Featured Video

Makna dan Hakikat Rukun Iman

J'art Kaligrafi Gallery Pengrajin kaligrafi kaligrafi unik,kaligrafi jarum,kaligrafi islam

 Pengertian

1. Iman Kepada Allah Ta’ala

Iman kepada Allah adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah adalah Rabb dan Raja segala sesuatu, Dialah Yang Mencipta, Yang Memberi Rizki, Yang Menghidupkan, dan Yang Mematikan, hanya Dia yang berhak diibadahi. Kepasrahan, kerendahan diri, ketundukan, dan segala jenis ibadah tidak boleh diberikan kepada selain-Nya, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, keagungan, dan kemuliaan, serta Dia bersih dari segala cacat dan kekurangan.

2. Iman Kepada Para Malaikat-Nya

Iman kepada malaikat adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat, yang diciptakan dari cahaya. Mereka, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah, adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Adapun yang diperintahkan kepada mereka, mereka laksanakan. Mereka bertasbih siang dan malam tanpa berhenti. Mereka melaksanakan tugas masing-masing sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat mutawatir dari nash-nash Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Jadi, setiap gerakan di langit dan di bumi, berasal dari para malaikat yang ditugasi di sana, sebagai pelaksanaan perintah Allah Azza wa Jalla. Maka, wajib mengimani secara tafshil (terperinci), para malaikat yang namanya disebutkan oleh Allah, adapun yang belum disebutkan namanya, wajib mengimani mereka secara ijmal (global).

3. Iman Kepada Kitab-Kitab

Maksudnya adalah, meyakini dengan sebenarnya bahwa Allah memiliki kitab-kitab yang diturunkan-Nya kepada para nabi dan rasul-Nya, yang benar-benar merupakan Kalam (firman, ucapan)-Nya. Ia adalah cahaya dan petunjuk. Apa yang dikandungnya adalah benar. Tidak ada yang mengetahui jumlahnya selain Allah. Wajib beriman secara ijmal, kecuali yang telah disebutkan namanya oleh Allah, maka wajib baginya mengimaninya secara tafshil, yaitu Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an. Selain wajib mengimani bahwa Al-Qur’an diturunkan dari sisi Allah, wajib pula mengimani bahwa Allah telah mengucapkannya sebagaimana Dia telah mengucapkan seluruh kitab lain yang diturunkan. Wajib pula melaksanakan berbagai perintah dan kewajiban serta menjauhi berbagai larangan yang terdapat di dalamnya. Al-Qur’an merupakan tolok ukur kebenaran kitab-kitab terdahulu. Hanya Al-Qur’anlah yang dijaga oleh Allah dari pergantian dan perubahan. Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang diturunkan, dan bukan makhluk, yang berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

4. Iman Kepada Rasul-rasul

Iman kepada rasul-rasul adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah telah mengutus para rasul untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Kebijaksanaan-Nya telah menetapkan bahwa Dia mengutus para rasul itu kepada manusia untuk memberi kabar gembira dan ancaman kepada mereka. Maka, wajib beriman kepada semua rasul secara ijmal sebagaimana wajib pula beriman secara tafshil kepada siapa di antara mereka yang disebut namanya oleh Allah, yaitu 25 diantara mereka yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Wajib pula beriman bahwa Allah telah mengutus rasul-rasul dan nabi-nabi selain mereka, yang jumlahnya tidak diketahui oleh selain Allah, dan tidak ada yang mengetahui nama-nama mereka selain Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Wajib pula beriman bahwa Muhammad shalalallahu alaihi wa salam adalah yang paling mulia dan penutup para nabi dan rasul, risalahnya meliputi bangsa jin dan manusia, serta tidak ada nabi setelahnya.

