besar dalam hidup kita ini, lebih besar daripada kekuatan kekuasaan dan despotisma sekaligus. Kata-kata Abu Bakr itu  sebenarnya merupakan salah satu inayah Ilahi demi agama yang benar  ini. Katakata itulah sebenarnya yang merupakan pertolongan dan  dukungan yang besar, melebihi dukungan yang diberikan oleh  kekuatan  Hamzah dan Umar sebelumnya. Ini memang suatu kenyataan apabila di dalam  seja-
rah Islam Abu Bakr mempunyai tempat tersendiri sehingga  Rasulullah berkata: "Kalau ada di antara hamba Allah yang akan  kuambil sebagai khalil (teman kesayangan), maka Abu Bakr-lah   khalil-ku. Tetapi persahabatan dan persaudaraan ialah dalam iman,  sampai tiba saatnya Allah mempertemukan kita."
Kata-kata Abu Bakr mengenai Isra itu menunjukkan pemahamannya yang dalam tentang wahyu dan risalah, yang tidak dapat  ditangkap oleh kebanyakan orang. Di sinilah pula Allah telah  memperlihatkan kebijakan-Nya tatkala Rasulullah memilih seorang  teman dekatnya saat ia dipilih oleh Allah menjadi Rasul-Nya untuk  menyampaikan risalah-Nya kepada umat manusia. Itulah pula bukti  yang kuat, bahwa kata yang baik seperti pohon yang baik, akarnya  tertanam kukuh dan cabangnya (menjulang) ke langit, dengan jejak yang abadi sepanjang zaman, dengan karunia Allah. Ia tak akan  dikalahkan oleh waktu, tak akan dilupakan.

Tugasnya sesudah Isra
Sesudah peristiwa Isra itu, sebagai orang yang cukup berpengalaman akan seluk-beluk perbatasan, Abu Bakr tetap menjalankan  usaha dagangnya. Sebagian besar waktunya ia gunakan menemani  Rasulullah dan untuk menjaga orang-orang lemah yang sudah masuk  Islam, melindungi mereka dari gangguan Kuraisy di samping  mengajak mereka yang mulai tergugah hatinya kepada Islam.
Sementara Kuraisy begitu keras mengganggu Nabi dan Abu Bakr serta kaum Muslimin yang lain, belum terlintas dalam pikiran Abu  Bakr akan hijrah ke Abisinia bersama-sama kaum Muslimin yang lain  yang mau tetap bertahan dengan agama mereka.(Ada juga sumber yang menyebutkan, bahwa Abu Bakr bermaksud pergi bersama-sama mereka yang hijrah ke Abisinia; tetapi ia bertemu dengan Rabiah bin ad-Dugunnah yang berkata kepadanya: "Wah, jangan ikut hijrah. Engkau penghubung tali kekeluargaan, engkau yang membenarkan peristiwa Isra, membantu orang tak punya dan engkau  yang mengatur pasang surutnya keadaan." Ia lalu diberi perlindungan keamanan oleh Kuraisy. Abu Bakr tetap tinggal di Mekah dan di serambi rumahnya ia membangun  sebuah  mesjid. Di tempat itu ia sembahyang dan membaca Qur'an. Sekarang Kuraisy  merasa khawatir, perempuan-perempuan dan pemuda-pemuda mereka akan tergoda.  Mereka mengadu kepada Ibn ad-Dugunnah. Abu Bakr mengembalikan jaminan  perlindungan itu dan ia tetap tinggal di Mekah menghadapi segala gangguan.)   Malah ia tetap  tinggal di Mekah bersama Muhammad, berjuang mati-matian demi  dakwah di jalan Allah sambil belajar tentang segala yang  diwahyukan Allah kepada Nabi untuk disiarkan kepada umat manusia.  Dan dengan segala senang hati disertai sifatnya yang lemah lembut, semua harta pribadinya dikorbankannya demi kebaikan mereka yang sudah masuk Islam dan  demi mereka yang diharapkan mendapat petunjuk Allah bagi yang belum  masuk Islam.
Kaum Muslimin di Mekah ketika itu memang sangat  memerlukan perjuangan serupa itu, memerlukan sekali perhatian Abu  Bakr. Dalam pada itu Muhammad masih menerima wahyu dari Allah  dan ia sudah tidak lagi mengharapkan penduduk Mekah akan  menyambut ajakannya itu. Maka ia mengalihkan perhatian kepada kabilah-kabilah. Ia menawarkan diri dan mengajak mereka kepada  agama Allah. Ia telah pergi ke Ta'if, meminta pengertian penduduk  kota itu. Tetapi ia ditolak dengan cara yang tidak wajar. Dalam  hubungannya dengan Tuhan selalu ia memikirkan risalahnya itu dan  untuk berdakwah ke arah itu serta caracaranya untuk menyukseskan  dakwahnya itu.
Dalam pada itu Kuraisy juga tak pernah tinggal diam dan tak  pernah berhenti mengadakan perlawanan. Di samping semua itu, Abu  Bakr juga selalu memikirkan nasib kaum Muslimin yang tinggal di  Mekah, mengatur segala cara untuk ketenteraman dan keamanan hidup  mereka.

