Featured Video

Hari Asyura

J'art Kaligrafi Gallery Pengrajin kaligrafi kaligrafi unik,kaligrafi jarum,kaligrafi islam

Hari Asura atau sering kita kenal dengan hari Asyura (Bhs. Arab), adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram. Dalam Islam hari Asura dipandang sebagai hari yang mempunyai keutamaan karena pada hari tersebut Allah SWT telah menentukan banyak peristiwa yang terjadi dimuka bumi yang menyangkut pengembangan agama tauhid.

Dalam sebuah asar (hadis) yang dicatat al- Ghazali dalam bukunya Mukasyafah al- Qulub al- Muqarrib min ‘Allam al- Guyub (Pembuka Hati yang Mendekatkan dari Alam Ghaib) disebutkan bahwa pada hari Asura Tuhan menciptakan arasy, langit, bumi, matahari, bulan, bintang- bintang dan surga. Nabi Adam AS diciptakan, bertobat dan dimasukkan kedalam surga pada hari itu pula. Pada hari Asura nabi Idris AS diangkat ketempat yang tinggi, dan pada hari itu pula perahu nabi Nuh AS merapat di bukit Judi. Nabi Ibrahim dilahirkan pada hari Asura dan di hari itu pula beliau diselamatkan dari api unggun. Pada hari Asura pula mata nabi Ya’kub disembuhkan kembali serta peristiwa dikeluarkannya nabi Yusuf AS dari kurungan. Nabi Musa AS bersama pengikutnya mencapai keselamatan juga pada hari Asura, dan di lain pihak Fir’aun beserta pengikutnya justru dihanyutkan dalam gelombang air laut. Peristiwa terselamatkannya nabi Musa AS beserta pengikutnya atas Fir’aun dan pasukannya memberikan hikmah kepada kita semua arti kemenangan yaitu kemenangan yang hak dan hancurnya kebatilan.

Pada momentum peristiwa ini sekaligus mengingatkan kita semua bahwa betapapun manusia menyatakan dirinya berkuasa di dunia ini, akan ada saat nantinya muncul tangan- tangan lain yang merenggutkan kekuasaan tersebut. Nabi Musa dalam hal ini merupakan representasi dari Nabi pejuang yang berani menentang tirani kekuasaan Fir’aun yang mengaku dirinya sebagai Tuhan. Tidaklah mengherankan bilamana Al- Qur’an mencantumkan kisah Nabi Musa ini berulang- ulang kali, dan tercatat merupakan Nabi Allah yang paling banyak namanya tertera dalam Al- Qur’an. Tidak kurang dari 137 kali nama Musa diabadikan dalam Al- Qur’an dan Fir’aun sebanyak 75 kali, ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan beliau sepanjang sejarah kenabian. Pada hari Asura pula nabi Isa AS dilahirkan dan pada hari itu pula ia diangkat kelangit.

Keterangan- keterangan lain yang juga mendeskripsikan terjadinya beberapa peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada hari Asura dapat kita jumpai pada kitab “Laanatut- Thalibiin” karangan Sayid al- Bakry, bersandar pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam al- Baihaki dari Abu Hurairah. Akan tetapi pada keterangan- keterangan tentang keutamaan menjelaskan terjadinya peristiwa penting yang terjadi pada hari Asura itu menurut sebagian ulama tidak ada dasarnya, hal ini dikarenakan hadis yang menerangkannya masuk dalam kategori dlaif, hanya peristiwa ketika Allah melepaskan nabi Musa dari kejaran Fir’aun saja yang shahih keterangannya dikarenakan memang bersumber dari hadis Nabi SAW.



Tuntunan Hari Asura

Rasulullah SAW mengajurkan kita berpuasa pada hari Asura, mengingat keutamaan hari Asura karena dalam perspektif Islam hari tersebut dipandang sebagai salah satu hari yang memiliki banyak keutamaan. Hal ini bisa dilihat dari sabda Nabi SAW yang berbunyi: “Barang siapa yang melapangkan keluarga dan familinya pada hari Asura, niscaya Allah SWT melapangkannya sepanjang tahun itu” (HR. al- Baihaki). Dalam hadis- hadis yang lain juga diterangkan beberapa keutamaan berpuasa Asura, diantaranya:

1. Nabi SAW bersabda: “Puasa pada hari Asura menghapuskan dosa satu tahun lewat” (HR. Muslim dari Abu Qatabah).

2. Nabi SAW juga bersabda: “Sesungguhnya hari ini adalah hari Asura, tidak diwajibkan kamu melakukan puasa, tetapi saya berpuasa. Barang siapa ingin berpuasa, berpuasalah dan barang siapa tidak ingin berpuasa, hendaklah ia berbuka” (Muttafaq alaihi atau shahih menurut Bukhari dan Muslim).