5. Iman Kepada Kebangkitan Setelah Mati

Iman kepada kebangkitan setelah mati adalah keyakinan yang kuat tentang adanya negeri akhirat. Di negeri itu Allah akan membalas kebaikan orang-orang yang berbuat baik dan kejahatan orang-orang yang berbuat jahat. Allah mengampuni dosa apapun selain syirik, jika Dia menghendaki. Pengertian alba’ts (kebangkitan) menurut syar’i adalah dipulihkannya badan dan dimasukkannya kembali nyawa ke dalamnya, sehingga manusia keluar dari kubur seperti belalang-belalang yang bertebaran dalam keadaan hidup dan bersegera mendatangi penyeru. Kita memohon ampunan dan kesejahteraan kepada Allah, baik di dunia maupun di akhirat.

6. Iman Kepada Takdir Yang Baik Maupun Yang Buruk Dari Allah Ta’ala.

Iman kepada takdir adalah meyakini secara sungguh-sungguh bahwa segala kebaikan dan keburukan itu terjadi karena takdir Allah. Allah ta’ala telah mengetahui kadar dan waktu terjadinya segala sesuatu sejak zaman azali, sebelum menciptakan dan mengadakannya dengan kekuasaan dan kehendak-Nya, sesuai dengan apa yang telah diketahui-Nya itu. Allah telah menulisnya pula di dalam Lauh Mahfuzh sebelum menciptakannya.

Banyak sekali dalil mengenai keenam rukun Iman ini, baik dari segi Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Diantaranya adalah firman Allah Ta’ala:

”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur
dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah
beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, dan
nabi-nabi…”
(Al-Baqarah:177)
”Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu
menurut qadar (ukuran).”
(Al-Qomar: 49)

Juga sabda Nabi shalallahu alaihi wa salam dalam hadits Jibril:
”Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasulNya, dan hari akhir. Dan engkau beriman kepada takdir Allah, yang baik maupun yang buruk.” (HR Muslim)

Sumber:
Syarh Al-’Aqidah Al-Wasithiyah li Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthaniy, Pustaka
Attibyan.

Hakikat Rukun Iman

1.Pengertian Rukun Iman

1.1 Definisi: Aqidah

Kata "‘aqidah" diambil dari kata dasar "al-‘aqdu" yaitu ar-rabth(ikatan), al-Ibraam (pengesahan), al-ihkam(penguatan), at-tawatstsuq(menjadi kokoh, kuat), asy-syaddu biquwwah(pengikatan dengan kuat), at-tamaasuk(pengokohan) dan al-itsbaatu(penetapan). Di antaranya juga mempunyai arti al-yaqiin(keyakinan) dan al-jazmu(penetapan).
"Al-‘Aqdu" (ikatan) lawan kata dari al-hallu(penguraian, pelepasan). Dan kata tersebut diambil dari kata kerja: " ‘Aqadahu" "Ya'qiduhu" (mengikatnya), " ‘Aqdan" (ikatan sumpah), dan " ‘Uqdatun Nikah" (ikatan menikah). Allah Ta'ala berfirman, "Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja ..." (Al-Maa-idah : 89).
Aqidah artinya ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan. Sedang pengertian aqidah dalam agama maksudnya adalah berkaitan dengan keyakinan bukan perbuatan. Seperti aqidah dengan adanya Allah dan diutusnya pada Rasul. Bentuk jamak dari aqidah adalah aqa-id. (Lihat kamus bahasa: Lisaanul ‘Arab, al-Qaamuusul Muhiith dan al-Mu'jamul Wasiith: (bab: ‘Aqada).
Jadi kesimpulannya, apa yang telah menjadi ketetapan hati seorang secara pasti adalah aqidah; baik itu benar ataupun salah.
Dari Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari   dari buku Aqidah Islamiyah terbitan indonesia



1.2 Definisi Iman
Dalam menjelaskan definisi akidah ada disebut perkataan kepercayaan atau keimanan. Ini disebabkan Iman merupakan unsur utama kepada akidah. Iman ialah perkataan Arab yang bererti percaya yang merangkumi ikrar (pengakuan) dengan lidah, membenarkan dengan hati dan mempraktikkan dengan perbuatan. Ini adalah berdasarkan sebuah hadis yang bermaksud :  "Iman itu ialah mengaku dengan lidah, membenarkan di dalam hati dan beramal dengan anggota".
(al-Hadis)
Walaupun iman itu merupakan peranan hati yang tidak diketahui oleh orang lain selain dari dirinya sendiri dan Allah swt namun dapat diketahui oleh orang melalui bukti-bukti amalan. Iman tidak pernah berkompromi atau bersekongkol dengan kejahatan dan maksiat. Sebaliknya iman yang mantap di dada merupakan pendorong ke arah kerja-kerja yang sesuai dan secucuk dengan kehendak dan tuntutan iman itu sendiri.