Usaha mencegah gangguan Kuraisy
Kalaupun buku-buku sejarah dan mereka yang menulis biografi Abu Bakr tidak menyebutkan usahanya, apa yang disebutkan itu  sudah memadai juga. Tetapi sungguhpun begitu dalam hati saya  terbayang jelas segala perhatiannya itu, serta hubungannya yang  terus-menerus dengan Hamzah, dengan Umar, dengan Usman serta  dengan pemukapemuka Muslimin yang lain untuk melindungi  golongan lemah yang sudah masuk Islam dari gangguan Kuraisy.  Bahkan saya membayangkan hubungannya dulu dengan kalangan luar  Islam, dengan mereka yang tetap berpegang pada kepercayaan mereka,  tetapi berpendapat bahwa Kuraisy tidak berhak memusuhi orang yang  tidak sejalan dengan kepercayaan mereka dalam menyembah  berhala-berhala itu.
Dalam sejarah hidup Rasulullah kita sudah melihat, di antara mereka banyak juga yang membela kaum Muslimin dari gangguan  Kuraisy itu. Juga kita melihat mereka yang telah bertindak  membatalkan piagam pemboikotan tatkala orang-orang Kuraisy sepakat  hendak memboikot Muhammad dan sahabat-sahabatnya serta  memblokade mereka selama tiga tahun terus-menerus di celah-celah  gunung di pinggiran kota Mekah, supaya tak dapat berhubungan dan  berbicara dengan orang di luar selain pada bulan-bulan suci. Saya  yakin, bahwa Abu Bakr, dalam menggerakkan  mereka yang bukan   pengikut-pengikut agama Muhammad, namun turut marah melihat tindakan-tindakan Kuraisy terhadapnya itu, punya pengaruh besar, karena sifatnya yang lemah lembut, tutur katanya yang ramah serta pergaulannya yang menarik. Tindakan Abu  Bakr dalam melindungi kaum Muslimin ketika agama ini baru  tumbuh,  itu pula yang menyebabkan Muhammad lebih dekat kepadanya.  Inilah yang telah mempertalikan kedua orang itu dengan  tali persaudaraan dalam iman, sehingga Muhammad memilihnya  sebagai  teman dekatnya (khalilnya).
Setelah dengan izin Allah agama ini mendapat kemenangan  dengan kekuatan penduduk Yasrib (Medinah) sesudah kedua ikrar  Aqabah, Muhammad pun mengizinkan sahabat-sahabatnya hijrah ke  kota itu. Sama halnya dengan sebelum itu, ia mengizinkan  sahabat-sahabatnya hijrah ke Abisinia. Orang-orang Kuraisy tidak tahu,  Muhammad ikut hijrah atau tetap tinggal di Mekah seperti tatkala  kaum Muslimin dulu hijrah ke Abisinia.
Tahukah Abu Bakr maksud Muhammad, yang oleh Kuraisy tidak diketahui? Segala yang disebutkan mengenai ini hanyalah, bahwa  Abu Bakr meminta izin kepada Muhammad akan pergi hijrah, dan  dijawab: "Jangan tergesa-gesa, kalau-kalau Allah nanti memberikan  seorang teman kepadamu." Dan tidak lebih dari itu.

Bersiap-siap, kemudian hijrah
Di sini dimulai lagi sebuah lembaran baru, lembaran iman yang begitu kuat kepada Allah dan kepada Rasulullah. Abu Bakr sudah  mengetahui benar, bahwa sejak kaum Muslimin hijrah ke Yasrib,  pihak  Kuraisy memaksa mereka yang dapat dikembalikan ke Mekah  harus dikembalikan, dipaksa meninggalkan agama itu. Kemudian  mereka disiksa, dianiaya. Juga ia mengetahui, bahwa orang-orang  musyrik itu berkumpul di DarunNadwah, berkomplot hendak  membunuh Muhammad. Kalau ia menemani Muhammad dalam  hijrahnya itu lalu Kuraisy bertindak membunuh Muhammad, tidak  bisa tidak Abu Bakr juga pasti dibunuhnya. Sungguhpun begitu,  ketika ia oleh Muhammad diminta menunda, ia pun tidak ragu.  Bahkan ia merasa sangat gembira, dan yakin benar ia bahwa kalau ia  hijrah bersama Rasulullah, Allah akan memberikan pahala dan ini  suatu kebanggaan yang tiada taranya. Kalau sampai ia mati terbunuh  bersama dia, itu adalah mati syahid yang akan mendapat surga.
Sejak itu Abu Bakr sudah menyiapkan dua ekor unta sambil  menunggu perkembangan lebih lanjut bersama kawannya itu. Sementara sore itu ia di rumah tiba-tiba datang Muhammad  seperti biasa tiap sore. Ia memberitahukan bahwa Allah telah  mengizinkan ia hijrah ke Yasrib. Abu Bakr menyampaikan keinginannya kepada Rasulullah sekiranya dapat menemaninya dalam hijrahnya itu; dan permintaannya itu pun dikabulkan.
Khawatir Muhammad akan melarikan diri sesudah kembali ke rumahnya, pemuda-pemuda Kuraisy segera mengepungnya.  Muhammad membisikkan kepada Ali bin Abi Talib supaya ia  mengenakan mantel Hadramautnya yang hijau dan berbaring di tempat  tidurnya. Hal itu dilakukan oleh Ali. Lewat tengah malam, dengan  tidak setahu pemudapemuda Kuraisy ia keluar pergi ke rumah Abu  Bakr. Ternyata Abu Bakr memang sedang jaga menunggunya. Kedua  orang itu kemudian keluar dari celah pintu belakang dan bertolak ke  arah selatan menuju Gua Saur. Di dalam gua itulah mereka bersembunyi. Pemuda-pemuda Kuraisy itu segera bergegas ke setiap lembah  dan gunung mencari Muhammad untuk dibunuh. Sampai di Gua Saur salah seorang dari mereka naik ke atas gua  itu kalau-kalau dapat menemukan jejaknya. Saat itu Abu Bakr sudah  mandi keringat ketika terdengar suara mereka memanggil-manggil. Ia  menahan nafas, tidak bergerak dan hanya menyerahkan nasib kepada  Allah. Tetapi Muhammad masih tetap berzikir dan berdoa kepada  Allah. Abu Bakr makin merapatkan diri ke dekat kawannya itu, dan  Muhammad berbisik di telinganya:
"Jangan bersedih hati. Tuhan bersama kita."
Pemuda-pemuda Kuraisy itu melihat ke sekeliling gua dan yang  dilihatnya hanya laba-laba yang sedang menganyam sarangnya di mulut gua itu. la kembali ke tempat teman-temannya dan mereka bertanya kenapa ia tidak masuk. "Ada laba-laba di tempat itu, yang memang sudah ada sejak sebelum Muhammad lahir." Dengan perasaan  dongkol pemuda-pemuda itu pergi meninggalkan tempat tersebut.  Setelah mereka menjauh Muhammad berseru: "Alhamdulillah, Allahu  Akbar!" Apa yang disaksikan Abu Bakr itu sungguh makin  menambah  kekuatan imannya.