3. Dalam hadis yang lain Rasulullah SAW juga mengatakan: “Sesungguhnya hari Asura adalah hari- hari (yang dimuliakan) Allah. Barang siapa yang suka berpuasa, berpuasalah” (Muttafaq alaihi).

Dalam sejarah orang-orang Yahudi –sebagian menyebut juga orang- orang Masehi- memperingati hari Asura dan mereka juga melaksanakan puasa. Itulah mengapa Rasulullah SAW memberi anjuran kepada kita untuk sehari sebelumnya yakni disebut dengan puasa “Tasua” (hari kesembilan bulan Muharram), tidak lain sebagai tanda bahwa kita lebih patut membesarkan nabi Musa sebagaimana hadis yang telah diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu Abbas dan juga sebagai pembeda puasa yang dilakukan kaum Muslimin dengan orang-orang Yahudi.


Asura, antara Tragedi Karbala dan Tabut

Disamping keutamaan- keutamaan tentang hari kesepuluh bulan Muharram, tercatat juga peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi pada hari Asura, yaitu peristiwa terbunuhnya Husein bin Ali bin Abi Thalib cucu Rasulullah SAW dari putrinya Fatimah az- Zahra, bersama pengikut dan keluarganya yang jumlahnya sekitar 70 orang disebuah padang yang gersang, kering dan panas; padang Karbala oleh pasukan Yazid bin Muawiyah, putra Muawiyah bin Abu Sufyan. Peristiwa ini membawa dampak yang sangat besar dalam sejarah perkembangan Islam. Disatu sisi, hati umat Islam tersayat- sayat ketika keturunan Nabi SAW dibantai padang Karbala dalam perjuangannya membela rakyatnya yang tertindas oleh pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Ibnu Sa’ad atas perintah dari Yazid bin Muawiyah. Husayn datang atas permintaan golongan Syiah Irak yang ingin mengangkatnya menjadi khalifah. Penduduk Irak (Kufah) berjanji akan membela dan melindunginya. Namun pada kenyataanya penduduk Kufah ini pula yang pertama kali membelot, sehingga pasukan Yazid berhasil menaklukkan Husayn dan pengikutnya. Sejatinya Husayn datang ke Kufah untuk melepaskan penduduk Kufah dari kekejaman Khalifah Yazid bin Muawiyah. Dalam peristiwa ini penduduk Kufah hanya menonton dan berpangku tangan tanpa tindakan pembelaan terhadap Husayn dan pengikutnya.

Peristiwa Tragedi Karbala ini menjadi catatan sejarah kelam dalam sejarah pemerintahan Islam, betapa kekuasaan membuat hilangnya hati nurani manusia. Berikut percakapan yang terjadi antara antara al- Hurr dengan Jenderal Ibn Sa’ad, jenderal yang membantai rombongan Husayn terlihat betapa rapuhnya nurani manusia ketika bicara atas nama kekuasaan; “Apakah akan kau bunuh mereka?” Ibn Sa’ad berkata, “ Demi Allah, akan kami bantai mereka , walaupun kepala- kepala harus berguguran dan tangan- tangan bertebaran”.

Al- Hurr merupakan komandan pasukan pertama yang ditugaskan Yazid yang berhasil mendesak rombongan Husein hingga berada di padang Karbala dengan misi mengembalikan Husayn ketempat asalnya. Tetapi pada saat yang bersamaan muncul rombongan pasukan yang lebih besar dipimpin oleh jenderal Ibn Sa’ad yang datang dengan misi bukan hanya melokalisasi gerakan Husayn tetapi juga diperintahkan membunuh mereka. Al- Hurr lebih memilih kematian dengan berpegang teguh atas keyakinan, daripada tuntutan kewajiban jabatan yang diembannya. Simaklah pengakuan yang ia ucapkan kepada Husayn: “Wahai putra Rasulullah, inilah orang yang telah mendholimi engkau. Inilah orang yang telah menggiringmu ketempat ini dan begitu banyak menyebabkan derita atas dirimu. Sudilah engkau memaafkan orang durhaka sepertiku. Demi Allah, aku tidak menduga orang- orang ini akan bergerak sampai menumpahkan darah keluarga Rasulullah SAW. Sekarang jalan damai telah tertutup. Aku tidak mau membeli neraka dengan kesenangan dunia, maafkanlah kesalahanku. Izinkan aku berkorban sebagai tebusan atas dosa- dosa yang telah aku lakukan padamu”. Ia (al- Hurr) pada akhirnya lebih memilih hati nuraninya dengan berjuang disisi Husayn dan menjadi syahid yang pertama di padang Karbala. Dan seperti kata Sa’ad pada saat itu banyak kepala- kepala berguguran, termasuk kepala – kepala rombongan Husein bin Ali bin Abi Thalib yang datang atas undangan masyarakat Kufah untuk memimpin reformasi. Pembunuhan atas diri Husayn dan keluarganya berlangsung tanpa belas kasihan. Seluruh keluarganya dibunuh, termasuk istrinya Syahar Banu, putri Yazdajird III (raja terakhir Dinasti Sasanid, memerintah tahun 632- 651). Dalam peristiwa naas di padang Karbala ini, Syammar bin Ziljauzan salah seorang tentara Bani Umayyah memenggal kepala Husayn, dalam peristiwa ini hanya Ali bin Husayn Zainal Abidin, putra Husayn yang masih kanak- kanak yang masih hidup.