Iman dengan makna tasdiq juga dinamakan akidah di mana rahsianya tidak diketahui sesiapa melainkan orang berkenaan dan Allah swt. Namun demikian manusia mempunyai sifat-sifat lahiriah yang dapat dilihat melalui tingkah laku manusia sama ada melalui percakapan atau perbuatan. Inilah yang menjadi ukuran keimanan seseorang. Adapun segala yang tersirat di dalam hatinya terserah kepada Allah swt. Iman yang melahirkan penyerahan diri kepada Allah itu juga disebut sebagai Islam. Ini bermaksud seseorang yang beriman hendaklah menyerah diri kepada Allah swt dengan menerima segala hukum dan syariat yang diturunkan Ilahi. Penyerahan dan penerimaan ini berlaku dengan dua perkara iaitu
(i) dengan kepercayaan dan pegangan hati yang dinamakan Iman (akidah) dan
(ii) melalui sifat-sifat lahiriah iaitu melalui perkataan dan perbuatan (amalan) dinamakan Islam. Nabi Muhammad saw telah juga menunjukkan penggunaan kalimah Iman dalam pengertian amal sebagaimana sabdanya yang bermaksud : "Iman terbahagi lebih enam puluh bahagian, yang paling tinggi ialah mengucap kalimah "Lailahaillallah" dan yang paling rendah ialah membunag benda-benda yang boleh menyakitkan orang di jalan".
(Riwayat Muslim)
Oleh yang demikian jelas di sini Iman dan Islam mempunyai hubungan yang rapat dan tidak mungkin dipisahkan. Islam umpama pohon sementara Iman umpama akar sesepohon kayu. Kesuburan dan kekuatan akar pokok tersebut dapat dilihat dengan kesuburan pokok pada daun, ranting dan dahannya. Dalam menjelaskan tentang hubungan Iman dan Islam ini kita petik sebuah hadis sabda Nabi saw kepada rombongan Abdul Qias yang bermaksud:
"Aku menyuruh kamu beriman kepada Allah swt yang Maha Esa. Apakah kamu mengerti apa dia yang dikatakan beriman kepada Allah swt yang Maha Esa ". Iaitu penyaksian bahawa tiada tuhan yang disembah melainkan Allah swt yang Maha Esa, tiada sekutu baginya, mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat dan menunaikan satu perlima daripada harta rampasan perang".
(Muttafaqun "alaih)
Hadis di atas menjelaskan betapa adanya hubungan yang erat di antara iman dan Islam di mana Islam itu menjadi salah satu daripada perinsip Iman dan Iman pula dilahirkan melalui Islam secara amali, dengan iqrar syahadah dan melaksanakan hukum syariat dalam segala amalan. Sekiranya berlaku iqrar syahadah dan menunaikan fardhu sedangkan hatinya tidak yakin atau tidak percaya serta ragu-ragu terhadap hukum hakam Allah swt maka seseorang itu dihukum tidak beriman walaupun masih dinamakan Islam sebagaimana yang berlaku kepada sesetengah orang-orang Badwi di zaman Rasulullah saw.



1.    Mukadimah:

Rukun Iman ertinya kepercayaan dalam diri. Iman ertinya membenarkan Allah dan membenarkan Nabi Muhammad s.a.w , malaikat-malaikat, kitab kitab, hari kiamat dan juga qadha’ dan qadharNya. Ia merangkumi semua aspek kepercayaan dan kenyakinan adalah mu’min dan mu’minah. Kenyakinan itu adalah penting untuk menanamkan dalam jiwa, bukan sahaja dalam jiwa tapi juga dalam mengenali marifatullah. Bukan senang, untuk kita menjadi mukminin sejati, seperti adanya sabda Allah. Kenali dirimu kemudian kenali Allah.  Ini membawa kita dalam berfikiran lebih mendalam untuk mendekati Allah dan percaya setiap apa yang disampaikan oleh Rasulullaah s.a.w adalah benar. Allah kulli hal. Wallahualam.