Apa penyebab ketakutan Abu Bakr ketlka dalam gua?
Adakah rasa takut pada Abu Bakr itu sampai ia bermandi  keringat dan merapatkan diri kepada Rasulullah karena ia sangat  mendambakan kehidupan dunia, takut nasibnya ditimpa bencana? Atau  karena ia tidak memikirkan dirinya lagi tapi yang dipikirkannya hanya  Rasulullah dan jika mungkin ia akan mengorbankan diri demi  Rasulullah? Bersumber dari Hasan bin Abil-Hasan al-Basri, Ibn  Hisyam  menuturkan: "Ketika malam itu Rasulullah Sallallahu  'alaihi  wasallam dan Abu Bakr memasuki gua, Abu Bakr  radiallahu   'anhu  masuk lebih dulu  sebelum Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam sambil meraba-raba gua itu untuk mengetahui kalau-kalau di tempat itu ada binatang buas atau  ular.  Ia mau melindungi Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam dengan  dirinya."
Begitu juga sikapnya ketika dalam keadaan begitu genting demikian terdengar suara pemuda-pemuda Kuraisy, ia berbisik di telinga Nabi: "Kalau saja mereka ada yang menjenguk ke bawah, pasti  mereka melihat kita." Pikirannya bukan apa yang akan menimpa  dirinya, tetapi yang dipikirkannya Rasulullah dan perkembangan  agama,  yang untuk itu ia berdakwah atas perintah Allah, kalau  sampai  pemuda-pemuda itu berhasil membunuhnya. Bahkan barangkali  pada saat itu tiada lain yang dipikirkannya, seperti seorang ibu yang  khawatir akan keselamatan anaknya. Ia gemetar ketakutan, ia gelisah.  Tak lagi ia dapat berpikir. Bila ada bahaya mengancam, ia akan terjun  melemparkan diri ke dalam bahaya itu, sebab ia ingin melindungi  atau  mati demi anaknya itu. Ataukah Abu Bakr memang lebih gelisah  dari ibu itu, lebih menganggap enteng segala bahaya yang datang,  karena imannya kepada Allah dan kepada Rasulullah memang sudah  lebih kuat dari cintanya kepada kehidupan dunia, dari naluri seorang  ibu dan dari segala yang dapat dirasakan oleh perasaan kita dan apa  yang terlintas dalam pikiran kita?! Coba kita bayangkan, betapa iman  itu menjelma di depannya, dalam diri Rasulullah, dan dengan itu  segala makna yang kudus menjelma pula dalam bentuk kekudusan dan  kerohaniannya yang agung dan cemerlang!
Saat ini saya membayangkan Abu Bakr sedang duduk dan  Rasulullah di sampingnya. Juga saya membayangkan bahaya yang  sedang mengancam kedua orang  itu.  Imajinasi  saya tak dapat  membantu  mengugkapkan segala yang terkandung dalam lukisan  hidup yang luar biasa ini, tak ada bandingannya dalam bentuk yang  bagaimanapun.

Apa artinya pengorbanan raja-raja dan para pemimpin  dibandingkan dengan pengorbanan Rasulullah
Sejarah menceritakan kepada kita kisah orang-orang yang telah  mengorbankan diri demi seorang pemimpin atau raja. Dan pada  zaman kita ini pun banyak pemimpin yang dikultuskan orang. Mereka  lebih dicintai daripada diri mereka sendiri. Tetapi keadaan Abu Bakr  dalam gua jauh berbeda. Para pakar psikologi perlu sekali membuat  analisis yang cermat tentang dia, dan yang benar-benar dapat  melukiskan keadaannya itu. Apa artinya keyakinan orang kepada  seorang pemimpin dan raja dibandingkan dengan keyakinan Abu Bakr  kepada Rasulullah yang telah menjadi pilihan Allah dan  mewahyukannya dengan agama yang benar!? Dan apa pula artinya  pengorbanan orang untuk pemimpin-pemimpin dan raja-raja itu dibandingkan dengan apa yang  berkecamuk dalam pikiran Abu Bakr saat itu, yang begitu khawatir  terjadi bahaya menimpa keselamatan Rasulullah. Lebih-lebih lagi jika  tak sampai dapat menolak bahaya itu. Inilah keagungan yang sungguh  cemerlang, yang rasanya sudah tak mungkin dapat dilukiskan lagi.  Itulah sebabnya penulis-penulis biografi tak ada yang menyinggung  soal ini.
Setelah putus asa mereka mencari dua orang itu, keduanya  keluar dari tempat persembunyian  dan  meneruskan perjalanan.  Dalam   perjalanan itu pun bahaya yang mereka hadapi tidak kurang pula  dari bahaya yang mengancam mereka selama di dalam gua.
Abu Bakr masih dapat membawa sisa laba perdagangannya sebanyak lima ribu dirham. Setiba di Medinah dan orang menyambut  Rasulullah begitu meriah, Abu Bakr memulai hidupnya di kota itu  seperti halnya dengan  kaum Muhajirin  yang  lain,  meskipun   kedudukannya tetap di samping Rasulullah, kedudukan sebagai  khalil,   sebagai  asSiddlq dan sebagai menteri penasehat.

Abu Bakr di Madinah
Abu Bakr tinggal di Sunh di pinggiran kota Medinah, pada keluarga Kharijah bin Zaid dari Banu al-Haris dari suku Khazraj.  Ketika Nabi mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Ansar Abu  Bakr dipersaudarakan dengan Kharijah. Abu Bakr kemudian disusul  oleh keluarganya dan anaknya yang tinggal di Mekah. la mengurus  keperluan hidup mereka. Keluarganya mengerjakan pertanian — seperti  juga keluarga Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Talib — di tanah  orang-orang Ansar bersama-sama dengan pemiliknya. Bolehjadi  Kharijah bin Zaid ini salah seorang pemiliknya. Hubungan orang ini  lambat laun makin dekat dengan Abu Bakr. Abu Bakr kawin dengan  putrinya — Habibah — dan dari perkawinan ini kemudian lahir Umm Kulsum, yang ditinggalkan wafat oleh Abu Bakr ketika ia sedang dalam  kandungan  Habibah. Keluarga Abu Bakr tidak tinggal bersamanya di rumah Kharijah bin Zaid di Sunh, tetapi Umm Ruman dan putrinya Aisyah serta keluarga Abu Bakr yang lain tinggal di Medinah, di sebuah rumah  berdekatan dengan rumah Abu Ayyub al-Ansari, tempat Nabi tinggal.  Ia mundarmandir ke tempat mereka, tetapi lebih banyak di tinggal  di  Sunh, tempat istrinya yang baru.

