Featured Video

Tips MENINGKATKAN KUALITAS IBADAH DAN HAKIKATNYA

J'art Kaligrafi Gallery Pengrajin kaligrafi kaligrafi unik,kaligrafi jarum,kaligrafi islam


(Padahal) mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam agama yang lurus , dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(QS. al Bayyinah:5)
Tujuan utama diciptakannya manusia semata-mata untuk ibadah kepada Allah swt. Kualitas penghambaannya didasarkan pada kualitas ibadahnya, semakin berkualitas ibadah seseorang maka semakin berkualitas pula status penghambaannya.
Oleh karena itu penting bagi kita semua sebagai seorang hamba untuk senantiasa meningkatkan kualitas ibadah yang kita punya. Tips kita pada kesempatan kali ini akan memberikan tips untuk meningkatkan ibadah, di antara yang harus di lakukan dalam peningkatan ibadah adalah sebagai berikut:
1.senantiasa merasa bahwa diri ini penuh diliputi dengan dosa dan noda. Dalam hidup ini kita sering kali terjebak ke dalam perbuatan dosa, entah dosa kecil maupun dosa besar. Dengan berpandangan seperti ini menjadkan diri ini semkin butuh terhadap ampunan dan pada titik akhirnya akan meningkatkan ibadah sebagai tambal sulamnya.
2.melihat orang lain dengan pandangan banyak amal, kalau kita melihat diri sendiri merasa mulya maka hasrat ibadah akan berkurang tetapi sebaliknya jika kita merasa lebih rendah kualitas ibadahnya maka dengan sendirinya akan ada peningkatan dalam ibadah kita
3.jangan menganggap ibadah yang kecil-kecil itu remeh. Anggapan adanya ibadah yang remeh menyebabkan kita meninggalkan banyak jenis ibadah ketikan kita tidak bisa melakukan ibadah yang dianggap besar, tidak hanya itu menganggap sebagian bentuk ibadah kecil dan remeh akan menyebabkan kita menyepelekan orang lain
yang melakukan ibadah tersebut
4.belajar ilmu agama lebih banyak lagi. Semakin tahu tentang kedalaman makna ibadah kepada Allah maka semakin giat pula bagi kita dalam meningkatkan kualitas ibadah. Itulah sebabnya orang yang berilmu akan lebih utama ketimbang orang ahli ibadah. Nah, kalau dua-duanya kita gabungkan yaitu sebagai ahli ilmu dan ahli ibadah tentu akan sangat mulya sekali.
5.sering-seringlah bertadabbur untuk mencari ilham dari Allah, fungsi tadabbur tidak lain adalah menundukkan hati kita ini agar semakin ‘tahu diri’ betapa rendah dan hinanya diri ini.
6.satu lagi, barangkali ini juga perlu.. jangan terlalu banyak tertawa, karena tertawa akan semakin membuat hati kita mejadi keras..kalau hati ini keras maka apapun yang diaktakan oleh agama dengan sendirinya tidak dapat menyentuh nurani kita terdalam.
Hakikat
Ibadah puasa merupakan sarana latihan untuk pengembangan diri. Ulama besar dunia, Yusuf al-Qaradhawi, dalam bukunya Fiqh al-Shiyam, memandang puasa Ramadhan sebagai lembaga pendidikan par-excellent (madrasah mutamayyizah) yang dibuka oleh Allah SWT setiap tahun.
Siapa yang mendaftar dan mengikuti “perkuliahan” dengan baik sesuai petunjuk Islam, ia akan lulus ujian dengan predikat “sukses besar”. Karena, tak ada keuntungan yang lebih besar ketimbang meraih ampunan Allah dan bebas dari siksa neraka.
Di antara hikmah paling penting ibadah puasa, kata al-Qaradhawi, adalah pencucian atau peningkatan kualitas diri (tazkiyyat al-nafs). Puasa diharapkan dapat meninggikan kualitas jiwa dan mentalitas manusia sehingga ia menjadi manusia yang benar-benar tunduk dan menghambakan diri hanya kepada Allah SWT. Inilah potret manusia bertakwa yang ingin dicapai melalui ibadah puasa.
Dalam pemikiran Islam, jiwa atau mental (al-nafs) memiliki empat tingkatan mulai dari yang paling rendah hingga paling tinggi. Pertama, mental tumbuh-tumbuhan (nafs al-nabat). Wilayah kerja (domain) mental tumbuh-tumbuhan adalah makan dan minum. Manusia dengan mental ini tentu tidak dapat menjalankan ibadah puasa.
Kedua, jiwa binatang (nafs al-hayawan). Domain jiwa binatang adalah gerak, harakah (motion), memangsa, dan seksualitas. Jiwa binatang tidak mengenal rambu-rambu hukum. Yang kuat memangsa dan menerkam yang lemah. Inilah yang dinamakan hukum rimba. Manusia dengan mental ini juga tak dapat melaksanakan ibadah puasa.
Ketiga, jiwa manusia (nafs al-insan). Domain jiwa manusia adalah berpikir dan berprestasi. Jiwa ini jauh lebih tinggi dari dua jiwa terdahulu. Tapi, bukan tanpa kelemahan. Dalam berpikir dan mencapai prestasi, jiwa manusia sering diliputi penyakit sombong (kibr), serakah (al-thama’), serta dengki (al-hasad), dan iri hati (al-hiqd wa al-hasad).
Keempat, jiwa atau mental malaikat (nafs al-malakut). Domain mental ini adalah kebenaran dan kepatuhan yang tinggi kepada Allah SWT tanpa reserve. “Penjaganya ialah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim [66]: 6).
Mental malakut, seperti dipaparkan di atas, merupakan mental yang paling tinggi. Ibadah puasa sesungguhnya dimaksudkan agar manusia memiliki semangat dan jiwa malakut ini.
Ini tidak bermakna bahwa manusia harus bertransformasi (merubah bentuknya) menjadi malaikat. Tidak. Tapi, transformasi dalam arti peningkatan kualitas diri dengan semangat kebenaran (tahaqquq) dan pengabdian (ta’abbud) yang tinggi kepada Allah SWT. Wallahu a’lam.
Sumber: Kolom hikmah Republika – 24 Agustus 2010

ARTIKEL TERKAIT:

1 komentar:

Terima kasih sharenya ,,, Semoga bermanfaat bagi orang banyak

Poskan Komentar