Iman dan Islam tidak dapat dipisah, termasuk juga ehsan. Ini menjelaskan banyak perkara yang menjadikan kita berpegang teguh pada ajaran Islam. Islam ertinya tunduk dan patuh untuk menuruti segala yang disampaikan oleh Nabi Muhammad s.a.w dan setiap orang Islam haruslah patuh dengan apa yang dikerjakan dan mengakui Tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah pesuruhnya. Bagi orang yang ingkar kebenaran agama Islam adalah termasuk orang yang kufur. Kufur bererti mengingkari kebenaran agama Islam dan tidak mengaku kebenaran Allah dan segala ajaran Rasulullaah s.a.w.


2.1 Ada tiga perkara orang orang yang kufur dari petikan buku  Pedoman Ilmu Tauhid tulisan Ustaz Haji Osman Jantan ialah :-
  1. Riddah : ertinya terkeluar dari Islam. Orang yang terkeluar dari Islam ini dinamakan murtad. Apabila seseorang itu telah mengucapkan dua kalimah syahadah atau sesorang yang sudah beragama Islam, kemudian dilakukannya pula sesuatu yang menyebabkan  kekafirannya, maka ia dikirakan telah terkeluar dari Islam.
  2. Nifak ertinya lahirnya saja kelihatan ia Islam tetapi batinnya dan jiwanya tidak beriman.
  3. Syirik: ertinya percaya Tuhan lebih dari satu, atau perbuatan mensekutukan Allah dengan perkara yang lain.

2.2 Dalam memperkatakan hukum terbagi pada tiga macam hukum dalam kepercayaan dan memperaktikan ajaran Islam iatu.
  1. Hukum Syara’ ( syariah)
  2. Hukum Akal ( Aqli )
  3. Hukum Adat ( Adi )



Dalam hukum syara’ adalah termasuk dalam hukum Islam dan hukum akal adalah termasuk hukum iman yang perlu kita tahu terbagi kepada tiga bahagian iatu 1. wajib 2. mustahil 3. Jaiz ( harus). Ketetapan dalam pengertian hukum akal adalah ketetapan atau keputusan yang dibuat oleh akal dengan jalan pemikiran.


Saya teringat kata Prof Dr Che’ Amnah seorang pensyarah dari U.I.A dalam subjek Aqidah yang saya ikuti salah satu modul kefahaman Aqidah mengatakan : Iqra’ bukan hanya baca tetapi menganalisa atau mengkaji, mencari ilmu, mendalami ilmu, memperaktikan ilmu dan juga kefahaman dalam jiwa kita. Dia pernah membuat diskusi terperinci dimana kefahaman adalah penting dalam mengenali Allah bukan hanya dengan nama nama dan sifat Allah sahaja tapi dalam mengenali hukum hukum syara’. Akal dan juga Aqli. Dalam kefahaman mengenali Allah jangan kurang dari 100% biarlah lebih dari itu.


Begitu juga Prof Dr Muhammad Solihin mengatakan  kefahaman aqidah merupakan satu tanaman dan akar umbi dalam jiwa kita merangkumi dan memperaktikan dalam diri. Gunakan dan penyampaian aqidah menetapkan sesuatu yang lebih jelas untuk menyakinkan bahawa Allah itu Ada dan Maha Melihat. Dalam kehidupan yang sekian adanya kita lihat dari mata dan adanya tidak kelihatan, kita mula berfikir, siapa yang membuatnya kalau tidak ada yang lebih berkuasa dari segala galanya, iatu Allah subhanaallah ta’ala. Yakin adalah satu yang wajib dalam diri kita. Jangan ada curiga dalam sesuatu hal dan berperasangka baiklah dengan Allah.