Terserang demam
Tak lama tinggal di Medinah ia mendapat serangan demam, yang juga banyak menyerang penduduk Mekah yang baru hijrah ke  Medinah, disebabkan oleh perbedaan iklim udara tempat kelahiran  mereka dengan udara tempat tinggal yang sekarang. Udara Mekah adalah udara  Sahara, kering, sedang udara Medinah lembab, karena cukup air dan  pepohonan. Menurut sumber dari Aisyah disebutkan bahwa demam  yang menimpa ayahnya cukup berat, sehingga ia mengigau. Setelah puas dengan tempat tinggal yang baru ini, dan setelah  bekerja keras sehingga keluarganya sudah tidak memerlukan lagi  bantuan Ansar, seluruh perhatiannya sekarang dicurahkan untuk  membantu Rasulullah dalam memperkuat Muslimin, tak peduli  betapa  beratnya pekerjaan itu dan besarnya pengorbanan.

Kemarahan Abu Bakr
Orang  yang begitu damai  dan tenang ini tak pernah  mengenal marah, kecuali ketika melihat musuh-musuh dakwah yang terdiri dari orang-orang Yahudi dan kaum Munafik itu mulai berolok-olok dan  main tipu muslihat. Rasulullah dan kaum Muslimin dengan pihak  Yahudi sudah membuat perjanjian, masing-masing menjamin  kebebasan  menjalankan dakwah agamanya serta bebas melaksanakan  upacara-upacara keagamaannya masing-masing. Orang-orang Yahudi  itu pada mulanya mengira bahwa mereka mampu mengambil  keuntungan dari kaum Muslimin yang datang dari Mekah dalam  menghadapi Aus dan Khazraj. Tetapi setelah ternyata tak berhasil  mereka memecah belah kaum Muhajirin dengan kaum Ansar, mulailah  mereka menjalankan tipu muslihat dan memperolok agama. Beberapa  orang Yahudi berkumpul mengerumuni salah seorang dari mereka yang  bernama Finhas. Dia adalah pendeta dan pemuka agama mereka. Ketika Abu Bakr datang dan melihat mereka, ia berkata kepada Finhas ini:  "Finhas, takutlah engkau kepada Allah dan terimalah Islam. Engkau  tahu bukan bahwa Muhammad Rasulullah. Dia telah datang kepada kita dengan sebenarnya sebagai utusan Allah. Kalian akan melihat itu  dalam Taurat dan Injil."
Dengan berolok dan senyum mengejek di bibir Finhas berkata:
"Abu Bakr, bukan kita yang memerlukan Tuhan, tapi Dia yang  memerlukan kita. Bukan kita yang meminta-minta kepada-Nya,  tetapi  Dia yang meminta-minta kepada kita. Kita tidak  memerlukan-Nya,  tapi Dialah yang memerlukan kita. Kalau Dia  kaya,  tentu tidak akan minta dipinjami harta kita, seperti yang  didakwakan oleh pemimpinmu itu. Ia melarang kalian menjalankan  riba, tapi kita akan diberi jasa. Kalau Ia kaya, tentu Ia tidak akan  menjalankan ini."
Yang dimaksud oleh kata-kata Finhas itu firman Allah:

Siapakah  yang  hendak  meminjamkan  kepada  Allah  pinjaman yang baik, yang akan Ia lipatgandakan dengan sebanyak-banyaknya." (Qur'an, 2. 245).

Setelah Abu Bakr melihat orang ini memperolok firman Allah  serta wahyu-Nya kepada Nabi, ia tak dapat menahan diri, dipukulnya  muka Finhas itu keras-keras seraya katanya:
"Demi Allah,  kalau tidak karena adanya perjanjian  antara kami dengan kamu sekalian, kupukul kepalamu. Engkaulah musuh Tuhan!"
Bukanlah aneh juga Abu Bakr menjadi begitu keras, orang yang begitu tenang, damai dan rendah hati itu. Ia menjadi sedemikian rupa padahal usianya sudah melampaui lima puluh tahun!
Kemarahannya kepada Finhas ini mengingatkan kita kepada  kemarahan yang sama lebih sepuluh tahun yang silam, yaitu ketika  Persia mengalahkan Rumawi, Persia Majusi dan Rumawi Ahli Kitab.  Kaum Muslimin ketika itu merasa sedih karena diejek kaum musyrik  yang menduga bahwa pihak Rumawi kalah karena juga Ahli Kitab  seperti mereka. Ada seorang musyrik menyinggung soal ini di depan  Abu Bakr dengan begitu bersemangat bicaranya, sehingga Abu Bakr  naik pitam. Diajaknya orang itu bertaruh dengan sepuluh ekor unta  bahwa kelak Rumawi yang akan mengalahkan pihak Majusi sebelum  habis tahun itu. Hal ini menunjukkan bahwa Abu Bakr akan sangat  marah jika sudah mengenai akidah dan keimanannya yang begitu  tulus  kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah sikapnya tatkala ia berusia  empat puluh, dan tetap itu juga setelah sekarang usianya lima puluh  tahun sampai kemudian ketika ia sudah menjadi Khalifah dan  memegang pimpinan kaum Muslimin.