Pada sisi yang lain, rasa kagum atas perjuangan yang dilakukan oleh Husein, memperjuangkan rakyatnya yang tertindas oleh kekuasaan yang dhalim, rasa kekaguman terutama sangat nampak pada kalangan Alawiyyin dan simpatisannya. Pada akhirnya kekaguman dan keharuan itu memotivasi mereka untuk memperingatinya sebagai hari yang mulia, sebagaimana hari tersebut juga dimuliakan oleh Allah SWT dan rasulNya.

Menurut pandangan Syiah dalam peristiwa yang dikenal dengan “Tragedi Karbala” ini Husayn menjadi syahid dan Karbala menjadi tempat suci. Peristiwa 10 Muharram 61 ini dikenal dengan nama Asura, yang berlanjut dengan lahirnya bulan Suro di Jawa. Di Indonesia hal ini diperingati dengan membuat bubur Hasan- Husayn dari beras kedelai dan bumbu palawija, terutama pala (kluwek). Di Sumatra Barat, hal itu diperingati dengan perayaan “Tabuik”.

Pada mulanya perayaan memperingati hari asura tersebut berjalan sederhana, yaitu dengan berziarah, berkunjung pada tempat dimana peristiwa itu terjadi. Namun dalam perjalanan sejarah perayaan tersebut berkembang sedemikian rupa, hingga pada saat sekarang dirayakan secara besar- besaran. Pada hari itu mereka memakai pakaian berkabung, meratap, meraung-raung dan menyesali orang- orang yang membantai Husein dengan mencela dan melaknat, seterusnya mereka melagukan syair- syair yang mengkultuskan Husein.

Melihat keutamaan hari Asura serta peristiwa terbunuhnya Husein pada hari tersebut, menimbulkan euforia yang berlebih-lebihan dikalangan muslimin maka tidak heran banyak sekali muncul hadis- hadis palsu seputar keutamaan pada hari Asura, diantaranya: “Bersedekah pada hari Asura dengan satu dirham nilainya sama dengan 70.000 dirham”. Dan amalan- amalan lainnya seperti mandi sunnat Asura, mengusap kepala anak yatim, membaca surat al- Ikhlas 1000 kali dan menziarahi orang-orang alim.

Di sebagian daerah di Indonesia peringatan hari Asura merupakan tradisi yang dilakukan secara turun- temurun. Tradisi ini dapat kita jumpai di daerah pantai Pulau Sumatra, yang biasanya dilakukan diawali dengan upacara besar-besaran dilanjutkan jamuan makan dan arak-arakan “tabut”, semacam peti jenazah sebagai perlambang musuh yang membunuh Husein telah mati terbunuh. Peti jenazah musuh itu lalu diarak sepanjang kota dengan diiringi nyanyian-nyanyian atau syair yang memuji Husayn: hayya Husayn, hayya Husayn, hayya Husayn!. Sebagai pertanda upacara peringatan tersebut telah usai peti yang disebut tabut (tabuik) selanjutnya dibuang kelaut.

Selama ini memang belum ada kajian, atau penelitian secara serius apakah perayaan tabut tersebut tumbuh dengan sendirinya sebagai produk kebudayaan daerah ataukah merupakan pengaruh dari ajaran Syiah. Terlepas dari itu semua ungkapan “hayya Husayn” bisa menjadi indikator bahwa acara tabut setidaknya mendapat pengaruh dari Syiah.
Wallahu a’lam bisshowab

ARTIKEL TERKAIT:

0 komentar:

Poskan Komentar