3.Pengertian Keimanan atau Aqidah:

Pengertian keimanan tersusun enam perkara iatu
1)      Percayaan kepada Allah, percaya dengan nama-namanya yang mulia dan sifat-sifatNya yang tinggi lagi mulia juga pada keagungannya.
2)      Percaya pada malaikat, adanya malaikat sebagai tugas kepadaNya untuk manusia. Setiap tugas malaikat itu adalah kepentingan kepercayaan yang mereka ada disekeliling kita, walaupun kita tidak dapat dalam mata kasar.
3)      Percaya dengan kitab kitabNya yang diturunkan olehNya pada para rasul. Kepentingannya ialah dijadikan sebagai batas untuk mengetahui antara yang hak dengan yang batil, yang baik dan yang jelek, yang halal dan juga yang haram, yang bagus dan juga yang buruk.
4)      Percaya dengan nabi-nabi serta rasul-rasulNya yang dipilih olehNya untuk menjadikan pembimbing kearah petunjuk serta pemimpin seluruh umat.
5)      Percaya dengan hari kiamat yang terjadi di saat itu kebangkitan darikubur (hidup sesudah mati) memperoleh balasan, pahala atau siksa, syurga atau juga neraka.
6)      Percaya kepada takdir ( qadha dan qadar) yang di atas landasannya itulah berjalan peraturan segala yang ada di alam semesta ini, aik dalam penciptaan atau cara mengaturnya.
Pengertian aqidah ini sebagai wasiat dalam kepercayaan yang harus dipupuk didalam jiwa dan apa juga keadaannya, bahawasanya  Allah itu wujud, malaikat itu juga ada, kitab kitab Allah sebagai panduan, Nabi-nabi dan Rasul-rasul sebagai pembimbing umat, kiamat itu ada dan akan berlaku bila tiba waktunya dan akhir sekali qadha dan qadar segala musibah buruk dan baiknya Allah berikan, diterima dengan redha.

Seperti dalam surah Asy-syura:13:

“ Allah telah mensyariatkan agama untukmu semua iatu yang diwasiatkan kepada Nuh yang Kami wahyukan padamu, juga yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, Hendaklah kamu semua menegakkan agama itu dan jangan berselisih di dalam melaksanakanNya”

Jelaslah dari ayat di atas bahawa yang disyariatkan oleh Allah ta’alah kepada kita itu adalah sebagaimana yang pernah diwasiatkan kepada Rasul-rasulnya yang dahulu-dahulu, yakni agama yang merupakan pokok-pokok aqidah dan tiang-tiang atau rukun rukun keimanan. Jadi bukannya cabang-cabangnya agama atau syariat-syariatnya yang berupa amalan. Sebabnya ialah kerana setiap ummat itu tentu memiliki syariat-syariat amaliah yang sesuai dengan keadaan mereka sendiri, hal –ehwal serta jalan fikiran serta kerohanian mereka itu pula.

Hal ini terang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala dalam surah Al maidah:48
“ Untuk masing-masing dari kamu semua itu Kami buatkan aturan dan jalan ( yang harus ditempuhnya)”
dari rujukan buku Akidah Islam: Pola Hidup Manusia Beriman tulisan Sayid Sabiq mukasurat 8 & 9.



4.Faedah yang akan diperoleh orang yang menguasai Aqidah Islamiyah adalah:
4.1 Membebaskan dirinya dari ubudiyah / penghambaan kepada selain Allah, baik bentuknya kekuasaan, harta,
pimpinan maupun lainnya.

4.2 Membentuk pribadi yang seimbang yaitu selalu kepada Allah baik dalam keadaan suka maupun duka.

4.3. Dia merasa aman dari berbagai macam rasa takut dan cemas. Takut kepada kurang rizki, terhadap jiwa, harta,
keluarga, jin dan seluruh manusia termasuk takut mati. Sehingga dia penuh tawakkal
kepada Allah.
4.4. Aqidah memberikan kekuatan
kepada jiwa , sekokoh gunung. Dia hanya berharap kepada Allah dan ridho terhadap
segala ketentuan Allah.