Kekuasaan iman pada Abu Bakr
Keimanan yang tulus inilah yang menguasai Abu Bakr,  menguasai segala perasaannya, sepanjang hidupnya, sejak ia menjadi  pengikut Rasulullah. Orang akan dapat menganalisis segala peristiwa  kejiwaannya dan perbuatannya serta segala tingkah lakunya itu kalau  orang mau melihatnya dari segi moral. Sebaliknya, semua yang di luar  itu, tak ada pengaruhnya dan segala keinginan yang biasa  mempengaruhi hidup manusia, dan banyak juga kaum Muslimin ketika  itu yang terpengaruh, buat dia tak ada artinya. Yang berkuasa terhadap  dirinya — hati nuraninya, pikiran dan jiwanya — semua  hanyalah demi Allah dan Rasul-Nya. Semua itu adalah iman, iman  yang sudah mencapai tingkat tertinggi, tingkat siddiqin, yang sudah  begitu baik tempatnya.
Ketika Rasulullah di Badr
Kemudian kita lihat apa yang terjadi dalam perang Badr. Pihak Mekah sudah menyusun barisan, Nabi pun sudah pula mengatur  kaum Muslimin siap menghadapi perang. Seperti diusulkan oleh Sa'd  bin Mu'az, ketika itu pihak Muslimin membangun sebuah dangau di  barisan belakang, sehingga jika nanti kemenangan berada di pihak  mereka, Rasulullah dapat kembali ke Medinah. Abu Bakr dan Nabi tinggal dalam dangau itu sambil mengawasi jalannya pertempuran. Dan bila pertempuran dimulai dan Muhammad melihat jumlah pihak musuh yang begitu besar sedang anak buahnya hanya sedikit, ia berpaling ke arah kiblat, menghadapkan diri dengan seluruh hati sanubarinya kepada Allah. Ia mengimbau Tuhan akan segala apa yang telah dijanjikan-Nya. Ia membisikkan permohonan  dalam hatinya agar Allah memberikan pertolongan, sambil katanya:
"Allahumma ya Allah! Inilah Kuraisy sekarang datang dengan  segala kecongkakannya, berusaha hendak mendustakan Rasul-Mu. Ya  Allah, pertolongan-Mu juga yang Kaujanjikan kepadaku. Ya Allah,  jika  pasukan ini sekarang binasa tidak lagi ada ibadah kepada-Mu."
Sementara ia masih hanyut dalam doa kepada Tuhan sambil merentangkan tangan menghadap kiblat itu,  mantelnya terjatuh.  Dalam keadaan serupa itu ia terangguk sejenak terbawa kantuk, dan ketika  itu juga tampak olehnya pertolongan Allah itu datang. Ia sadar  kembali, kemudian ia bangun dengan penuh rasa gembira. Ia keluar  menemui sahabat-sahabatnya sambil berkata kepada mereka:
"Demi Dia yang memegang hidup Muhammad. Setiap seorang  yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus  maju dan pantang mundur, lalu ia tewas, maka Allah akan  menempatkannya di dalam surga."

Abu Bakr di Badr
Demikianlah keadaan Rasulullah. Tidak yakin akan kemenangan anak buahnya yang hanya sedikit itu dalam menghadapi lawan yang iauh lebih banyak, dengan diam-diam jiwanya mengadakan hubungan dengan Allah memohon pertolongan. Kemudian terbuka di  hadapannya tabir hari yang amat menentukan itu dalam sejarah Islam.
Abu Bakr, ia tetap di samping Rasulullah. Dengan penuh iman  ia percaya bahwa Allah pasti akan menolong agama-Nya, dan dengan  hati penuh kepercayaan akan datangnya pertolongan itu, dengan penuh kekaguman akan Rasulullah dalam imbauannya kepada Allah, dengan perasaan terharu kepada Rasulullah karena kekhawatiran yang begitu besar  menghadapi  nasib  yang  akan  terjadi  hari  itu,  ketika  itulah Rasulullah berdoa, mengimbau, bermohon dan meminta kepada Allah akan memenuhi janji-Nya. Itulah yang diulangnya, diulang sekali  lagi, hingga mantelnya terjatuh, Itulah yang membuatnya mengimbau  sambil ia mengembalikan mantel itu ke bahu Nabi: "Rasulullah,  dengan  doamu Allah akan memenuhi apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu."

Kebenaran dan kasih sayang menyatu dalam dirinya
Banyak orang yang sudah biasa dengan suatu kepercayaan sudah tak ragu lagi, sampai-sampai ia jadi fanatik dan kaku dengan kepercayaannya itu. Bahkan ada yang sudah tidak tahan lagi melihat muka orang yang berbeda kepercayaan. Mereka menganggap bahwa iman yang sebenarnya harus fanatik, keras, dan tegar. Sebaliknya Abu Bakr, dengan keimanannya yang begitu agung dan begitu teguh, tak pernah  ia goyah dan ragu, jauh dari sikap kasar. Sikapnya lebih lunak, penuh  pemaaf, penuh kasih bila iman itu sudah mendapat kemenangan.  Dengan begitu, dalam hatinya terpadu dua prinsip kemanusiaan yang  paling mendasari: mencintai kebenaran, dan penuh kasih sayang.  Demi  kebenaran itu segalanya bukan apa-apa baginya, terutama  masalah  hidup duniawi.» Apabila kebenaran  itu  sudah dijunjung  tinggi,   maka lahir pula rasa kasih sayang, dan ia akan berpegang teguh  pada prinsip ini seperti pada yang pertama. Terasa lemah ia  menghadapi  semua itu sehingga matanya basah oleh air mata yang deras  mengalir.

Sikapnya terhadap tawanan Badr
Setelah mendapat kemenangan di Badr, kaum Muslimin kembali  ke Medinah dengan membawa tawanan perang Kuraisy. Mereka ini  masih ingin hidup, ingin kembali ke Mekah, meskipun dengan  tebusan  yang mahal. Tetapi mereka masih khawatir Muhammad akan  bersikap keras kepada mereka mengingat gangguan mereka terhadap  sahabat-sahabatnya selama beberapa tahun dahulu yang berada di  tengah-tengah mereka. Mereka berkata satu sama lain: "Sebaiknya kita  mengutus orang kepada Abu Bakr. Ia paling menyukai silaturahmi  dengan Kuraisy, paling punya rasa belas kasihan, dan kita tidak  melihat Muhammad menyukai yang lain lebih dari dia." Mereka lalu  mengirim delegasi kepada Abu Bakr.
"Abu Bakr," kata mereka kemudian, "di antara kita ada yang  masih pernah orangtua, saudara, paman atau mamak kita serta saudara  sepupu kita. Orang yang jauh dari kita pun masih kerabat kita.  Bicarakanlah dengan sahabatmu itu supaya ia bermurah hati kepada  kami atau menerima tebusan kami."
Dalam hal ini Abu Bakr berjanji akan berusaha. Tetapi mereka masih khawatir Umar bin Khattab akan mempersulit urusan mereka ini. Lalu mereka juga bicara dengan Umar seperti pcmbicaraannya dengan Abu Bakr. Tetapi Umar menatap muka mereka dengan mata penuh curiga tanpa memberi jawaban. Kemudian Abu Bakr sendiri yang bertindak sebagai perantara kepada Rasulullah mewakili orang-orang Kuraisy musyrik itu. la mcngharapkan belas kasihannya dan sikap yang lebih lunak terhadap  mereka. la menolak alasan-alasan Umar yang mau main keras  terhadap  mereka. Diingatkannya pertalian kerabat antara mereka  dengan  Nabi. Apa yang dilakukannya itu sebenarnya karena memang  sudah bawaannya sebagai orang yang lembut hati, dan kasih sayang  baginya sama dengan keimanannya pada kebenaran dan keadilan.  Barangkali dengan mata hati nuraninya ia melihat peranan kasih  sayang itu juga yang akhirnya akan menang. Manusia akan menuruti  kodrat yang ada dalam dirinya dan dalam keyakinannya sclama ia  melihat sifat kasih sayang itu adalah peri kemanusiaan yang agung,  jauh daii segala sifat lcmah dan hawa nafsu. Yang menggerakkan  hatinya hanyalah kekuatan dan kemampuan. Atau, kekuasaan  manusia  terhadap dirinya ialah kckuasaan yang dapat meredam  bengisnya kekuatan, dapat melunakkan kejamnya kekuasaan.

Arah hidupnya sesudah Badr
Sebenarnya Perang Badr itu merupakan permulaan hidup baru  buat kaum Muslimin, juga merupakan permulaan arah baru dalam  hidup Abu Bakr. Kaum Muslimin mulai mengatur siasat dalam  menghadapi Kuraisy dan kabilah-kabilah sekitarnya yang melawan  mereka.  Abu Bakr mulai bekerja dengan Nabi dalam mengatur siasat  itu berlipat ganda ketika masih tinggal di Mckah dulu dalam  melindungi kaum Muslimin. Pihak Muslimin semua sudah tahu,  bahwa  Kuraisy tidak akan tinggal diam sebelum mereka dapat  membalas dendam kejadian di Badr itu. Juga mereka mengetahui  bahwa dakwah yang baru tumbuh ini perlu sekali mendapat perlindungan  dan perlu mempertahankan diri dari segala scrangan terhadap mereka itu. Jadi harus ada perhitungan,  hams ada pengaturan siasat. Dengan posisinya di samping Rasulullah seperti yang sudah kita lihat, Abu Bakr tak akan dapat bekerja tanpa adanya perhitungaji dan pengaturan serupa itu, supaya jangan timbul kekacauan di dalam kota Medinah atas hasutan pihak Yahudi dan golongan munafik, dan  supaya jangan ada serangan pihak luar ke Madinah.
Abu Bakr dan Umar; pembantu Rasulullah
Kemenangan Muslimin di Badr itu juga sebenarnya telah mengangkat martabat mereka. Inilah yang telah menimbulkan kedengkian  di pihak lawan. Pada pihak Yahudi timbul rasa sakit hati yang  tadinya biasa-biasa saja. Dalam hati kabilah-kabilah di sekitar  Medinah  yang tadinya merasa aman kini timbul rasa khawatir. Tidak  bisa lain, untuk mencegah apa yang mungkin timbul dari mereka itu,  diperlukan suatu siasat yang mantap, suatu perhitungan yang saksama.  Musyawarah yang terus-menerus antara Nabi dengan sahabat-sahabat  telah diadakan. Abu Bakr dan Umar oleh Nabi diambil sebagai  pembantu dekat (wazir) guna mengatur siasat baru, yang sekaligus  merupakan batu penguji mengingat adanya perbedaan watak pada  kedua orang itu, meskipun mereka sama-sama jujur dan ikhlas dalam  bermusyawarah. Di samping dengan mereka ia juga bermusyawarah  dengan kaum Muslimin yang lain. Musyawarah ini memberi pengaruh  besar dalam arti persatuan dan pembagian tanggung jawab demikian,  sehingga masing-masing mereka merasa turut memberikan saham.
Sebagai penangkal akibat dendam kesumat pihak Yahudi itu  kaum Muslimin sekarang mengepung Banu Qainuqa' dan  mengeluarkan  mereka dari  Medinah. Begitu juga akibat rasa  kekhawatiran kabilah-kabilah yang berada di sekeliling Medinah,  mereka berkumpul hendak mengadakan serangan ke dalam kota.  Tetapi begitu mendengar Muhammad keluar hendak menyongsong  mereka, mereka sudah lari ketakutan.

Dalam perang Uhud
Berita-berita demikian itu tentu sampai juga ke Mekah, dan ini  tidak menutup pikiran Kuraisy hendak membalas dendam atas  kekalahan mereka di Badr itu. Dalam upaya mereka hendak menuntut  balas itu mereka akan berhadapan dengan pihak Muslimin di Uhud.  Di  sinilah terjadi pertempuran hebat. Tetapi hari itu kaum Muslimin  mengalami bencana tatkala pasukan pemanah melanggar perintah Nabi.  Mereka meninggalkan posnya, pergi memperebutkan harta rampasan  perang. Saat itu Khalid bin Walid mengambil kesempatan, Kuraisy  segera mengadakan serangan dan kaum Muslimin mengalami  kekacauan. Waktu itulah Nabi terkena lemparan batu yang dilakukan  oleh kaum musyrik. Lemparan itu mengenai pipi dan wajahnya,  sehingga Kuraisy berteriakteriak mengatakan Nabi sudah meninggal.  Kalau tidak karena pahlawanpahlawan Islam ketika itu segera  mengelilinginya, dengan mengorbankan diri dan nyawa mereka, tentu  Allah waktu itu sudah akan menentukan nasib lain terhadap mereka.
Sejak itu Abu Bakr lebih sering lagi mendampingi Nabi, baik  dalam peperangan maupun ketika di dalam kota di Medinah.
Orang masih ingat sejarah Muslimin — sampai keadaan jadi  stabil sesudah  pembebasan  Mekah  dan  masuknya Banu  Saqif di   Ta'if ke dalam pangkuan Islam — penuh tantangan berupa  peristiwa-peristiwa perang, atau dalam usaha mencegah perang atau  untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Belum lagi  peristiwa-peristiwa kecil lainnya dalam bentuk ekspedisi-ekspedisi atau  patroli. Waktu itu orang-orang Yahudi — dipimpin oleh Huyai bin  Akhtab — tak henti-hentinya menghasut kaum Muslimin.  Begitu  juga  Kuraisy,  mereka berusaha matimatian mau melemahkan dan  menghancurkan kekuatan Islam. Terjadinya perang Banu Nadir,   Khandaq dan Banu Quraizah dan diselang seling dengan  bentrokan-bentrokan lain, semua itu akibat politik Yahudi dan  kedengkian Kuraisy.
Dalam semua peristiwa dan kegiatan itu Abu Bakr lebih banyak mendampingi Nabi. Dialah yang paling kuat kepercayaannya pada  ajaran Nabi. Setelah Rasulullah merasa aman melihat ketahanan Medinah, dan tiba waktunya untuk mengarahkan langkah ke arah yang baru — semoga Allah  membukakan jalannya untuk menyempurnakan   agama-Nya — maka peranan yang dipegang Abu Bakr itu telah  menambah keyakinan kaum Muslimin bahwa sesudah Rasulullah,  dialah  orang yang punya tempat dalam hati mereka, orang yang sangat mereka hargai.