4.5. Aqidah Islamiyah adalah
asas persaudaraan / ukhuwah dan persamaan. Tidak beda antara miskin dan kaya,
antara pinter dan bodoh, antar pejabat dan rakyat jelata, antara kulit putih
dan hitam dan antara Arab dan bukan, kecuali takwanya disisi Allah SWT.
Oleh: Ust. Farid Achmad Okbah dari buku Aqidah Islamiyah terbitan Indonesia

5. Penjelasan:

Orang Muslim beriman bahwa Allah Ta'ala menyukai amal perbuatan yang paling shalih, dan paling baik. Dia mencintai hamba-hamba-Nya yang shalilh dan menyuruh mereka mendekat kepada-Nya, mencari kecintaan kepada-Nya, dan mencari perantaraan kepada-Nya.
Oleh karena itu, orang Muslim bertaqarrub (mendekat) kepada Allah Ta'ala dengan amal perbuatan yang shalih, dan perkataan-perkatan yang baik. Ia meminta kepada Allah Ta'ala dan mendekat kepada-Nya dengan Asmaul Husna-Nya, sifat-sifat-Nya yang maha tinggi, beriman kepada-Nya dan Rasul-Nya, mencintai-Nya dan mencintai Rasul-Nya, mencintai orang-orang shalih, dan mencintai seluruh kaum mukminin. Ia mendekat kepada Allah Ta'ala dengan ibadah-ibadah seperti shalat, zakat, puasa, haji dan ibadah-ibadah sunnah. Ia juga mendekat kepada Allah Ta'ala dengan meninggalkan hal-hal haram, dan menjauhi larangan-larangan.
Ia tidak meminta kepada Allah Ta'ala dengan kedudukan salah seorang dari manusia, atau dengan amal perbuatan salah seorang dari hamba-hamba-Nya. Karena kedudukan seseorang itu bukan karena usahanya, dan amal perbuatan seseorang itu bukan berasal dari amal perbuatannya, sehingga ia harus meminta kepada Allah Ta'ala dengannya, atau mempersembahkan perantaraan di depan-Nya dengannya.
Allah Ta'ala tidak menyuruh hamba-hamba-Nya bertaqarrub (mendekat) kepada-Nya dengan selain amal perbuatan mereka, dan selain kebersihan ruhani mereka, namun dengan iman, dan amal shalih, karena dalil-dalil wahyu.
Dalam mempertingkatkan diri kita pada kepercayaan, kita juga boleh menjauhi syirik dan sikap takabur juga riak. Kerana  kita nyakin, tiada yang berkuasa melainNya. Dan kita nyakin bahawasanya apa yang kita miliki adalah pinjaman semata mata.

Pembentukkan kepercayaan adalah bermula pada diri kita sendiri. Pengertian mengenali diri, kemudian ketuhanan dan seterusnya. Dalam penjelasan aqidah iatu rukun islam merupakan satu kemestian dalam kehidupan kita. Banyak yang perlu kita cari, tidak semestinya dengan fahaman enam perkara tapi setiap kepercayaan dari pertama iatu kepercaya adanya tuhan aitu Allah ta’ala adalah kemestian. Dia yang menjadikan Alam, oxygen, dan segala apa yang ada dilangit dan dimuka bumi. Setiap apa yang tersembunyi dan kelihatan. Itu adalah satu kajian dan penyelidikan yang harus kita fahami dan mencari. Begitu juga para malaikat. Bukan sahaja berapa jumlah yang ada, tapi tugasan mereka dan juga setiap  apa yang mereka lakukan termasuk kenapa Allah jadikan malaikat untuk manusia. Itu juga harus difahami. Seperti firman Allah:

"Miraj yang dilalui oleh malaikat-malaikat dan Jibril ke pusat pemerintahanNya (menerima dan menyempurkan tugas) pada satu hari tempohnya lima puluh ribu tahun".
(al-Ma"rij : 4)

Dan firman Allah lagi:
"Segala puji bagi Allah swt yang menciptakan langit dan bumi, yang menjadikan maalaikat utusan-utusan yang brsayap dua, tiga dan empat". (al-Fath : 1)

 Para Rasul-Rasul Allah. Tujuan Allah tugaskan mereka untuk apa? Kenapa mesti sampaikan kepada umat umatnya dan sebagainya. Kerana setiap manusia perlu ada pembimbing dan guru kalau tanpa mereka, ilmu itu tidak dapat disampaikan. Begitu juga dengan setiap kalamuallah. Kepercayaan kita kepada kitab kitab, pada zaman Rasulullah s.a.w mereka ( orang jahiliah) pada zaman itu mengakui, Al Quran itu bukan dari penulisan Manusia, ia datangnya dari Kalamuallah iatu kalam Allah. Satu lagi contoh yang paling kuat adalah datangnya dari sikap dan akhlaq Rasulullaah s.a.w yang jujur. Kemudian kejadian hari kiamat dan hari pembalasan juga jelas adanya hari kesudahannya dimana kita akan dikumpulkan di Yaumil Masyar dalam penghitungan. Akhir sekali tentang Qadha dan Qadhar Allah. Allah menduga bukan sahaja orang orang yang beriman kepadaNya juga termasuk yang kafir. Allah mahu melihat kepada siapa kita kembali pada saat kebutuhan. Dan Allah juga menciptakan kesabaran pada hamba hambaNya. Samada kita patuh atau tidak. Semua itu ada penjelasannya. Allah sentiasa nantikan jawapan hamba hambanya.

Begitu juga pengalaman saya dalam perbincangan dengan non-believer mereka menjelaskan tentang keesaan ketuhanan mereka dan juga menjelaskan berapa perkara yang sebenarnya mereka sendiri keliru. Bila saya bertanya siapa bapa kepada Isa a.s dan siapa bapa kepada bapanya itu, mereka tidak dapat menjawapnya. Kemudian saya teringat akan firman Allah dalam surah Al ikhlas berbunyi begini:
"Katakanlah (wahai Muhammad) Dialah Allah swt yang Maha Esa. Allah swt tempat meminta (tumpuan). Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatupun yang menyerupaiNya".
(al-Ikhlas : 1-4)
Saya membuat mereka berfikir tentang firman dan surah al ikhlas dan selang berapa minggu mereka ingin mengenali agama Islam di Darul Arqam. Disitulah bermulanya tegak aqidah mereka terhadap Allah dan terus memeluk agama Islam. Begitu juga pengalaman saya berkawan dengan free-thinker. Ujaran mereka seperti setiap apa yang berlaku sudah semulajadi. Tiba tiba terjadi hal yang luar dugaan pada saya. Dia tertumpah kopi diatas meja terus menyebut oh my god. Saya tersenyum, akhirnya anda menyebut God sedangkan anda tidak percaya adanya Allah. Wajahnya berubah, dan kini dia adalah seorang yang taat dalam agama Islam. Perubahan itu jelas terpancar diwajahnya bila dia menyelami ilmu Tauhid.
Kepentingan ilmu tauhid ini penting. Seperti tajuk yang saya pilih pengertian rukun islam mengenali allah ( marifatullah) dan sebagainya. Bukanlah sekadar itu sahaja, tapi banyak perkara dan untuk dijadikan contoh dari sejarah sejarah zaman tamadunnya dan kejatuhan tamadun islam. Pada zaman tamadunnya Islam banyak yang terletak dan kekuatan aqidah dalam diri masing masing dan kejatuhan tamadun pula berpunca pada aqidah yang bertukar kepada kekuasaan politik.
Kemenangan aqidah dalam jiwa kita adalah satu kemenang  berjihad menuju ke jalan Allah dengan bertawakal dan bertawaduk kepadaNya. Dia banyak memberi kita gambaran dalam Al Quran dan begitu Rasulullah s.a.w berfirman dalam hadis mengenali kepercayaan dan keimanan. Tiga perkara penting dalam kehidupan adalah
1.      Ehsan
2.      Iman
3.      Taqwa
Adanya ketiga tiga itu, cukup untuk kita melakukan setiap apa yang diperintah olehNya. Allah maha penyayang dan maha pengasihi. Ehsan adalah melakukan segala kebaikan dan saling sayang menyayangi yang menjadikan diri sebagai fitrah kehidupan yang perlu ada dalam diri kita. Sebenarnya adanya ehsan sudah terpancar didalam perut ibu lagi. Begitulah kita lahir dapat belaian dan kasih sayang dari situ kita mengenal erti keehsanan yang sepatutnya kita pupukkan dalam diri kita sendiri. Iman, iman seperti yang saya jelaskan di atas mengenal kepercayaan dan bukti bukti juga berapa contoh yang tertulis. Begitu juga dengan taqwa merangkumi semua aspek ibadah dan sebagainya. Satu lagi sedang aqidah yang ingin saya ketengahan pada mereka yang syirik menduakan Allah atau percaya pada sesuatu selain dari Allah. Meminta tolong pada bomoh dan jin untuk mendapat kemenangan dalam diri mereka adalah berdosa besar. Boleh termasuk dalam golongan orang yang dimungkari Allah.