Sikapnya di Hudaibiyah
Enam tahun setelah hijrah kaum Muslimin ke Medinah  Muhammad mengumumkan kepada orang banyak untuk mengerjakan  ibadah haji ke Mekah. Berita perjalanan jemaah ini sampai juga kepada  Kuraisy. Mereka bersumpah tidak akan membiarkan Muhammad  memasuki Mekah secara paksa. Maka Muhammad dan para sahabat  pun tinggal di Hudaibiyah, di pinggiran kota Mekah. Ia berpegang  teguh pada perdamaian dan ia menolak setiap usaha yang akan  menimbulkan bentrokan dengan Kuraisy. Diumumkannya bahwa  kedatangannya adalah akan menunaikan ibadah haji, bukan untuk  berperang. Kemudian dilakukan tukar-menukar delegasi dengan  pihak  Kuraisy, yang berakhir dengan persetujuan, bahwa tahun ini ia harus pulang dan boleh kembali lagi tahun depan.
Kaum Muslimin banyak yang marah, termasuk Umar bin  Khattab, karena harus mengalah dan harus pulang. Mereka  berpendapat,  isi perjanjian ini merendahkan martabat agama mereka.  Tetapi Abu Bakr langsung percaya dan yakin akan kebijaksanaan  Rasulullah. Setelah kemudian turun Surah Fath (48) bahwa persetujuan Hudaibiyah itu  adalah suatu kemenangan yang nyata, dan Abu Bakr dalam hal ini,  seperti juga dalam peristiwa-peristiwa lain, ialah  as-Siddiq,  yang  tulus  hati, yang segera percaya.

Kekuatan Muslimin dan mengalirnya para utusan
Integritas dakwah Islam makin hari makin kuat. Kedudukan  Muslimin  di Medinah juga makin  kuat.  Salah  satu  manifestasi   kekuatan mereka, mereka telah mampu mengepung pihak Yahudi di   Khaibar, Fadak dan Taima', dan mereka menyerah pada kekuasaan  Muslimin, sebagai pendahuluan untuk kemudian mereka dikeluarkan  dari tanah Arab. Di samping itu, manifestasi lain kuatnya Muslimin  waktu itu serta tanda kukuhnya dakwah Islam ialah dengan dikirimnya  surat-surat oleh Muhammad kepada raja-raja dan para amir  (penguasa)  di Persia, Bizantium, Mesir, Hira, Yaman dan  negeri-negeri  Arab di sekitarnya atau yang termasuk amirat-nya..
Adapun gejala yang paling menonjol tentang sempurna dan kuatnya dakwah itu ialah bebasnya Mekah dan pengepungan Ta'if.  Dengan itu cahaya agama yang baru ini sekarang sudah bersinar ke  seluruh Semenanjung, sampai ke perbatasan kedua imperium besar  yang memegang tampuk pimpinan dunia ketika itu: Rumawi dan  Persia. Dengan demikian Rasulullah dan kaum Muslimin sudah merasa  lega atas pertolongan Allah itu, meskipun tetap harus waspada  terhadap  kemungkinan adanya serangan dari pihak-pihak yang ingin  memadamkan cahaya agama yang baru ini.

Bersinarnya cahaya Islam
Setelah orang-orang Arab melihat adanya kekuatan  ini delegasi mereka datang berturut-turut dari segenap Semenanjung, menyatakan keimanannya pada agama baru ini. Bukankah pembawa dakwah ini pada mulanya hanya seorang diri?! Sekarang ia sudah dapat  mengalahkan Yahudi, Nasrani, Majusi dan kaum musyrik. Bukankah  hanya kebenaran yang akan mendapat kemenangan? Adakah tanda  yang lebih jelas bahwa memang dakwahnya itulah yang benar, yang mutlak mendapat kemenangan atas mereka semua itu? Ia tidak  bermaksud menguasai mereka. Yang dimintanya hanyalah beriman  kepada Allah, dan berbuat segala yang baik. Inilah logika yang amat  manusiawi, diakui oleh umat manusia pada setiap zaman dan mereka  beriman di mana pun mereka berada. Ini juga logika yang diakui oleh  akal pikiran manusia. Kekuatan argumentasinya yang tak dapat  dikalahkan itu sudah dibuktikan oleh sejarah.
Abu Bakr memimpin jamaah haji
Allah telah  mengizinkan kaum Muslimin melengkapi kewajiban agamanya,  dan  ibadah  haji  itulah  kelengkapannya.  Oleh  karena  itu dengan adanya delegasi yang berturut-turut itu tidak  memungkinkan Rasulullah meninggalkan Medinah pergi ke Baitullah.  Maka dimintanya Abu Bakr memimpin jamaah pergi menunaikan  ibadah  haji. la berangkat bersama tiga ratus orang. Mereka  melaksanakan ibadah itu, melaksanakan tawaf dan sai. Dalam musim  haji inilah Ali bin Abi Talib mengumumkan — sumber lain   menyebutkan  Abu  Bakr yang mengumumkan — bahwa sesudah  tahun  itu tak boleh lagi kaum musyrik ikut berhaji. Kemudian orang  menunda empat bulan lagi supaya setiap golongan dapat kembali ke tempat tinggal dan negeri masing-masing. Sejak hari itu, sampai sekarang, dan sampai waktu yang  dikehendaki Allah, tak akan ada lagi orang musyrik pergi berhaji  ke  Baitullah, dan tidak akan ada.