Saranan:
Akidah Islam yang ada dalam hati umat Islam kini mungkin tidak begitu mantap menyebabkan mereka tidak dapat mencapai kegemilangan sebagaimana umat Islam di zaman Nabi saw dan para Sahabat. Umat Islam pada hari ini begitu rapuh akidahnya. Lantaran itu mereka amat mudah terpengaruh dengan berbagai-bagai unsur negatif. Kemunduran umat Islam kini kerana mereka semakin jauh dari menghayati Akidah Islam yang sebenar.
Ingin saya sarankan untuk kepentingan mempertingkatkan diri dalam keimanan, menyelami, mendalami, penyelidikan dan tambahkan ilmu dalam Ilmu Tauhid ini penting untuk semua golongan terutama golongan muda bermula dari bila pandai bertutur. Perlu memupukkan kepercayaan pada anak anak kecil sehinggalah golongan dewasa. Kepentingan ini wajib untuk membaiki diri dari semasa ke semasa.
Seperti firman Allah:
"Dia menciptakan beberapa langit tanpa tiang yang kamu lihat, dan Dia mengadakan gunung-ganang di muka bumi supaya jangan ia bergoyang-goyang bersama kamu dan Dia menyebarkan di muka bumi bermacam-macam haiwan. Kami turunkan air hujan dari langit lalu Kami tumbuhkan di muka bumi bermacam-macam tumbuhan yang baik".
(Luqman 31:10)
Dan firman Allah dalam kepentingan dalam Aqidah keimanan :
"Rasulullah telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan juga orang yang beriman, semuanya beriman kepada Allah swt, Malaikat-MalaikatNya, Kitab-KitabNya dan Rasul-RasulNya".
(al-Baqarah : 285)

Semoga kita mendapat manfaatkan untuk dunia dan akhirat dan tidak putus untuk kita diberikan hidayah dariNya. Terima kasih.



Rujukan:

Dari Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari   dari buku Aqidah Islamiyah terbitan indonesia
Farid Achmad Okbah dari buku Aqidah Islamiyah terbitan Indonesia
Ustaz Osman Jantan Ilmu Tauhid terbitan Singapura
rujukan buku Akidah Islam: Pola Hidup Manusia Beriman tulisan Sayid Sabiq
Dari tajuk perbincangan dalam kuliyyah Diploma in Islam pada tahun 2006-2007
·         Dr Che’amnah pensyarah dari UIA
·         Dr Mohammad Solihin dari UIA
Berapa rujukan dari pandangan sendiri dalam essei aqidah sewaktu pengambil Diploma in Islam bawah naungan UIA pada tahun 2006-2007
Rujukan juga Al Quran dan terjermahan.




Jazakallah Khair:
Salbiah Sirat
Dalam module Aqidah Islamiyah

ARTIKEL TERKAIT:

0 komentar:

Poskan Komentar