Haji Perpisahan dan keberangkatan Usamah
Tahun kesepuluh Hijri Rasulullah melaksanakan ibadah haji perpisahan. Abu Bakr juga ikut serta. Rasulullah  Sallallahu  'alaihi wasallam berangkat bersama semua istrinya, yang juga diikuti oleh  seratus ribu orang Arab atau lebih. Sepulang dari melaksanakan  ibadah  haji, Nabi tidak lama lagi tinggal di Medinah. Ketika itu  dikeluarkannya perintah supaya satu pasukan besar disiapkan  berangkat ke Syam, terdiri dari kaum Muhajirin yang mula-mula,  termasuk Abu Bakr dan Umar. Pasukan itu sudah bermarkas di Jurf  (tidak jauh dari Medinah) tatkala tersiar berita, bahwa Rasulullah jatuh  sakit. Perjalanan itu tidak diteruskan dan karena sakit Rasulullah  bertambah keras, orang makin cemas.

Abu Bakr memimpin salat
Karena sakit bertambah berat juga maka Nabi meminta Abu Bakr memimpin sembahyang. Disebutkan bahwa Aisyah pernah  mengatakan: "Setelah sakit Rasulullah  Sallallahu  'alaihi wasallam  semakin berat Bilal datang mengajak bersembayang: 'Suruh Abu Bakr  memimpin salat!' Kataku: Rasulullah, Abu Bakr cepat terharu dan  mudah menangis. Kalau dia menggantikanmu suaranya tak akan  terdengar. Bagaimana kalau perintahkan kepada Umar saja! Katanya:  'Suruh Abu Bakr memimpin sembahyang!' Lalu kataku kepada  Hafsah: Beritahukanlah kepadanya bahwa Abu  Bakr orang  yang   cepat terharu dan  kalau  dia menggantikanmu suaranya tak akan  terdengar. Bagaimana kalau perintahkan kepada Umar saja! Usul itu  disampaikan oleh Hafsah. Tetapi kata Nabi lagi: Kamu seperti perempuan-perempuan yang di  sekeliling Yusuf. Suruhlah Abu Bakr memimpin sembahyang. Kemudian  kata Hafsah kepada Aisyah: Usahaku tidak lebih baik dari yang  kaulakukan."
Sekarang Abu Bakr bertindak memimpin salat sesuai dengan perintah Nabi. Suatu hari, karena Abu Bakr tidak ada di tempat ketika oleh Bilal dipanggil hendak bersembahyang, maka Umar yang  diminta mengimami salat. Suara Umar cukup lantang, sehingga ketika  mengucapkan takbir di mesjid terdengar oleh Muhammad dari rumah  Aisyah, maka katanya:
"Mana Abu Bakr? Allah dan kaum Muslimin tidak menghendaki yang demikian."
Dengan itu orang menduga, bahwa Nabi menghendaki Abu Bakr sebagai penggantinya kelak, karena memimpin orang-orang salat merupakan tanda pertama untuk menggantikan kedudukan Rasulullah.
Sementara masih dalam sakitnya itu suatu hari Muhammad  keluar ke tengah-tengah kaum Muslimin di mesjid, dan antara lain ia  berkata:
"Seorang hamba oleh Allah disuruh memilih tinggal di dunia ini atau di sisi-Nya, maka ia memilih berada di sisi Allah." Kemudian diam. Abu Bakr segera mengerti, bahwa yang dimaksud oleh Nabi  dirinya. Ia tak dapat menahan air mata dan ia menangis, seraya katanya:
"Kami akan menebus Tuan dengan jiwa kami dan anak-anak kami." Setelah itu Muhammad minta semua pintu mesjid ditutup kecuali pintu yang ke tempat Abu Bakr. Kemudian katanya sambil menunjuk kepada Abu Bakr: "Aku belum tahu ada orang yang lebih bermurah hati dalam bersahabat dengan aku seperti dia. Kalau ada dari hamba Allah yang akan kuambil sebagai khalil (teman) maka Abu Bakr-lah khalil-ku. Tetapi persahabatan dan persaudaraan ini dalam iman, sampai tiba saatnya Allah mempertemukan kita di sisi-Nya."
Pada hari ketika ajal Nabi tiba ia keluar waktu subuh ke mesjid sambil bertopang kepada Ali bin Abi Talib dan Fadl bin al-Abbas.  Abu Bakr waktu itu sedang mengimami orang-orang bersembahyang.  Ketika kaum Muslimin melihat kehadiran Nabi, mereka bergembira  luar biasa. Tetapi Nabi memberi isyarat supaya mereka meneruskan  salat. Abu Bakr merasa bahwa mereka berlaku demikian karena ada  Rasulullah. Abu Bakr surut dari tempatnya. Tetapi Nabi memberi  isyarat agar diteruskan. Lalu Rasulullah duduk di sebelah Abu Bakr,  salat sambil duduk.
Lepas salat Nabi kembali ke rumah Aisyah. Tetapi tak lama kemudian demamnya kambuh lagi. Ia minta dibawakan sebuah  bejana berisi air dingin. Diletakkannya tangannya ke dalam bejana itu  dan dengan begini ia mengusap air ke wajahnya. Tak lama kemudian ia telah  kembali kepada Zat Maha Tinggi, kembali ke sisi Allah.
Rasulullah telah meninggalkan dunia kita setelah Allah menyempurnakan agama ini bagi umat manusia, dan melengkapi kenikmatan hidup bagi mereka. Apa pulakah yang dilakukan orang-orang Arab  itu kemudian? Ia tidak meninggalkan seorang pengganti, juga tidak  membuat suatu sistem hukum negara yang terinci. Hendaklah  mereka  berusaha (berijtihad) sendiri. Setiap orang yang berijtihad  akan mendapat bagian.